Catatan dari Papua: Fasilitator Handal

Saya sudah merasa sebagai seorang yang handal dalam soal memfasilitasi forum-forum, workshop, training, orientasi dan kegiatan-kegiatan sejenisnya. Tidak saja mudah dipahami, saat saya menjelaskan materi-materi, tetapi juga selalu penuh canda-tawa. Sehingga yang berat-berat itu pun menjadi ringan, yang rumit-rumit pun menjadi mudah. Pengalaman saya memfasilitasi forum sudah sangat banyak. Orang sering mengatakan dengan ‘jam terbang.” Mulai dari forum para pejabat daerah, anggota parlemen, wartawan, sampai buruh dan petani di desa-desa. Mulai dari persoalan anak-anak, persoalan remaja, persoalan pemuda, persoalan orang dewasa, dan sampai pada persoalan orang-orang lanjut usia. Semua selalu sukses, dan berjalan dengan lancarnya.

Apalagi saat harus memfasilitasi pertemuan para relawan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dari empat Kabupaten/Kota di Papua. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, tak ada perlu yang ditakutkan. Pertanyaan apa saja dan dimulai dari mana saja, saya sangat yakin akan bisa menjawabnya. Maklum saja, saya menjadi relawan PKBI Yogyakarta hampir sembilan tahun lamanya. Merah-birunya organisasi berbasis relawan ini sudah ada di luar kepala. Ketika seorang peserta mempertanyakan, seperti apa struktur organisasi PKBI yang benar? Dengan lincah saya menjawab, sejelas-jelasnya, mulai dari struktur di tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Bahkan untuk tingkat Pusat, saya hafal benar orang-orangnya, terutama yang duduk di Pengurus Harian Nasional dan Pelaksana Hariannya.

Saya sangat puas, sangat bangga. Wajah-wajah peserta yang menunjukkan kepahaman yang amat nyata. Diskusi saya lanjutkan mengenai konsep relawan. Ini perkara yang penting, karena pada sisi ini, sesungguhnya PKBI menjadi berbeda dengan NGO yang lain. Semangat kerelawanan yang profesional, menjadi daya tawar yang luar biasa dan tanpa tandingnya. Semuanya merasa bangga. Mereka sebagai relawan Perkumpulan yang tetap seProduksigan prinsip-prinsipnya sejak mula. Mereka tetap bertekad untuk mempertahankan semangat kerelawanan, semangat untuk memberikan sesuatu yang bisa diberikan untuk Perkumpulan. Bukan semata-mata dalam bentuk uang, melainkan bisa berbentuk tenaga, pikiran dan bahkan hal yang sangat abstrak: komitmen.

Tetapi situasi ruangan menjadi berubah senyap, ketika saya mulai mempresentasikan program-program yang akan dikembangkan PKBI Propinsi Papua untuk tiga tahun mendatang. Mata-mata kosong yang menunjukkan kebingungan menatap tajam ke arahku. Sekali lagi sebagai fasilitator handal, saya menangkap psikologi forum yang sedang berkembang. “Ada apa gerangan?” Bisikku dalam hati.

Untuk sementara, presentasi saya lanjutkan sambil menunggu perkembangan suasana forum. Mungkin saja nanti akan ada yang nyletuk untuk mengatakan sesuatu yang menyebabkan suasana forum menjadi tampak membingungkan. Apa yang saya harapkan akhirnya tiba juga, salah seorang peserta mengangkat tangan. “Silakan, ada yang mau disampaikan,” kataku.

Pernyataan apa pun yang akan disampaikan pasti akan saya manfaatkan untuk mengubah suasana. Maklum lah, saya ini khan seorang fasilitator yang handal. Setiap kalimat baru, adalah pijakan untuk mengembangkan kalimat yang lebih baru. Satu kalimat, bisa saya kembangkan menjadi sepuluh kalimat lanjutan. “Begini…, Bapak. Kita semua merasa bingung dan merasa tak mampu untuk menjalankan semua rencana kerja yang disampaikan tadi,” Katanya.

Sekarang, saya juga sungguh-sungguh merasa bingung dibuatnya. Bagaimana mungkin, sesuatu yang baru saya ceritakan dalam garis besarnya saja, peserta ini sudah mengatakan tidak mampu melakukannya. Tetapi mencoba menahan diri, untuk terus mendengarkan. Karena salah satu wisdom yang harus dipegang erat seorang fasilitator harus bertahan dan bersedia untuk mendengarkan. Meski kadang-kadang perbincangan yang berkembang cukup berbeda pemahamannya.

“Boleh tahu…, kenapa merasa tak mampu melakukannya? Besok akan ada pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kapasitas,” kataku menyela.

“Nah…, itulah yang membuat kami semua bingung. Bagaimana mungkin berbagai kegiatan yang Bapak sampaikan tadi semuanya akan dilaksanakan besok. Peningkatan kapasitas juga akan dilaksanakan besok. Padahal besok, kita masih bersama-sama di sini untuk membahas rencana kerja tiga tahun ke depan.”

Saya sungguh-sungguh tak mengerti arah perbincangannya. Secara hati-hati saya memahami makna kalimat-kalimatnya. Tetapi tetap saja buntu, tetap saja tidak bisa saya cerna dengan baik. Sangat membingungkan. Saya hanya berharap-harap, ada peserta lain yang akan angkat bicara. Siapa tahu akan bisa mencerahkan pemikiran saya yang sedang buntu di tikuangan jalan.

“Begini, Bapak….! Kita bingung karena semua kegiatan akan dilakukan besok. Saya paham mereka bingung. Sebab kata ‘besok’ di sini, di Papua, artinya benar-benar besok hari akan dilakukan,” kata peserta yang lain.

“Terus….,” tanyaku mulai memahami arah pembicaraan dari peserta pertama yang merasa tidak mampu.

“Kalau di Jawa sana, di daerah asal Bapak, kata ‘besok’ itu menunjukkan rencana yang masih lama, mungkin tiga tahun mendatang,” lanjutnya.

Saya merasa geli bukan kepalang. Ingin rasanya melepas tawa sekeras-kerasnya. Keinginan itu tentu saja saya gagalkan. Tidak elok akibatnya, sebab saat ini sedang berada dalam situasi yang disalahpahami. Sebuah kekeliruan besar dari seoarang fasilitator handal, yang tak mau mempelajari kebiasaan bahasa di daerah yang berbeda.

“Maaf…, maaf…, maaf, kalau begitu. Di sini kata apa yang digunakan untuk mengatakan sesuatu yang akan dilaksanakan pada masa mendatang?” Tanyaku. Di sinilah prinsip-prinsip fasilitator handal yang sejati. Mau bertanya, ketika memang tidak mengetahui dan tidak memahami sesuatu di wilayah yang baru.

“Nanti…!” Kata peserta yang duduk di sudut ruangan.

“Akh…, terima kasih, Bapak atas petunjuknya. Ibarat saya berada dalam kegelapan, Bapak menjadi suluh yang menyelamatkan saya. Ibarat berada di tengah lautan lepas, Bapak menjadi kompas yang sangat berharga,” kataku memuja-puji.

Laki-laki yang di duduk di sudut ruangan itu membenarkan posisi duduknya. Peserta yang satu ini memang sejak awal tidak pernah bicara, bahkan sejak pembukaan acara dilakukan. Meski hanya menjawab satu kata, ‘nanti’, terus saya kembangkan untuk menumbuhkan keberaniannya berbicara di dalam forum.

Setelah mendengar kata-kata pujian itu, saya melihat wajahnya merona merah, dan ada keberanian baru yang memancar di pandangan matanya. Ia tampaknya merasa yakin, apa yang akan dikatakan nanti, akan selalu berguna. Dan saya mampu meyakinkannya. Saya, fasilitator handal, telah dipecundangi dengan sebuah kata ‘besok’. Saya, fasilitator handal, telah mampu membuat seorang berani bicara, meski awalnya hanya satu kata, ‘nanti.’***

Dengan kaitkata , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: