Mendapatkan Ide

Seorang teman bertanya sederhana, “bagaimana cara mendapatkan ide dalam menulis?” Saya merasa ringan saja mendapatkan pertanyaan yang sudah jamak dan sering berulang-ulang. Tetapi untuk menjawabnya, ternyata bukan soal yang ringan. Sebab jawaban untuk pertanyaan semacam ini akan begitu mudah ditemukan dalam dunia maya, dan buku-buku.

Saya menganggap pertanyaan seperti ini tidak harus dijawab dengan beragam definisi tentang ide-ide. Menurut saya, temanku itu hanya membutuhkan motivasi untuk bisa segera menulis. Karenanya, saya mengatakan, “tidak perlu didapatkan, karena ide ada di sekitar diri kita sendiri.”

“Ah, bergurau…,” kata temanku itu.

Jawaban itu juga saya anggap wajar-wajar saja. Banyak orang memang selalu membayangkan ide hanya bisa ditemukan melalui proses perenungan mendalam, refleksi, dan setelah membaca puluhan buku. Tidak salah memang, tetapi pikiran seperti ini hanya akan mempersulit diri saja.

Mendapatkan ide, menurut saya hanya soal ketekunan menangkap peristiwa-peristiwa di sekitar diri kita sendiri. Setiap kejadian merupakan sumber ide. Saat kaki kita terperosok ke dalam lubang di jalan yang kita lalui, jika kita tekuni kejadian itu, ia bisa menjadi sumber ide yang luar biasa. “Kok bisa?” Tanya temanku tampak tidak percaya.

Nah, di sinilah yang disebut dengan membaca buku, refleksi dan macam-macam mulai berfungsi. Jika pengetahuan kita cukup luas dalam bidang kebijakan, maka peristiwa itu akan menjadi kajian menarik mengenai pembangunan jalan di Indonesia. Mungkin saja lobang itu karena keterpaduan antara satu instansi dengan lainnya absen, sehingga baru saja dihaluskan, sudah digali lagi untuk pemasangan pipa air atau kabel listrik.

Jika kita rajin membaca soal korupsi, lobang di jalan, bisa mengantarkan kita pada praktik korupsi dalam proses pembangunan jalan. Mestinya aspal yang digunakan kualitas nomor satu, tetapi untuk memenangkan tender harus membayar fee siluman, akhirnya aspal yang digunakan kualitas nomor dua atau bahkan nomor tiga, atau malah tidak bernomor.

“Jadi bagaimana?” Tanyaku.

Saya tidak mendengar jawaban. Saya lihat temanku malah sudah tertidur, sambil mengorok pula. “Ah, peristiwa ini bisa jadi ide baru,” bisikku.

Dengan kaitkata , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: