Isu Seksual Menguat di Global Youth Forum

Kaum muda, mereka yang berada dalam rentang usia 10-24 tahun, menghadapi berbagai persoalan kesehatan yang serius. Terutama terkait dengan isu kesehatan seksual dan reproduksi. Forum Remaja Global yang diadakan di Bali, 4-6 Desember 2012, miliki fokus utama pembahasannya terkait dengan isu cukup serius ini.

Dalam pertemuan yang mengambil tema ‘Staying Healthy’, diikuti oleh lebih dari seribu kaum delegasi dari berbagai negara di dunia. Mereka akan membicarakan berbagai persoalan aktual yang dihadapi remaja terkait dengan kesehatan seksual dan reproduksi. Kenapa ini menjadi penting? Soalnya, sekitar 43 persen penduduk dunia ada dalam usia muda ini, dan bahkan di negara-negara miskin bisa mencapai 60 persen.

Beberapa isu yang akan menjadi pembicaraan selama tiga hari ini meliputi pendidikan komprehensif, masalah pekerjaan, seksualitas, keluarga dan hak remaja, partisipasi remaja secara penuh dalam pembangunan. Tampaknya persoalan seksualitas kaum muda akan mendapatkan ruang pembahasan yang luas. Sebab, sampai saat ini kaum muda di seluruh dunia, termasuk Indonesia, menghadapi persoalan yang cukup kompleks terkait dengan kesehatan seksual dan reproduksi mereka.

Kaum muda menghadapi ancaman serius dari transmisi HIV. Tidak kurang dari 30 persen, mereka yang terinfeksi HIV berada dalam usia 20-29 tahun. Mereka akan kehilangan masa depannya, bukan karena virus yang ada dalam tubuhnya, tetapi justru karena sikap sosial yang masih bersifat diskriminatif, dan pengucilan. Celakanya, dalam riset yang dilakukan Kementerian Kesehatan, hanya 17 persen kaum muda yang memahami HIV dan AIDS secara benar.

Persoalan lain yang dihadapi kaum muda adalah Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) akibat dari tindak perkosaan maupun hubungan seksual dengan pasangannya. Bagi mereka yang masih berstatus pelajar, akan menghadapi ancaman  dipaksa keluar dari sekolah tempatnya belajar. Dalam situasi tertentu, mereka menghadapi ancaman kematian karena mengakses layanan aborsi tidak aman.

Persoalan yang tak kalah serius dihadapi oleh kaum muda yang memiliki orientasi seksual mencintai sesama jenis. Mereka tidak saja menghadapi tekanan secara sosial, tetapi juga menghadapi doktrin agama yang mengarahkan orientasi seksual mereka.

Dalam dua persoalan pertama, bau kaum muda bisa dihindarkan dengan memberikan pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi di sekolah-sekolah. Sehingga mereka akan memahami benar mengenai HIV dan AIDS, dan juga proses, sistem dan organ reproduksi. Pada titik ujungnya, dengan pendidikan ini, akan mengantarkan remaja untuk berani mengatakan “tidak” berkaitan dengan perilaku seksual yang berisiko.

Sedangkan untuk persoalan yang terakhir, diperlukan kajian-kajian lebih serius berkaitan degan interpretasi terhadap kitab suci yang menjadi rujukan para penganut agama dalam mengambil kepastian-kepastian hukum. Dalam aras sosial, dilakukan pendidikan publik, mencintai sesama jenis bukanlah merupakan tindakan melawan ketentuan, karena kecenderungan dan hasrat itu juga merupakan ciptaan Tuhan.

Negara sebagai pengampu tanggung jawab hak asasi manusia, termasuk hak seksual dan reproduksi kaum muda harus mengembangkan berbagai kebijakan untuk bisa menjauhkan kaum muda dari persoalan-persoalan yang dihadapi kaum muda. Sehingga, dua puluh tahun ke depan, negeri ini tidak kehilangan generasi potensial.

Dengan kaitkata , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: