Bertemu Orang Terindukan (2)

Pukul 19.30, seperti yang telah kujanjikan,  bersama kakak sulungku saya tiba di rumah teman masa kecilku. Sebenarnya bukan teman seusia, ia dua tahun di bawahku. Adik kelas pada masa di Pesantren dahulu. Ia jabat erat tanganku, wajahnya berbinar-binar,  senyuman lebar terus terpajang di bibirnya. Saya bergetar menerima sambutan yang begitu hangat, saya menyadari betapa persahabatan di masa kecil meninggalkan bekas yang begitu dalam dan menghujam sampai di dasar hari.

Obrolan semakin tak terbatas, kadang ke utara, ke selatan, ke barat dan kadang ke timur. Berputar-putar ke sana ke mari. Setiap ia mulai berbicara, tak mungkin lagi dihentikan. Saya menentukan sikap, mengimbangi saja seluruh proses obrolan. Saat saya lupa terhadap nama teman lama yang disebutkan, ia terus memandu diriku untuk mengingatnya kembali. Tetapi tak butuh waktu lama untuk membangkitkan ingatan terhadap teman-teman lama.

Setiap nama terlontar, saya harus benar-benar mengingatnya, tak berganti nama. Semuanya menjadi benar-benar kembali di pelupuk mata. Nama-nama yang sudah puluhan tahun tak tersebut, kini begitu segar menari-nari dalam benakku, dalam hatiku. Saridin, misalnya. Saya tak lagi mengingatnya, tetapi malam itu saya sungguh-sungguh kembali merasakan kehadirannya. Wajah Saridin begitu dekat, peci yang selalu digunakan, baju-baju yang tak pernah kulihat barunya.

Saya juga membuat begitu jelas, Sri Rejeki. Ini perempuan adik kelas juga. Anak perempuan ini cerdas, dan semakin lengkap karena ia terbilang cantik dengan kulit berwarna kuning bersih. Saya menjadi ingat benar, rambutnya hitam kelam panjang sebahu. Saat ada pementasan drama, saya sama-sama mendapatkan peran dengan Sri Rejeki. Bedanya, saya berperan sebagai budak Wahsy karena kulitku yang hitam, dan ia menjadi putri pembesar kaum Quraisy.

Malam terus merambat. Diskusi berkembang ke persoalan sensitif, Apalagi suami temanku juga turut duduk di ruang tamu. Nama-nama laki-laki yang pernah mengetuk hatinya ia ceritakan. Agak sedikit was-was kalau saya masuk dalam daftar laki-laki yang pernah tersembunyi dalam catatan hatinya. Soalnya, saya merasa dulu cukup dekat dengannya, misalnya, melatih Pramuka bersama di beberapa sekolah. Meski saya memang tidak pernah memiliki ketertarikan secara khusus dengannya. Persahabatan yang murni, persahabatan yang agung.

Dengan kaitkata , , ,

2 thoughts on “Bertemu Orang Terindukan (2)

  1. gamaaja mengatakan:

    Update possition paper calon ketua PHN.

    Salam hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: