Bertemu Orang Terindukan (1)

Saya sudah melebihi rentang lima tahun lamanya tak berkunjung ke Lampung.  Provinsi ini bukanlah tanah kelahiran,  melainkan tempat yang memberikan ruang bagiku untuk tumbuh dan berkembang.  Masa kanak-kanak,  remaja muda dan remaja dewasa saya lalui di Provinsi ini. Seluruh ruang berkembang secara intelektual berada dalam suasana akrab di Pesantren Daarul Ma’arif, Tegineneng, Lampung.  Saudara,  kawan-kawan bermain, dan para guru seakan melambai ke arahku,  mengundang untuk bertemu.

Saya mulai memenuhi lambaian itu. Satu per satu teman saya kunjungi. Satu per satu guru saya kudatangi. Memang akhirnya tidak semua bisa bertemu, belenggu waktu begitu ketat membatasi.  Sementara obrolan santai yang menjerambabkanku ke masa puluhan tahun silam tak hendak berhenti. Dahaga itu terus menuntut air cerita masa lalu dan harapan indah di masa depan. Terlalu banyak yang harus dibicarakan,  padahal sedikit waktu yang sejatinya kumiliki.

Dua hari berlalu kuhabiskan untuk bercanda ria dengan keluarga.  Semua berkumpul,  kakak,  adik,  dan keponakan.  Anak anak balita berlari-lari,  mereka ini anak dari keponakanku. Walhasil,  tak lagi bisa protes,  saat mereka diajari memanggil kepadaku dengan sebutan ‘kung’. Saya mengerti, meski tetap merasa diri selalu muda dan energik,  secara usia sesungguhnya saya telah semakin tua.

Banyak guyonan segar mengalir,  menderak saraf-saraf humor untuk meledakkan tawa.  Kakak sulung terlihat paling semangat bercerita. Ia memang paling jenaka,  dan paling bisa melakukan dramatisasi terhadap sebuah peristiwa. Jika kisah itu lucu,  di tangannya bisa berlipat kelucuannya.  Manakala kisah duka, akan berlipat pula kedukaannya. Sebaliknya, saat kisah yang diceritakan begitu serius dan tampak pelik,  ia sepertinya melihat dengan enteng dan mudah saja memecahkannya. Fiksi,  fakta telah sungguh bercampur dari kisahnya. Tetapi saya merasa justru itu yang menarik jadinya. Saya menikmati semuanya,  dengan tetap tertawa.

Bergantian,  semuanya saling serang untuk memancing tawa. Saya melepas tawa sebebas-bebasnya,  sambil menarikan jemariku di pundak kanan dan kiri Emakku. Sesekali mengomentari guyonan saudara-saudaraku untuk meningkatkan daya lucunya.  Saya lebih banyak menikmati ketimbang melontarkan guyonan.

Tengah malam guyonan itu, obrolan ringan itu usai. Sementara yang lain masuk ke kamar,  kakak sulung duduk di teras untuk menjalankan kebiasaan buruknya.  Merokok. Saya pun turut menemaninya.  Duduk di sampingnya, dan mengikuti kelakuan buruknya. (Bersambung).

Dengan kaitkata , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: