Duka dari Kaimina

Keluarga kecil itu tak ada yang menangis lagi. Seorang ayah, istri, dan anak mungilnya, kini sedang berbahagia di pangkuan Bapak di Surga. Bersama 24 orang lainnya. Doa mengalir-alir, menghembus umpama angin, menyapa manis buah anggur yang meranum.

Merekalah korban jatuhnya pesawat Merpati di laut Kaimina, siang tadi. Pesawat baling-baling dengan 27 penumpang, termasuk awak pesawat, tersungkur saat sudah mendekati kota tujuan. Tubuhnya berantakan, hancur tak lagi berbentuk.

Apa yang bisa dikatakan dengan duka ini? Cukupkah dengan mengheningkan cipta yang dipimpin Presiden di depan para pemimpin negara-negara ASEAN di Jakart? Cukupkah dengan pemberian dana pertanggungan dari Jasa Raharja?

Tanpa menunggu jeda, jawabannya tentu saja tidak. Karena kita meyakini, duka itu tidak patut manakala disebut sebagai bencana. Sebab Tuhan tidak akan pernah menciptakan bencana dengan semena-mena. Karenanya, dugaan paling patut diajukan tentu saja karena kelalaian.

Tak perlu diurai lagi. Transportasi udara memang bukan pilihan di tanah Papua. Bukan soal punya uang atau tak memilikinya. Beberapa wilayah memang harus ditempuh dengan jalan udara. Tidak ada kemungkinan lainnya.

Perawatan yang seksama dan terus menerus sudah sepatutnya dilakukan untuk setiap pesawat, tanpa melalaikan detail. Tentu agar terhindar dari duka yang sebenarnya tidak harus terjadi. Kerusakan yang tidak seharusnya muncul dan mencelakakan manusia.

Sanksi merupakan hal penting yang harus diberikan kepada pimpinan maskapai. Sebab air mata lara dan duka yang berbaur dengan riak laut itu, terlalu murah jika hanya disandingkan dengan mengheningkan cipta, uang jasa raharja, dan konferensi pers.

Dengan kaitkata , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: