Perilaku Seks Remaja, Bukan Soal Iman

Sebagian besar masyarakat, saat mendengar informasi mengenai remaja yang melakukan hubungan seks, secara spontan langsung mengambil simpulan, perilaku itu karena remaja sudah tidak memiliki iman, moralnya rusak, dan atribut lain yang memiliki singgungan dengan terma-terma agama, norma-norma ketimuran, dan moralitas ideal.


Tidak ada yang salah dengan cara pandang ini. Apalagi kita selalu merasa bangga, bangsa kita merupakan bangsa religius, sehingga hal-hal buruk tidak mungkin terjadi, seperti yang selalu dipikirkan. Tetapi, ada resiko besar yang mengadang, manakala cara pandang kita hanya tunggal. Sebab pendekatan tunggal yang secara berlebihan diyakini secara tidak kritis, akan menutup kemungkinan-kemungkinan lain, yang sebenarnya justru menjadi akar soal yang utama.

Sebagai contoh, jika kita hanya mengandalkan cara pandang agama untuk melihat persoalan, maka kita akan selalu berdalih dengan terma ‘oknum’. Kasus korupsi, siapa yang meragukan para pelaku korupsi bukan orang-orang yang beragama? Tetapi faktanya, ajaran agama yang mereka pegang tak mampu mencegah dari tindakan korupsi. Sepertinya, antara ibadah di satu sisi, dan korupsi di sisi yang lain, memang tak pernah bertemu. Besar dan berjalan masing-masing.

Ketika kasus serupa kita bawa untuk melihat soal remaja yang melakukan hubungan seks, situasinya tak jauh berbeda. Mereka mengerti konsep dosa, mereka yakin ada neraka. Tetapi, mereka tetap juga melakukannya. Bertahun-tahun saya melihat fenomena ini, dan saya berbincang dengan remaja dari berbagai suku dan agama di Indonesia.

Simpulan yang saya dapati cukup mengejutkan. Rupanya bukan soal iman, bukan soal tidak takut dosa, tetapi mereka tidak mengerti akibatnya, dan tidak tepatmeletakkan makna cinta. Banyak hal tidak diketahui remaja mengenai soal seks. Mereka bahkan hidup dalam cengkeraman mitos di seputar tindakan seksual. Kenapa demikian, dari hasil temuan saya, karena sumber informasi mengenai soal seks ini sebagian remaja mengatakan dari teman sebayanya. Di urutan kedua, dari media (cetak, audio, audio visual, dan on line), disusul dengan kakak atau teman seniornya, baru kemudian guru, dan terakhir dari orang tua.

Maka menjadi bisa diterima akal, jika mereka merasa yakin, melakukan hubungan seks satu kali tidak akan hamil, setelah hubungan seks perempuan melompat-lompat tidak akan hamil. Petting, meskipun kaki-laki mengeluarkan sperma di bibir vagina tidak akan hamil, karena itu tidak disebut hubugan seks.

Melihat fakta-fakta ini, untuk mencegah remaja hubungan seks, selain tetap menggunakan pendekatan normatif, penting untuk mengembangkan informasi mengenai seksualitas dan reproduksi terhadap remaja. Lalu meningkatkan kapasitas orang tua untuk bisa berkomunikasi dengan anak remajanya mengenai seksualitas dan reproduksi. Pemberian informasi terhadap remaja, penting untuk melepaskan remaja dari mitos di seputar tindakan seksual. Sehingga mereka mengerti resiko hubungan seks pada usia muda. Misalnya, tidak saja akan mengalami kehamilan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk lebih rentan terkena kankermulut rahim di masa tuanya.

Menurut Sri Kusyuniati Ph.D, Country Representative RutgersWPF Indonesia, dengan pemberian informasi mengenai seksualitas dan reproduksi remaja, kalangan muda di Belanda justru semakin tua usianya dalam melakukan hubungan seks pertamanya. Saat ini, di Indonesia usia pertama melakukan hubungan seks justru semakin muda usia. Bagi orang tua menjadi penting agar mereka tidak merasa tabu untuk berdiskusi dengan anak remajanya. Karena kita tidak lagi hanya mengatakan belum cukup umur. Semakin kita menutup rapat berdialog dengan anak remaja, justru mereka semakin menangguk informasi dari sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenaran informasinya. Tak cukup lagi hanya mengatakan ‘ora ilok’, karena faktanya hanya untuk berkudung dari ketidakmampuannya berdialog dengan anak remajanya.

Ini bukan soal barat atau timur, bukan soal liberal sekuler atau agamis religius, tetapi soal fakta semakin banyak remaja kita yang melakukan hubungan seks pada usia yang semakin muda.

Dengan kaitkata , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: