Duka untuk Budi Wahyuni

Kematian. Sungguh sesuatu yang sangat misteri.  Bukan saja memang tidak akan pernah diketahui kapan waktunya, sebab sudah dipastikan sebagai satu hal yang tak akan pernah dibuka rahasianya oleh Sang Pengeran, tetapi ia begitu mudah untuk dinasehatkan, agar semua orang mengingatnya. Hanya saja, selalu saja setiap orang terkejut, dan selalu saja setiap orang ngungun, ketika kematian itu terjadi benar-benar ada dalam lingkar hidup masing-masing. Sebab setiap orang memang kerap kali mendiskusikan kematian, bukan untuk keluarga kita, apalagi untuk diri kita sendiri, melainkan untuk kematian orang lain.

Tetapi…, kematian bagaimana pun memang pasti akan dihadapi oleh setiap makhluk yang hidup, sebagaimana telah dijanjikannya, baik diri sendiri, keluarga, tetangga dan semua teman bahkan juga bangsa-bangsa lainnya. Saya, yang merasa sebagai murid, sebagai teman, sebagai mitra…, pun sungguh merasa ngungun, saat menerima pesan pendek yang berurutan, dari Novianto, disusul Gama Triyono [keduanya relawan PKBI DIY]. Ngungun karena belum banyak menimba ilmu dan pengalaman dari Mas Bambang (Alm), sebagai laki-laki, sebagai suami, dari seorang aktivis yang tak perlu dipertanyakan lagi ideologi dan idealismenya, pasangan dari perempuan aktivis yang bernama Budi Wahyuni. Ngungun, karena keterpisahan geografis, dan tentu saja juga keterbatasan ekonomi, sehingga akhirnya, tak bisa melepaskan kepergian secara wadag untuk yang terakhir kalinya.

Kenapa keterpisahan wadag, sebab kematian memang hanya pemisahan dunia wadag ke dunia ruh. Meninggalkan alam fana, menuju alam baka, alam abadi. Tetapi pemikiran-pemikiran, kisah pengalaman selama hidupnya tidak akan pernah terhapus dari kehidupan wadag. Ia akan tetap menjadi bahan pembelajaran, bahan perenungan, bagi siapa saja yang belajar mengenai tenggang rasa, kesetiaan, cinta yang sejati, dan kerendahan hati. Ia juga akan terus hidup, selagi manusia tak pernah keluar dari garis-garis mengenai kebaikan, kasih sayang, dan kepedulian atas sesama.

Mas Bambang (Alm), tidak hanya pantas untuk dipuji, melainkan Mas Bambang adalah pujian itu sendiri, senandung kemahamengertian terhadap pasangannya, kemahasetiaan hingga akhir hayatnya. Mas Bambang bukan hanya pantas untuk tempat berkaca, karena ia memang kaca benggala itu sendiri, penerang bagi kebekuan patriarkhi, kekalutan budaya lanang. Laki-laki, yang masih selalu merengek terhadap perempuan, menuntut-tuntut dan merendah-rendahkan, haruslah ia belajar kepada Mas Bambang.

Jika saja, saya bisa berada saat pelepasan jenazahnya, tentu saja dengan seluruh kesadaran penuh, seluruh kesaksian demi yang menciptakan alam raya dengan seluruh keunikan dan misterinya, saya akan menjawab dengan suara lantang dan keras, ketika sang pengantar jenazah mempertanyakan: “Apakah Bapak Bambang (Alm), orang yang baik selama hidupnya?”

Saya akan menjawab: “Baik…., bahkan ia adalah kebaikan itu sendiri.”

Dengan kaitkata ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: