Keperawanan yang Disoal-soalkan

Terbacalah dalam berita, sebagian anggota DPRD Jambi, mengusulkan agar para pelajar diperiksa keperawanannya sebelum mereka memasuki diterima sebagai siswa di sekolah. Akh…, alangkah rancunya pemikiran mereka. Nalar yang hanya mengandalkan pertimbangan-pertimbangan dangkal, tak memiliki kedalaman pengetahuan dan cakrawala peradaban. Tak mengetahui studi seksualitas dan memahami konsep hak asasi manusia.

Cara-cara, kehendak-kehendak untuk menunjukkan citra moralitas yang tidak benar metodologinya. Strategi salah kaprah dalam penyelesaian masalah-masalah sosial berkaitan dengan seksualitas remaja. Sayangnya, mereka tak hendak belajar, atau setidak-tidaknya bertanya kepada remaja, persoalan apa yang sesungguhnya membelit mereka. Jika terus tak berubah kebebalan ini, yang terjadi adalah pelanggaran HAM besar-besaran kepada remaja.

Fakta usulan pemeriksaan keperawanan ini sedang menunjukkan beberapa persoalan sekaligus. Pertama, anggota DPRD Jambi, tidak memahami terbatasnya akses remaja terhadap informasi dan pendidikan mengenai seksualitas. Keterbatasan yang kemudian membawa remaja untuk mencaritahu berbagai informasi mengenai seksualitas yang tersebar-sebar, tetapi tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Akibatbnya, remaja hidup dalam mitos mengenai seks, mereka menganggap, melakukan hubungan seks satu kali tidak akan hamil, setelah melakukan hubungan seks, lalu berloncat-loncatan tidak akan hamil, onani menyebabkan dengkul kopong, darah menstruasi merupakan darah kotor dan harus dibuang jauh-jauh, karena dihuni setan.

Kondisi seperti ini, jawabannya bukanlah pemeriksaan keperawanan untuk menjamin mereka belum melakukan hubungan seks, melainkan penyediaan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan mengenai seksualitas. Salah satunya, seperti yang dilakukan para remaja di Yogyakarta, yang tergabung dalam Yogyakarta Youth Forum. Mereka terus menerus melakukan advokasi agar kesehatan reporduksi dan seksual menjadi kurikulum yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Kedua, usulan ini sedang mendemonstrasikan bagaimana posisi perempuan dalam kehidupan sosial kita. Membenarkan asumsi, perempuan memang hidup dalam proses pendisiplinan tubuh yang dilakukan laki-laki. Sebuah ketimpangan jender yang masih begitu kental dan kuat dalam sistem sosial di Indonesia. Dalam studi-studi seksualitas menunjukkan kontrol atas tubuh perempuan, salah satunya melalui penjagaan keperawanan perempuan. Selaput dara yang amat tipis itu menjadi ukurannya. Tidak pernah dipahami, selaput itu bisa saja robek hanya karena perempuan bersepeda. Padahal, kerusakannya tidak akan bisa terlihat dengan nyata, antara rusak karena bersepeda dan karena masuknya penis ke dalam vagina perempuan.

Kontrol atas tubuh perempuan, juga dilakukan laki-laki dengan menerapkan praktek sunat perempuan. Tindakan yang tidak saja melukai, menyakiti, tetapi tindakan yang didasarkan pada asumsi, perempuan memiliki kebinalan seksual, kekuatan seksual di atas laki-laki. Untuk menaklukannya, dihilangkanlah pusat saraf paling sensitif dalam tubuh perempuan, klitorisnya.

Apakah anggota DPRD Jambi menyadari kesemuanya? Entahlah, jika saja mereka belum tahu, semoga saja mereka membaca kompasiana.com. Sehingga menjadi bertambah-tambah saja kecerdasannya.***

Dengan kaitkata , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: