Ulil Abshar Abdalla, Ke Mana Ya?

Mendengar nama Ulil Abshar Abdalla, tentu saja tidak lagi asing di telinga bangsa ini. Terutama dengan gagasan-gagasan mengenai Islam, yang seringkali dinilai sangat kontroversial, dan cenderung menyentil-sentil gerakan Islam garis keras. Banyak orang mendukungnya, terutama mereka yang mencita-citakan Islam tanpa kekerasan, Islam yang ramah terhadap siapa pun, tanpa latar belakang apa pun. Tetapi ketika Partai Demokrat, digonjang-ganjing oleh isu korupsi, sebagian kadernya menjadi tersangka, ke mana Ulil Abshar Abdalla?

Sebagai salah satu orang yang turut bangga dengan gerakan yang dikembangkan Ulil, saya sungguh menanti gebrakan Ulil berkaitan dengan Partai Demokrat yangt diterpa angin puting beliung korupsi itu. Apalagi posisi Ulil yang sangat strategis di Partai Demokrat, sebagai Ketua Divisi Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partai Demokrat, tentu saya sangat menanti gebarakan unik, gebrakan yang menyentakkan kesadaran, bukan hanya mendukung keberanian Abraham Samad, si Ketua KPK itu.

Tetapi, setelah cukup lama menanti, membuka-buka koran, berselancar di dunia maya, dengan was-was dan penuh harap, untuk mendapatkan pandangan-pandangan Ulil, gagasan-gagasan Ulil, mengenai kondisi partai yang dirinya ada di dalamnya, sedikit rasa masygul dalam hati ini muncul. Lantas…, saya menduga-duga beberapa situasi, yang mungkin saja dihadapi Ulil saat ini, untuk bisa menyikapi kondisi partainya. Namanya juga dugaan, apalagi menduga pikiran orang lain, maka bisa jadi kesalahannya mungkin saja lebih besar ketimbang kesalahannya. Tetapi dugaan ini mungkin lebih bermakna, ketimbang tak mendengarkan gebrakan Kang Ulil yang saya tunggu-tunggu hadirnya.

Pertama, sejak lima belas tahun terakhir–tambah menguat setelah reformasi tahun 1998, muncul perdebatan yang sengit di kalangan aktivis gerakan sosial di Indonesia, apakah akan melakukan perubahan dari dalam–terlibat dalam pusat-pusat kekuasaan, partai politik, anggota DPR, menteri, gubernur, wali kota, atau tetap berada di luar kekuasaan–masuk ke dalam dunia NGO, kelompok-kelompok kritis, dan lainnya. Sebagai sebuah kubu, memang tidak akan mungkin pernah dipertemukan, apalagi masing-masing memiliki argumentasi yang canggih-canggih. Saya tidak tahu, ketika Ulil masuk menjadi pengurus Partai Demokrat, apakah ia sedang menggunakan nalar perubahan dari dalam lebih efektif, sehingga harus meninggalkan Jaringan Islam Liberal [JIL] yang cukup banyak menarik perhatian banyak pihak–terserah; kebencian atau pun kebanggaan.

Kedua, masuk dalam kekuasaan selalu dihadapkan pada tiga pilihan yang harus disikapi dan dipilih dengan tanpa bisa mekakukan negosiasi. Seseorang terpaksa harus terlibat dalam proses-proses yang terjadi–misalnya dalam partai politik–korupsi, manipulasi, suap dan sebagainya, atau seseorang harus memilih menghindari untuk terlibat dalam berbagai proses ini, tetapi juga tak mampu melakukan apapun untuk mengubah berbagai keculasan dalam partai politiknya, atau terpaksa harus keluar dari partai politiknya, karena hati nuraninya tercerahkan, tidak ingin terlibat tetapi juga tidak bisa melakukan perubahan, keluar pilihan yang sangat tepat. Dalam kondisi seperti ini, Ulil Abshar Abdalla, tentu juga berada dalam situasi pilihan ini, dalam konteks Partai Demokrat. Tetapi saya tidak tahu, Ulil sedang dalam rencana pilihan yang mana. Atau mungkin saja ia memiliki pilihan yang keempat, dengan mengawinkan gerakan Jaringan Islam Liberal-nya untuk mengkritisi tradisi partainya, yang saat ini beberapa kadernya sedang diterpa dakwaan tindak korupsi.

Sekali lagi, ini yang sedang berkecamuk dalam benak saya, sebab berharap-harap Ulil Abshar Abdalla, yang kritis itu, yang kontroversial itu, tetapi menjadi tampak tidak berdaya menghadapi partai yang dirinya menduduki salah satu posisi strategis di dalamnya. Sungguh saya berharap, Ulil tidak mengecewakan banyak pengagumnya, pengidolanya. Bagilah kepada masyaraikat gagasannya untuk membawa partainya, dan juga partai yang lain, mereka yang duduk di DPR, di Kementerian, dan jabatan publik lainnya, untuk tidak lagi melakukan korupsi, suapa dan manipulasi.***

Dengan kaitkata , , , ,

4 thoughts on “Ulil Abshar Abdalla, Ke Mana Ya?

  1. Alex© mengatakan:

    Mengharapkan Ulil akan bisa menggebrak Demokrat? Hehehehe…

    *pesimis*:mrgreen:

  2. bondan nusantara mengatakan:

    Siapapun orang dan tokohnya, kalau sudah masuk partai – apapun partanuya – pasti “terkunci.” Tak hanya gagasan idealnya tapi juga sikap kritis dan kreativitasnya. Makanya,….kalau mau punya “adeg-adeg” jangan sekali-sekali masuk partai karena di jaman ini partai = tikus di tengah lumbung uang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: