Dokter Demo, Apa Salahnya?

Di gardu ronda Kliwon hanya mengumbar saat Pak She No mempertanyakan berita-berita mengenai rencana para dokter  melakukan demo besar-besaran besok hari (27/11). “Ini bisa kacau. Adik iparku bakal tidak dirawat besok pagi,” katanya sambil membenarkan sarung yang melorot di pundaknya.

Kliwon kini terbahak. Matanya mengerjap-ngerjap. Ia menepuk pundak Pak She No berulang kali. Membenarkan posisi duduknya, dan meletakkan lampu senter di sisi kirinya. Pak Dhe No beringsut mendekati Kliwon.

“Tenang saja. Para dokter itu orang pintar.”

“Pintar. Kalau semua dokter pergi demo.”

“Tidak mungkin. Saya kenal baik dengan banyak dokter,” kata Kliwon. Tak perlu heran kalau Kliwon banyak teman dari kalangan dokter.Bertahun-tahun ia menjadi relawan Perkumpulan yang bekerja dalam memperjuangkan hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi. Tak ada yang tahu kenapa bisa berlama-lama menjadi relawan. Mungkin Perkumpulan bingung memilih cara menghentikan status kerelawanannya.

“Aneh, dokter ko demo.”

“Ya tak ada anehnya. Mereka juga warga negara yang berhak mempertanyakan kebijakan hukum yang dianggap merugikan.”

“Apa lagi mereka merasa benar dalam melakukan praktik melayani pasiennya. Organisasi para dokter juga mengatakan begitu,” lanjut Kliwon.

Suara Kliwon terdengar lintang dan meyakinkan. Bahkan ia seperti bagian dari para dokter yang terusik hak privasinya dalam menangani para pasiennya. Pak Dhe No beberapa kali tampak menutupi telinga dengan tepi kain sarung. Di lain waktu, ia mengusap wajah yang terasa basah setiap kali Kliwon berbicara dengan nada meletup-letup.

“Keputusan hukuman bagi dokter itu ada baiknya juga,” kata Kliwon.

“Maksudnya?” Tanya Pak Dhe No sambil menangkupkan kedua telapak tangan di wajah.

“Menjadi penanda praktik dokter juga tidak berarti bebas dari sentuhan hukum.”

Menurut Kliwon, dokter tak bisa lagi bertindak dan bersikap paling tahu. Mereka harus mulai menyadari, diri mereka bukan dewa penolong. Mereka itu wakil negara dalam menjalankan kewajiban untuk memenuhi hak kesehatan waraganya. “Jadi tak boleh semena-mena,” Kliwon.

“Benar juga,” kata Pak Dhe No.

“Apanya?”

“Saat adik iparku diperiksa, dokternya malah guyonan dengan para perawat. Mangkel aku.”

“Ya…, ya,” kata Kliwon.

“Wah, gayeng benar,” kata Pak RT.

“Gojeg kere, Pak RT,” kata Pak Dhe No.

“Baguslah. Tapi tak melupakan keliling dusun.”

“Ini sudah siap keliling, sedang menunggu si Sulam,” kata Kliwon.

Pak RT duduk di setelah kanan Kliwon. Belum lagi berbicara, Sulam tampak mendekati gardu ronda. Mereka langsung berjalan beriringan kelilinh dusun.***

mmdnewsyndicate

mmdnewsyndicate

Dengan kaitkata , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: