Ketua Kelas

Siang ini, anak lanangku, yang masih duduk di bangku kelas I SD, menilpun. Katanya, ia sudah ditunjuk guru kelas, untuk menjadi ketua kelas. Saya sampaikan selamat, tentu saja, dan beberapa pesan mengenai apa yang sebaiknya dilakukan seorang pemimpin untuk orang-orang yang dipimpinnya. Sekedar pesan moral, misalnya, hindarkan tindakan yang merugikan, tidak semena-mena dalam bertindak, dan utamakan kepentingan teman-temannya, ketimbang kepentingannnya sendiri. Harus rela berkorban apa saja untuk membela mereka.

Telepon ditutup. Ada sesuatu yang tiba-tiba mengusik benakku. Mungkin agak berlebihan, tetapi itu yang saat ini sedang bergejolak dan mrnghentak ruang batinku. Bagaimana dengan ketua-ketua yang lain, ketua partai, ketua DPR, ketua MPR, ketua pemerintahan? Siapa yang memberi kata-kata pengingat itu? Sebab, teriakan rakyat saja tampaknya tak bisa didengar, tak mampu menembus dinding nuraninya.

Saya tiba-tiba menjadi begitu naif, menjadi begitu personal. Tetapi saya merasa yakin benar ruang batin seperti ini sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang disebut ketua, bahkan sesungguhnya oleh siapa saja. Situasi yang memungkinkan untuk memberi kesempatan menengok kembali kedalam diri, dalam keheningan batin yang sunyi, dan bahkan mungkin merana dan kering.

Bagi saya yang saat ini sedang begitu personal, merasa para ketua itu tampaknya sedang kehilangan ruang batin, tertutup oleh godaan-godaan lahiriyah, tergoda oleh kehausan wadag. Apakah orang lain bisa membantu? Tentu saja bisa, tetapi bukan untuk mengisi ruang batin yang terpenting, melainkan menumbuhkan kebutuhan mengenai itu semua. Mengasah agar gendang telinga menjadi lebih sensitif syaraf-syarafnya, menjadi begitu mudah untuk mendengar ketukan-ketukan dalam pintu nuraninya.

Orang lain sama sekali tidak bisa masuk ke dalam ruang batin itu. Seperti juga diriku, tak akan bisa masuk ke dalam ruang batin anakku yang saat ini sudah diangkat menjadi ketua kelas itu. Saya bisa menumbuhkan kesadarannya mengenai apa yang mesti dilakukan saat menjadi ketua. Selebihnya, is harus masuk ke dalam ruang batinnya sendiri, dan melakukan dialog sendiri. Seperti kata sebagian relawan PKBI DIY, kita hanya bisa melakukan upaya agar setiap orang mampu melakukan internalisasi, sedang objektivikasi dan eksternalisasi, akhirnya Alana menjadi domain batin setiap orang.***

Dengan kaitkata , ,

One thought on “Ketua Kelas

  1. Mochammad mengatakan:

    DPR itu lahir dari rakyat. Jadi, bapak-ibunya ya Rakyat. Tapi, DPR itu anak rakyat yang durhaka.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: