Presiden yang Manglingi

image

Petang. Kliwon berkali-kali duduk lalu berdiri lagi. Entah apa yang membuatnya bertingkah seperti itu. Beberapa tetangga yang melalui depan rumahnya hanya ia sambut dengan anggukan kepala dan sedikit senyum di bibirnya. Tanpa kata.

“Ada apa, Kang?” Yuk Nah duduk di sebelah suaminya. Kliwon masih diam, tak menjawab pertanyaan istrinya.

“Kalau diam saja bagaimana kita bisa Bantu. Mungkin Kang Kliwon sedang kangen masa lalu, misalnya, ingin makan nasi kucing.”

“Tidak. Bukan itu.”

Kliwon bercerita tentang kegelisahannya melihat situasi sosial di negeri ini. Puncaknya ketika terjadi konflik Angara Polri dan KPK, yang menurut Kliwon berlarut-larut, dan nenunjukkan ketidaktegasan Presiden dalam nenyikapi persoalan ini.

“Kan tak semudah membeli kopi,” kata Yuk Nah.

Kliwon menganggukkan kepala. Ia seakan menyetujui pemikiran istrinya. Mengurus negara, memecahkan konflik sosial, memang tak semudah membalikkan telapak tangan, tak semudah membeli kopi di warung angkringan seperti sering ia lakukan puluhan tahun lalu. Menurut Kliwon, kesulitan Presiden mengambil keputusan itu karena ia mulai tak memiliki sikap yang jelas, prinsip yang tegak dalam menghadapi setiap persoalan.

“Mungkin ia mulai nyaman. Seseorang yang sudah nyaman dalam kekuasaan, ketakutan paling tinggi dalam hidupnya kehilangan kekuasaan itu sendiri,” kata Kliwon.

“Bagaimana tahunya?”

Semua orang tahu, ketika Presiden masih menjadi Wali Kota Solo, ketika menjadi Gubernur DKI ia terlihat sangat berani, selorohnya menyenangkan. Gerakannya sangat menjanjikan untuk perubahan di negeri ini. Terutama untuk pemberantasan tindak korupsi. Sekarang, menurut Kliwon, Presiden tampak tak punya nyali. Ketika dia meneriakkan stop kriminalisasi, Wakapolri saja berani membantah secara langsung, tak ada kriminalisasi. Bahkan Wakil Presiden justru mempertanyakan soal apa itu kriminalisasi.

Ketika proses praperadilan kasus BG, Presiden justru menunggu hasilnya. Artinya ia sedang menyetujui proses itu. Meski para pakar hukum yang kritis, melihat praperadilan untuk penetapan tersangka tak bisa dibenarkan. Gugatan itu dimenangkan penggugat, dan dengan gugatan yang sama, Hakim di Banyumas menolak gugatan tersangka korupsi yang diduga merugikan negara senilai Rp. 50 juta.

“Itu perlawanan dari para bawahannya. Dan Presiden bilang, masa ngomong harus berulang-ulang. Ngomong berulang saja tak mesti dipatuhi, apalagi hanya ngomong sekali,” kata Kliwon.

“Terus maumu apa?”

“Saya tak menginginkan apa-apa. Saya hanya pangling kepada Presiden. Dan kasihan kepadanya, ia sudah direndahkan, ia tidak dianggap apa-apa.”

“Tapi kalau ia tak nerasa direndahkan kan tak masalah.”

“Semakin mengibakan,” kata Kliwon.

Kliwon berdiri dari duduknya. Ia melangkah meninggalkan istrinya yang masih duduk terdiam. Tak lagi dijawab pertanyaan istrinya, “mau ke mana, Kang?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: