Tentang Ruang Editor

Tugas editor? Pertanyaan pendek ini cukup menyita waktu untuk berpikir. Memang sudah cukup banyak buku mengenai peran seorang editor. Karena luasnya peran, sehingga editor dikategorisasi, misalnya, khusus editor bahasa dan ada editor isi. Untuk membagi informasi yang saya berikan ke kawan lama saya, saat diskusi pagi ini, saya unggah tulisan ini.

Menurutku ada beberapa ruang yang bisa dilakukan. Ruang 1, sebatas melakukan perbaikan atau pembenaran bahasa. Misalnya, ketika dalam naskah tertulis “agar supaya”, kita perbaiki menjadi “agar” atau “supaya”. Prinsipnya, agar bahasa yang digunakan menjadi sesuai dengan EYD. Contoh, kalau di naskah tertulis “sholat” atau “solat” kita ubah menjadi “salat”. Ketika dalam naskah tertulis “merubah” kita ubah menjadi “mengubah”. Tentu juga membenarkan yang salah ketik, misalnya, mau menulis “nabi” yang tertulis “napi”. Inilah editor kelas paling bawah.

Ruang 2, selain melakukan tugas ruang 1, editor juga melakukan rekonstruksi kalimat atau paragraf yang tidak logis, melompat, atau bahkan tidak menyambung. Membuat kalimat menjadi renyah dan enak dikunyah.

Ruang 3 selain melakukan ruang 1 dan 2, editor juga mengkritisi substansi, perspektif dan mungkin juga ideologi. Ini ruang terhebat dari seorang editor. Proses bisa menjadi lama, karena akan berulang kali melakukan komunikasi dengan penulis. Inilah level paling berat, karena editor bukan sekadar tukang, tetapi pemikir bahkan melampaui penulis.

Tetapi pada akhirnya, pesanan yang menentukan. Kalau kita hanya diminta untuk melakukan ruang 1, dan kita setuju, kenapa tidak? Bagaimana dengan Anda?

Dengan kaitkata , , ,

8 thoughts on “Tentang Ruang Editor

  1. gama mengatakan:

    ehmmm

    membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mencerna, namun levelku maasih pada level 1, hehehehehe, bahkan belum kelar di level tersebut. namun, aku suka dnegan “pelevelan” ini. terkadang, seorang editor sangat menentukan nasib tulisan, dibaca untuk membuat perubahan atau hanya untuk koleksi perpustakaan, hehehehe. lebih parah lagi, justru melanggengkan penindasan…

    salam hangat

  2. Lingga Galink mengatakan:

    aku ruang tidur sajalah, mengedit sambil tiduran haha.. piye bung bos, tulisan-tulisan kita?

    • mukhotib md mengatakan:

      Hati-hati, alat editnya bisa basah kuyup….
      Tulisan-tulisan ya memang begitu, namanya pengalaman dan apresiasi atas proses, tidak ada yang keliru. Karena itu, yang diperlukan editor melakukan pengolahan bahasa, setidaknya, agar tidak berlompatan dan terjun bebas.

  3. indana mengatakan:

    Hi hi hi matur nuwun penjelasane yo mas…betul2 aku bertanya ke org yg tepat pagi tadi.

    • mukhotib md mengatakan:

      Diskusi dan dialog adalah makanan otak, bisa menyegarkan yang sudah lama terpendam atau mendapatkan pengetahuan baru karena pergesekan pengalaman lama dan pengetahuan baru. Sukses selalu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: