Ragam “Sudut Pandang” dalam Menulis Novel

Unsur menarik yang bisa dijadikan pemicu diskusi dalam karya-karya Novel yang sempat saya baca di waktu senggang, salah satunya ‘sudut pandang’. Dalam sebuah Novel sudut pandang merupakan unsur penting, yang akan bisa menjadikan Novel menarik dan membawa emosi para pembaca. Ketidakjelasan sudut pandang, di sisi yang lain, bisa menjadikan para pembaca kebingungan dalam mengikuti alur cerita.
Dalam berbagai literatur mengenai penulisan Novel ‘sudut pandang’ menjadi salah satu pembahasan, selain menemukan ide, membuat outline, membangun karakter, sampai pada soal yang amat teknis, seperti mempertahankan stamina menulis, membuat paragraf pertama, dan kebuntuan menulis.

‘Sudut Pandang’ dalam sebuah Novel merupakan pilihan siapa yang dipilih oleh penulis menjadi agen pencerita. Tokoh yang dipilih penulis ini merupakan perpanjangan ragam yang mewakili pikiran, perasan, dan juga logika penulisnya. Pada karya kebanyakan, sudut pandang biasanya orang pertama (aku), orang pertama jamak “kami”, orang ketiga tunggal (dia), dan orang ketiga jamak (mereka). Ada juga yang seluruh tokoh menjadi sudut padang penulisnya. Selain itu, sebagian penulis Novel ada yang tidak menggunakan sudut pandang dari para tokoh yang diciptakannya.

Di sebagian Novel, sudut pandang tidak selalu menjadi tokoh utama. Tetapi siapa saja bisa dipilih aktor yang akan digunakan sebagai penyampai pesan penulisnya terkait dengan cerita yang sedang dibangun. Ketika seorang tokoh sudah memilih sudut pandang, misalnya, tokoh orang ketiga tunggal, maka penulis biasanya akan serba tahu apa saja berkaitan dengan itu, apa yang dipikirkan (misal dalam narasi: ia terus memikirkan peristiwa sepuluh tahun yang lalu). Penulis juga biasanya tahu perasaan tokoh (“Mengingat pertengkaran siang tadi, tubuhnya terasa lunglai. Hatinya tersayat-sayat, kesedihan menggelayut di kelopak mata kirinya).

Meski bukan berarti buruk dan bukan berarti keliru, ada juga penulis yang bertindak bak Tuhan, ia bisa mengerti pikiran, perasaan, dan apa yang akan dijadikan oleh para tokoh ciptaannya. Risiko dari pilihan sudut pandang ini, biasanya pembaca menjadi bingung oleh penggunaan kata ganti para tokoh.

Sebagai misal, sudut pandang semua tokoh dengan penulis yang serba tahu, berikut bentuk narasinya:

(Sita sudah tak terhitung lagi mengingatkan Sudar agar tidak terlalu dekat dengan pejabat yang korup. Ia menjadi marah, karena Sudar tak pernah mendengarkan semua kata-katanya. Ibarat pepatah, masuk dari telinga kanan, keluar lewat telinga kiri. Tetapi Sudar sendiri bingung terhadap kekhawatiran istrinya itu. Ia ingin sekali meyakinkan Sita, dirinya lulusan pesantren, ada iman dalam dada yang kokoh, tidak mungkin terlibat dalam korupsi.

Dengan kaitkata , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: