Media Sosial, Orgasme Intelektual dan Menggalang Dukungan

Keterkejutan. Orang merasa terkejut, salah satunya,  jika menghadapi sesuatu yang berada di luar dugaan atau kapasitas yang dipikirkannya. Kalangan media juga mengalami keterkejutan. Tiba-tiba ada portal yang begitu luar biasa, didukung oleh orang-orang yang sukarela untuk memberikan informasi apa saja yang mereka temui di jalanan, di ruang-ruang sosial, di setiap jejak kehidupan mereka. Terkadang…, bahkan  ruang yang tak terpikirkan  media maainstream.

Itulah…, fenomena OhmyNews.com sebuah portal berita dengan  jargon Every Citizen is a Reporter yang didirikan oleh Oh Yeon Ho pada awal tahun 2000 di Korea Selatan. Sebagian kalangan, bahkan mengalami kalap dengan berspekulasi tentang matinya media cetak, berbarengan dengan terus menguatnya berbagai portal berita yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan penerbit media cetak.

Ketika awal sembilan puluhan, perkembangan teknologi masuk ke relung kehidupan masyarakat Indonesia, di negeri ini orang mulai melibatkan diri dalam dunia maya. Berbagai layanan gratis, seperti blogger.com, wordpress.com, multplay, journalhome, dan layanan lainnya diserbu kalangan muda. Ramai-ramai mereka membuat akun, dan mulai memposting tulisan dan photo dan berhubungan. Untuk video, tampaknya belum terlihat cukup fenomenal ketika itu.

Terkejut. memandingkan perkembangan terakhir, kita mengelami keterkejutan yang juga luar biasa. Terutama dengan fenomena facebook.com, disusul fenomena tweeter.com, dan topangan ketersediaan telepon genggam yang semakin terjangkau harganya dengan fitur bawaan kedua portal sosial ini.

Banyak peluang yang terbuka dari perkembangan teknologi informasi ini. Dari mulai peluang bisnis yang sering dikenal dengan istilah e-commerce. Dr. Darwis Khudhori, pakar arsitektur kritis, menyebutnya sebagai moda ekonomi baru, ekonomi digitial, selaian ekonomi industrial, ekonomi agraris dan ekonomi nomaden.

Bagi kalangan penulis perkembangan teknologi informasi ini dijadikan ruang bebas intervensi. Mereka bisa melepaskan seluruh gagasannya dengan bebas dan tanpa intervensi dari siapa pun. Melepaskan seluruh enerji intelektualnya yang selalu menggebu-gebu. Tekanan-tekanan politik terhadap kreatifitas tampaknya tak ada maknanya lagi, pemberangusan buku tak berdampak bagi dunia intelektual kritis. Mereka bisa menuliskan apa saja yang ingin disampaikan ke publik, dengan bebas, dari mana saja dan kapan saja. Sungguh benar-benar para intelektual mengalami orgasmenya. Tumpah sebanyak-banyaknya, tanpa batas, tanpa rintang.

Pada tahap inilah, jurnalisme warga mulai menguat di negeri ini. Berbagai portal berita yang mengidentifikasi diri sebagai jurnalisme warga bermunculan. Untuk menyebut sebagiannya, misalnya, HOKI (Harian Online Kabar Indonesia) beranggoatakan komunitas yang menyukai penulisan laporan (news), portal suarakomunitas.net, media yang dikembangkan oleh para jurnalis radio komunitas di Indonesia dengan anggota tidak kurang dari 350 jurnalis warga, portal swaranusa.net, portal yang dikembangkan para relawan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) untuk kampanye isu hak seksual dan reproduksi, jender dan HAM, dan tentu saja, yang cukup fenomenal portal kompasiana, yang mewadahi hampir seluruh corak kepenulisan, dari mulai news, opini dan sastra.

Aktivis gerakan sosial, tampaknya juga memiliki ruang baru untuk melakukan mobilisasi sumber daya. Tidak sekedar komunikasi yang menjadi begitu cepat, untuk membangun kesepakatan-kesepakatan secara nasional dan internasional, melainkan juga amat mendukung pengembangan berbagai agenda dengan cepat dan berbiaya rendah. Termasuk kemanfaatan yang dirasakan, digunakan sebagai mobilisasi tanda tangan atau dukungan internasional dalam kasus-kasus kemanusiaan di berbagai belahan dunia.

Begitulah…, semuanya masuk dalam hiruk pikuk perkembangan dan pertumbuhan yang begitu mengejtukan. Semuanya bisa ambil bagian sesuai dengahn kepentingannya masing-masing, seberapa besar memiliki kemampuan untuk menarik perhatian publik.***

Dengan kaitkata , ,

One thought on “Media Sosial, Orgasme Intelektual dan Menggalang Dukungan

  1. jensen99 mengatakan:

    Itu senangnya berinternet di negara yang internetnya relatif bebas. Patut disyukuri, karena tidak semua negara internetnya sebebas itu. Sekarang kita harap saja supaya koneksi di negara kita makin murah, cepat dan merata sampai ke kampung2.😉

    btw, itu bukan tweeter namanya pak, tapi twitter.😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: