Menggugat Gender

Gender sebagai alat analisis terjadinya penindasan terhadap perempuan tampaknya harus segera dipertimbangkan ulang. Ada 3 (tiga) alasan yang mendasarinya gagasan ini. Pertama, pembacaan ketertindasan perempuan dengan menggunakan analisa gender meletakkan perempuan berhadap-hadapan dengan laki-laki.

 Kedua, analisa gender mentertentangkan pekerjaan-pekerjaan di wilayah publik sebagai indikator kemajuan perempuan dan pekerjaan-pekerjaan di wilayah domestik sebagai indikator keterbelakangan perempuan.

Ketiga, analisa gender hanya menyentuh konflik ideologis antara habitus makhluk bervagina di satu kelompok dan habitus makhluk berpenis di kelompok yang lain. Mengabaikan fakta ketidakadilan yang terjadi di dalam habitus bervagina dan dalam di habitus berpenis itu sendiri.

Seksualitas

Seksualitas bisa dipertimbangkan sebagai alat analisa ketertindasan secara lebih luas, selain alat analisa gender. Argumentasi substansialnya, seksualitas mampu mendedah persoalan ketertindasan terhadap perempuan dan juga laki-laki sekaligus yang tak mampu disentuh analisa gender. Seksualitas tidak mempersoalkan ruang publik dan ruang domestic, makhluk bervagina dan makhluk berpenis. Pijakan analisanya pada wacana ketertindasan sebagai akibat kontrol atas tubuh, pendisiplinan tubuh untuk kepentingan-kepentingan orientasi seksual dominan dan kepentingan kapital-industrial.

Sebagai contoh, sunat perempuan, sangat susah dijelaskan sebagai akibat dari tindakan laki-laki terhadap perempuan, karena yang bekerja adalah nilai-nilai agama, selain laki-laki sendiri berada dalam konstruksinya. Dengan analisa seksulitas, sunat perempuan bisa dengan gamblang dibaca sebagai bentuk kontrol tubuh perempuan, kontrol atas gairah seksual, dengan disandarkan pada doktrin agama, nafsu perempuan sembilan dan akalnya satu, sementara nafsu laki-laki satu dan akalnya sembilan.

Ketertindasan yang dialami perempuan dan laki-laki homoseksual yang dilakukan perempuan dan laki-laki heteroseksual, dengan mudah dikenali melalui analisa seksualitas. Pertarungan yang juga disandarkan pada doktrin agama, manusia yang benar: perempuan dan laki-laki, untuk saling cinta-mencintai. Akibatnya, mereka yang berhasrat terhadap sesama jenisnya dianggap sebagai masalah dan harus dilurus-luruskan.

 

Dengan kaitkata , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: