Seruan Boikot Media Partai Demokrat

Jemmy Setiawan, Kepala Biro Bidang Hukum dan HAM Partai Demokrat (PD), menyerukan kepada seluruh kader PD untuk memboikot media dengan tidak mau menjadi narasumber. Pasalnya, media selama ini hanya mengadu domba internal partai dan selalu mendiskreditkan SBY.

Seru boikot media ini, setidaknya bisa dilihat dari beberapa sudut pandang. Pertama, merupakan strategi pengalihan isu. Dengan seruan ini, diharapkan media akan terbawa arus, sehingga mereka akan disibukkan dengan berita anti-media, yang dirasakan menyentuh langsung kepentingan media itu sendiri.

Jika asumsi ini benar, maka dalam hari-hari ke depan berita media akan didominasi isu boikot, dan pemberitaan isu korupsi di tubuh partai penguasa itu akan melemah. PD merasa bombardir berita anti-media, masih jauh lebih menguntungkan ketimbang pemberitaan mengenai korupsi di tubuh partai yang dalam jargon kampanyenya, katakan tidak terhadap korupsi. Meski seruan itu tidak populis, tetapi toh itu hanya dirasakan oleh para intelektual, tidak oleh masyarakat kebanyakan.

Kedua, para elit PD telah merasa gagal melakukan koordinasi para kadernya, sehingga masing-masing merasa penting untuk bicara di media massa. Celakanya, setiap kader berbicara dengan perspektif sendiri-sendiri, sehingga semakin menunjukkan adanya friksi di dalam partai yang selalu diklaim tetap solid itu.

Lihat saja, kasus rotasi Angie ke Komisi Hukum, setelah SBY mengatakan kebijakan itu tidak cerdas, semua kader partai berlomba-lomba untuk menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. Situasi hiruk pikuk para kader ini tentu saja tidak diharapkan oleh para petinggi partai, karena semakin memperburuk situasi, bukan memperbaikinya.

Ketiga, seruan ini juga akan dijadikan trik untuk masyarakat kebanyakan, betapa SBY saat ini berada dalam situasi dizalimi. Trik konvensional yang diperkirakan akan memunculkan simpati di kalangan masyarakat kebanyakan ini. Jika kita melihat tampilnya Megawati menjadi presiden, juga beradaa dalam situasi yang seakan-akan terzalimi, kenaikan SBY untuk pertama kalinya, juga seakan-akan pada situasi yang sama.

Akhirnya, meskipun berbagai tindak korupsi tetap menjadi pemberitaan, tetapi diramaikan dengan berita anti-media, masyarakat akan masuk dalam jebakan, SBY sedang dizalimi. Maka isu korupsi akan menjadi terpinggirkan, dan tak lagi menjadi fokus masyarakat kebanyakan.

Media Cerdas

Masyarakat media yang cerdas mestinya tidak akan menggubris gelontoran isu boikot media dari partai demokrat. Tetapi justru mencoba mengembankan strategi jurnalisme investigatif, untuk turut membongkar berbagai praktek korupsi yang terjadi di Indonesia.

Dengan jurnalisme investigatif, media bisa menelusuri berbagai informasi yang berkembang di pengadilan, misalnya, dugaan pembelian saham Garuda, pembelian saham Krakatau steel, atau dugaan kebohongan yang dilakukan Angie, tentang baru memiliki Blackberry awal tahun 2010.

Dengan demikian, media di Indonesia bisa turut berperan dalam pembongkaran kasus korupsi tidak hanya menyajikan pendapat-pendapat subyek berita, atau bisa dikatakan hanya menyajikan fakta psikis. Media tidak pernah menyajikan fakta empiris, sehingga yang terkesan, media hanya mengadu domba.

Dengan kaitkata , , ,

One thought on “Seruan Boikot Media Partai Demokrat

  1. Alex© mengatakan:

    Kalau tidak mengadu domba, bukan media namanya. Apalagi kalau tujuannya demi oplah/rating semata. Hehe. Lagian Partai Demokrat juga aneh. Mereka (orang-orang dalam Partai Demokrat) juga bukan orang sembarangan, ada saham juga di media-media. Selain itu, cukup kayalah untuk mendirikan media sendiri. Peranan orang-orang seperti Andi Malarrangeng, Goebbels-nya Demokrat, justru bisa dimainkan di sini😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: