Lahir Di Luar Nikah, Kenapa Sedih?

Saya memiliki teman chatting, seorang perempuan muda, bermasa depan cerah, bekerja di perusahaan bonafid, dan tentu saja bergaji tinggi. Tetapi ia merasa selalu masgul, hatinya gelisah dan tidak pernah tenang. Suasana psikologis ini kerap kali menjadikan semangat kerjanya menurun.

Pasalnya, pada saat teman saya itu bersih-bersih gudang, ia menemukan undangan pernikahan orang tuanya. Celakanya, tanggal kelahirannya ternyata lebih dahulu ketimbang tanggal dalam undangan perkawinan itu. Lantas…, ia membuat kesimpulan sepihak, dirinya adalah anak yang lahir di luar perkawinan. Anak haram, anak jadah, status yang menurutnya sangat memalukan dan merasakan dirinya selalu kotor, ibadah yang dilakukannya seakan menjadi sia-sia.

Saya katakan tak perlu menjadi hidup tertekan begitu, walaupun terlahir tidak dalam ikatan perkawinan. Apalagi sampai merasa ibadah kepada Tuhan menjadi sia-sia. Toh, setiap bayi terlahirkan sudah pasti merupakan bagian dari kehendakNya. Tak satu pun yang ada di dunia ini berada di luar kehendak dan kekuasaan sang Pencipta.

Mendengar pandanganku, ia justru menyampaikan peribahasa lama, buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Memang tak ada yang salah dengan peribahasa itu. Tetapi, kata saya, peribahasa itu diciptakan berdasarkan wisdom orang-orang yang hidup di pesisir atau di dataran rendah. Sebab bagi orang yang tinggal di pegunungan atau dataran tinggi, pasti lain persoalannya. Tak ada buah yang jatuh dekat dengan pohonnya.

Teman chattingku tersenyum, emoticon tertawa terbahak-bahak muncul di layar tabletku. Merasa komunikasi sudah semakin baik, sudah timbul rasa percaya, saya lanjutkan diskusinya. Ada kisah di jaman Muhammad, seorang pekerja seks ternyata dijanjikan kelak akan masuk surga. Para sahabat Muhammad memprotes tidak terima. Lalu ingin segera tahu perbuatan apa yang menjadikannya masuk surga. Ternyata pekerja seks itu masuk surga karena satu perbuatan yang sangat mulia, memberikan minuman kepada anjing kehausan, yang ia ambil dari sumur dengan sepatunya.

“Lalu….” Tulisnya disertai dengan emoticon geleng-geleng kepala, menunjukkan ketidakmengertiannya, kaitannya dengan dirinya, perempuan muda yang dilahirkan di luar perkawinan.

Saya katakan lagi, seseorang melakukan kebaikan, melaksanakan ibadah, bukanlah untuk Tuhan, melainkan untuk diriya sendiri. Tuhan tak pernah melihat asal-usul seseorang, Ia memberikan rahmatNya, dengan melihat perbuatannya berkenan atau tidak dalam kekuasaanNya.

Karenanya, tak perlu disedihkan, tak perlu menjadikan diri ini seolah-olah tak bermakna. Sebab tak ada urusannya, apakah dilahirkan dalam ikatan perkawinan atau di luar perkawinan. Itu perkaranya orang dewasa yang melakukan hubungan seks sebelum mereka menikah, dan karena tidak menggunakan kondom atau alat kontrasepsi lainnya, menjadilah hamil perempuannya.

Tetapi bersedihlah, ketika hendak meraih ridloNya, justru melakukan berbagai cara, tindakan brutal, perusakan, kekerasan dan bahkan juga pembunuhan. Meskipun mungkin mereka dilahirkan dalam ikatan perkawinan, tetapi tak ada gunanya seluruh tindakannya. Sebab hanya diri mereka yang menganggap itu jihad dan perbuatan mulia. Di mata Tuhan, bisa lain lagi perkaranya.

Dengan kaitkata

18 thoughts on “Lahir Di Luar Nikah, Kenapa Sedih?

  1. galink mengatakan:

    saya pernah tahu cerita mirip ini, mas hehehe… yang bikin kaget bagian ini: “emoticon tertawa terbahak-bahak muncul di layar tabletku” wuih.. =) =)

    • mukhotib md mengatakan:

      Lelah berefleksi, yang disorot malah soal tablet, hahaha

      • galink mengatakan:

        Hahaha… soalnya buat para alumnus pkbi jogja yang menggila bersama bapak, kebijaksanaan di atas itu sudah khatam.

        Tapi ya untuk mengalihkan isu dari soal tablet, baiklah, saya coba komentari satu hal ya (ehm.. ehm..) Saya sepakat kalau “seseorang melakukan kebaikan, melaksanakan ibadah, bukanlah untuk Tuhan” tapi kalau dilanjutkan jadi “melainkan untuk dirinya sendiri?” bukannya makna kebaikannya menjadi hilang dan berganti menjadi egoisme, mas? Berbuat baik hanya untuk memenuhi keinginan kita untuk berbuat baik, tanpa melihat kebutuhan orang yang akan kita baiki?

        Aku share blognya di fb ah ya!

      • mukhotib md mengatakan:

        Betul juga, ya…, jadi harus ditambah satu kalimat lanjutan, dan sebagai bentuk pengabdian untuk kebaikan bagi sesama.

        Karena saya tidak punya Facebook, bagus sekali kalau dibantu share bung, terima kasih sekali.

  2. isnusun mengatakan:

    tablet sing iso diuntal dudu (tidak ada padanan bahasa indonesiane)

  3. galink mengatakan:

    Kalau soal tambah atau tidak, itu menjadi harus atau tidak, terserah mpunya blog sadja lah hehe..

    Wah, boleh nih saya jadi bagian marketing blog anda, bung? Wkwkwk

  4. baim mengatakan:

    ijin share pak hehe

  5. ayu mengatakan:

    wah pak muk ni..
    tulisan njenengan yg merasa kalah sama Darwis Khudori yg gak punya hape, saya kutip lho jd status fb. eh, ternyata malah duluan punya tablet hakhakhakhak..

  6. tonkenk mengatakan:

    hihihi… jadi keingetan temen saya yang lahir ga tau bapa ma ga tau ibu ^_^ sampe akte lahir, nama, dan hari ulang taun dia bikin sendiri pas gede… toh ibadahnya tambah getol karena justru penderitaan membuat ibadah lebih indah ^_^

    ijin ngutip yo pa… buat nambah twitt ^_^

  7. putri khatulistiwa mengatakan:

    haha podho sama galink,,,agak gmn gitu dengan tulisan “muncul di layar tabletku.” huwahahaha…*langsung minder muk BB an* ..
    pak ijin share yak di FB..

    salam laos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: