Sesat Nalar Sertifikasi Pekerja Seni

Wiendu Nuryanti, Wakil Menteri Pendididikan dan Kebudayaan (Waendikbud) Bidang kebudayaan melontarkan gagasan kontroversial tentang sertifikasi bagi pekerja seni. Dengan sertifikasi ini, menurutnya pekerja seni Indonesia akan bisa dihargai manakala dibawa ke luar Indonesia. Ia mencontohkan, untuk seorang dalang, kompetensi apa saja yang harus dimiliki ketika bersertifikasi (kompas.com, 30/4/2012).  

Melakukan sertifikasi untuk pekerja seni, bukan saja tidak mudah, tetapi juga menjadi tidak bernalar, karena pekerja seni bukanlah pekerjaan yang mudah untuk dibuatkan kriteria kompetensinya. Seluruh proses aktivitasnya, merupakan gabungan dari berbagai kekuatan fisik, jiwa dan kapasitas menuangkan ide-ide dalam sebuah bentuk karya seni. Pekerja seni bukan semata-mata sebuah tindakan ketrampilan, yang begitu saja bisa ditetapkan kompetensinya, dirumuskan kriterianya.

Pekerja seni berbeda dengan profesi lain, ambil contoh dua profesi yang sudah dikembangkan dan dilaksanakan proses sertifikasinya: guru dan wartawan. Kedua profesi ini bisa dilakukan sertifikasi karena keluaran dari aktivitas-aktivitas yang dialkukannya sudah memiliki ukuran-ukuran yang sudah ditetapkan sebelumnya. Misalnya, bagi seorang wartawan, dalam melalukan profesinya untuk menghasilkan sebuat berita, harus taat asas sebagaimana ditetapkan dalam kode etik jurnalistik dan aturan tambahan yang ditetapkan oleh Dewan Pers dan organisasi profesi induknya.

Profesi guru bisa dilakukan sertifikasi, karena dalam melakukan kerja profesinya, sudah ditetapkan ukuran-ukuran yang jelas untuk bisa dicapai dalam periode tertentu, bisa tengah semester, semseter atau satu tahun. Misalnya, bagi guru yang mengampu pelajaran Matematika, maka mereka harus memenuhi kompetensi tertentu, sehingga pembelajaran bisa mengantarkan peserta didik pada kemampuan tertentu dalam bidang Matematika.

Kesulitan

Dengan memerhatikan cara kerja sertifikasi dengan ukuran-ukuran kompetensi, ketika hendak dilakukan di kalangan pekerja seni, berbagai kesulitan akan muncul karena beberapa alasan. Pertama, pekerja seni—sebagiannya keluaran dari lembaga pendidikan, dan sebagian yang lain merupakan proses pematangan secara mandiri—merupakan profesi yang independen. Ia bekerja berdasarkan pada proses imajinasi tertentu, dalam menghasilkan sebuah karya seni, dan karenanya tidak mungkin bisa diatur dengan perangkat-perangkat baku. Ketika dikembangkan perangkat baku yang mengatur dengan kriteria-kriteria tertentu, maka sesungguhnya sudah bertentangan dengan prinsip dasar para pekerja seni, kebebasan individu dalam berkreasi.

Seorang pencipta tari benar-benar memiliki kebebasan untuk menciptakan gerak, nuansa, dan komposisi, tanpa memedulikan kriteria-kriteria. Ketika dalam batas tertentu menurut ukurannya sendiri seluruh gerakan yang ia bayangkan, dan diwujudkan terasa begitu indah, selesai proses kreatif menciptakan tari. Persoalan apakah karya tarinya akan dipandang masyarakat sama indahnya dengan yang ia bayangkan, itu perkara lain dari proses penciptaan tari itu sendiri.

Kedua, para pekerja seni tidak sedang bekerja untuk dan tidak memiliki keterkaitan langsung dengan berbagai institusi yang membawahinya. Selain itu tidak ada organisasi pekerja seni yang memiliki otoritas untuk mengatur proses-proses kreatif seorang pekerja seni. Memberikan sertifikasi kepada pekerja seni, sama sekali tidak memiliki manfaat apa pun, karena ia tidak sedang memproduksi untuk siapa-siapa, ia sedang melakukan aktivitas kerja untuk kepuasan dirinya sendiri.

Bagi seorang pelukis, ia sama sekali tidak mempedulikan, apakah karya seninya itu akan dibeli oleh masyarakat atau sebaliknya tidak ada yang tertarik untuk membelinya, bukan soal yang dipikirkannya. Kepuasan puncak seorang pekerja seni berada pada batas ketika imajinasi yang ia bayangkan, bisa diwujudkan dalam bentuk nyata, sebuah lukisan yang sama persis dengan yang ada dalam imajinasinya.

Bahkan seorang pelukis di lereng gunung Merapi, untuk menghasilkan sebuah karyanya, untuk menghadirkan imajinasinya, melakukan berbagai ritual dan olah spiritual untuk menghadirkan imajinasi yaang akan digoreskan di atas kanvas.

Ketiga, produk dari pekerja seni tidak bisa diukur dengan ukuran-ukuran tertentu yang bersifat baku. Karya seni berkaitan erat dengan apresiasi langsung masyarakat terhadap kamanfaatan karya seni itu sendiri. Ukuran-ukuran masyarakat dalam menikmati karya seni juga sangat bersifat individu, terkait dengan kemampuan mereka melakukan apresiasi terhadap sebuah karya seni.

Dengan kata lain, karya seni bukanlah sebuah proses pabrikasi, yang kualitasnya bisa dikembangkan secara sama, sehingga masyarakat bisa memilih karya seni dengan berpedoman pada kualitasnya yang sudah dibakukan. Karya seni bukanlah ‘motor’, yang bisa dibuatkan spesifikasinya, lalu pembeli akan menggunakan spesifikasi itu untuk memilihnya.

Dilupakan

Dari tiga argumentasi yang dikembangkan—dan mungkin bisa didaftar lebih banyak lagi argumentasi—tampaknya gagasan sertifikasi pekerja seni sama sekali bukan gagasan yang matang. Melainkan hanya gagasan sepintas yang tidak memiliki dasar pertimbangan akurat berdasarkan fakta-fakta di kalangan para pekerja seni.

Bahkan gagasan sertifikasi ini bisa jadi merupakan pantulan dari nalar industrialisasi seni yang bercokol dalam kerangka nalar Wiendu Nuryanti. Jika dugaan ini benar, maka gagasan sertifikasi bukan akan meningkatkan kualitas karya seni, tetapi malah akan memerosotkannya. Karenanya, gagasan semacam ini, hanya satu yang pantas untuk diusulkan: ‘dilupakan saja.’

Sebagai Wamendikbud Bidang Kebudayaan, lebih baik Wiendu Nuryanti mengembangkan berbagai gagasan mengenai pengembangan kebudayaan dan penguatan seni tradisi di berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, yang juga penting untuk dikembangkan adalah bagaimana pembelajaran budaya di sekolah-sekolah berorientasi pada pemikiran-pemikiran pluralisme dan multikulturalisme, bukan melahirkan dan atau bahkan melanggenggkan nalar budaya kekerasan yang saat ini marak di negeri ini. Dengan demikian gagasan yang dikembangkan lebih bermakna ketimbangkan memikirkan sesutu yang sama sekali tidak relevan dan mungkin malah tidak ada gunanya.***

Dengan kaitkata , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: