Super Market Kekerasan Dalam Sebuah Novel

Sebagai seorang aktivis sosial, Mukhotib MD (44) dikenal terus bergerak. Tidak hanya mencermati beragam realitas sosial dan perubahan yang terjadi, tapi juga menggagas bagaimana memberdayakan masyarakat yang tertindas, terpinggirkan dan mereka yang berhak menerima keadilan. Kegelisahan itu pula yang menjadi motivasi dan pendorong dirinya untuk menghasilkan karya tulis, bukan saja artikel opini atau berita, namun sebuah karya cerita fiksi, novel.

Bertitik tolak dari serangkaian pengalamannya selama bertahun-tahun aktif di bidang kemasyarakatan, maka lahirlah karya mutakhirnya, sebuah novel berjudul Air Mata Terakhir – Sebuah Novel Pergulatan Ideologis. Novel itu diluncurkan sekaligus dibedah pada sebuah acara yang digelar pada Rabu 28 Maret 2012 lalu di pendapa Karta Pustaka, Jalan Bintaran Tengah Yogya.

Pembicara yang tampil pada peluncuran buku itu, adalah Dr Siti Ruhaini Dzuhayatin, dosen di UIN yang juga komisioner HAM negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI, serta Fadmi Sustiwi, wartawan suratkabar Kedaulatan Rakyat, dan tentu saja sang penulis buku, Mukhotib MD.

Novel Air Mata Terakhir banyak memberi gambaran tentang kenyataan bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih banyak terjadi dan perempuanlah sebagai korban.

Pada salah satu bagian paparannya, Siti Ruhaini mengatakan, novel karya Mukhotib itu menjadi semacam refleksi inklusivitas di Indonesia. Sebab, menurut Siti Ruhaini, adalah tidak mungkin terjadi di negara-negara Islam novel yang menggambarkan kondisi perempuan yang termarjinalkan itu bisa diterbitkan. Novel itu, kata Siti, merupakan kontestasi penulisnya, yang seorang aktivis, tentang cita-cita ideologisnya.

Sedangkan Fadmi Sustiwi mengatakan, saat ini, jarang lahir novel seperti Air Mata Terakhir. Di tengah membanjirnya karya fiksi tentang pembangunan jiwa dan motivasi, maka Mukhotib meluncurkan novel tentang pergulatan ideologis. Novel tersebut, kata Fadmi, ibarat supermarket kekerasan, karena isinya banyak memotret berbagai sisi kekerasan yang dialami perempuan.

Novel Air Mata Terakhir diterbitkan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY, berkisah tentang seorang perempuan bernama Yati yang dipaksa menikah dengan orang yang memerkosanya, bernama Syumanjaya. Selain itu, dalam jalinan ceritanya, novel itu juga mengisahkan tentang sosok transgender yang bernama Shinta yang memiliki dua anak asuh. Dalam kehidupannya, Shinta dimusuhi oleh seorang ustad yang melakukan segala tindakannya dengan landasan untuk mendapatkan surga.

Acara yang diselenggarakan mulai pukul 10.00 hingga 12.00 WIB itu, dihadiri oleh sekitar 100 orang. Suasana hidup terjadi ketika interaksi berupa tanya jawab jawab antara tamu undangan dengan penulis buku. Selain Air Mata Terakhir, novel Mukhotib yang lain adalah Kliwon: sebuah perjalanan seorang saya, yang sudah diluncurkan pada Oktober 2010 lalu di Yogyakarta. (awd, lp3y)

Dengan kaitkata , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: