Catatan dari Papua: Memahamkan Pelanggaran HAM

Sekali waktu, saya memfasilitasi pertemuan para pemangku kepentingan di empat kabupaten dan kota di Papua. Setelah aktivitas pengantar saya lakukan, seperti perkenalan dan beberapa guyonan ringan, satu pertanyaan saya ajukan, “suatu petang seorang penduduk yang sedang menunggu tumpangan ojek di peringatan jalan, dibunuh oleh orang yang tak dikenal dengan menggunakan parang. Apakah ini termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)?”


Hampir semua peserta pertemuan menjawab tindakan orang tak dikenal sebagai pelanggaran HAM. Pasalnya, orang itu telah menghilangkan nyawa orang lain. Padahal setiap orang memiliki hak untuk hidup. Saya coba bertanya ulang, apakah sudah yakin benar, itu sebagai pelanggaran HAM, jawaban tetap tidak berubah.

Lalu, dengan menunjukkan mimik wajah penuh percaya, saya berpura-pura mencoba hendak menulis sesuatu di papan tulis yang tersedia. Seperti teringat sesuatu, saya membalikkan diri menghadap peserta, “tapi orang yang membunuh tadi, kalau tertangkap, biasanya akan diadili di mana?”

“Di Pengadilan Negeri,” jawab peserta hampir bersamaan dengan penuh ketakutan. Saya mencoba mengajukan pertanyaan kembali, “benar di Pengadilan Negeri?”

“Ya…,” ya peserta bergeming.

Setelah semuanya tampak yakin dengan jawabannya, saya melontarkan pertanyaan, “kalau para pelanggaran HAM, biasanya yang sering kita dengar, mereka diadili di mana?”

“Di Pengadilan HAM….” Kembali peserta menjawab hampir serempak. Beberapa saat suasana saya biarkan tenang. Memberikan kesempatan untuk mencoba merenungkan apa yang baru saja didialogkan. Seorang peserta yang duduk di setelah kanan saya tunjuk jari.

“Silakan…, ada yang ingin disampaikan?”

“Saya kira itu bukan pelanggaran HAM,” katanya sama mantapnya seperti di awal dialog.

“Lantas, disebut apa?”

“Itu disebut tindak kriminal, tindak pidana berat karena menghilangkan nyawa orang.”

Saya merasa senang, merasa bangga, akhirnya peserta mampu melakukan penyimpulan sendiri, dengan bahasa mereka sendiri. Untuk merayakan keberhasilan itu, peserta saya ajak bertepuk tangan. Lalu…, sama-sama menyanyikan lagu Tanah Papua.****

—-
Untuk informasi, tips dan trick menjadi fasilitator baca di www.liberationcorner.com

Dengan kaitkata , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: