Menimang Di Kala Senja

Semangat yang sudah tumbuh, dan mendarah daging ternyata tak juga pupus. Rasa ketidakbergunaan sering kali menusuk nyeri dalam dada, manakala diam tak melakukan apa yang sekiranya berguna bagi rakyat kebanyakan. Maka, dalam keseharian selalu menghitung rupiah untuk bisa menyisihkan barang lima puluh ribu untuk bisa berjalan. Bertemu dengan teman-teman untuk bisa berbicara tentang soal yang dihadapi rakyat kebanyakan.

Terkadang rasa malu menjumput manakala, tak bisa lagi sigap seperti dahulu lagi: kapan saja dan di mana saja ketika harus bertemu, ketika harus berbincang. Kesadaran memang tumbuh, saat ini, di ruang terminal yang harus dilewati ini, kemampuan ekonomi tak cukup bisa untuk memenuhi keinginan mewakafkan diri secara purna bagi teman-teman yang selalu disingkirkan, dipapakan.

Lantas apakah mesti berputus asa? Sebuah pertanyaan yang tak akan pernah relevan sepanjang hayat ini. Karena kelahiran ini sepertinya memang untuk tetap terus menginterupsi ketidakadilan yang wajahnya masih terus begitu gagah perkasa. Masih terus harus dilawan.

Ada desakan untuk terlibat dalam politik, dan ada ajakan untuk itu. Tetapi kesetiaan terhadap keyakinan melakukan perubahan dari luar arena kekuasaan masih jauh bisa menjaga idealisme dan hati nurani. Sudah banyak bukti yang bisa ditunjuk saat memasuki wilayah kekuasaan. Pada posisi pertama, terbawa arus keculasan, tindakan kotor, dan memperkaya diri sendiri. Ini bukan sedang menguatkan nilai politik itu kotor, tetapi kesadaran banyak orang bermain kotor dalam politik.

Sebagian lagi, tidak terbawa arus, melainkan juga tak mampu membawa arus seperti yang dikehendaki sejak awal: melagukan perubahan. Mereka hanya dan tak mampu melakukan perubahan apa pun. Mereka hanya mampu berlindung pada kata, “saya tak melakukan, saya bersih”, tetapi hanya diam menonton drama kelicikan yang merugikan rakyat kebanyakan.

Sebagian yang lain, memastikan diri untuk mundur, dan kembali ke dalam habitus semula. Hanya saja kita tidak menemukan orang yang dengan jujur hati mundur dari kekuasaan, karena sadar tak mampu berbuat apa-apa. Tak bursa memengaruhi apa-apa. Dengan seluruh jiwa dan kegembiraan menyambut orang yang berani melakukan pilihan ini.***

Dengan kaitkata , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: