Kenapa Ingin Surga, Harus Menyusahkan Orang?

Saya merasa sedikit tenang, manakala mendapat informas tiga hari lalu [25/9], isu Front Pembela Islam (FPI) yang akan menyerang Gedung Kebudayaan Jerman, Goethe House dinyatakan tidak benar oleh Kepala Kepolisian Sektor Menteng, Komisaris Arsdo Simatupang. Pasalnya, di gedung itu dikhabarkan akan diputar berbagai film mengenai gay dan lesbian.

Siang ini, hati berubah gundah, sebuah pesan pendek saya terima, “fpi menyerang qfest di goethe institut,” begitu informasinya. Kegundahan ini membawa pada sebuah pertanyaan besar, mengapa di negeri mayoritas muslim–yang katanya kehadiran agama ini sebagai rahmatan lil alamin–masih saja selalu terdengar tindak kekerasan untuk menyelesaikan perbedaan cara pandang dalama realitas kehidupan ini.

Lantas pikiran saya menerawang jauh ke belakang, puluhan tahun silam, ketika ngaji di pesantren dulu, kita diajarkan doktrin, ‘tidak ada seorang pun yang akan menanggung dosa orang lain, wa la wizron ukhro.’ Artinya, ketika seseorang atau sekelompok orang diduga melakukan tindakan salah dan mengakibatkan sebuah dosa, maka orang lain atau kelompok lain, tidak akan pernah menanggung dosanya. Lantas, kenapa ada sekelompok orang yang begitu takut, sehingga harus menghancur-hancurkan, menyingkir-singkirkan orang atau kelompok lain yang dianggapnya, dalam perspektif mereka sendiri, bukan perspektif orang lain atau kelompok lain, melakukan tindakan dosa, menjadi begitu gerah dan geram? Padahal mereka sama sekali tidak akan pernah menanggung dosanya?

Jika demikian, tergelitik pikiran saya, serangan FPI terhadap pemutaran film gay dan lesbian, atau secara umum kebencian terhadap kelompok masyarakat yang memiliki orientasi seksual sesama jenis itu, bukan didasarkan pada takut menanggung dosa orang lain. Setidaknya, dua hal bisa diajukan sebagai jawaban. Pertama, tindakan itu dilatarbelakangi oleh semangat amar ma’ruf nahi munkar. Sebuah doktrin, yang mengajarkan untuk saling memerintah berbuat baik dan mencegah kemungkaran. Jika ini konteksnya, tentu saja tidak harus dilakukan dengan tindakan anarkhis dan brutal, sebab mekanisme dalam Islam juga sudah disediakan, wajadilhum billatihia akhsan, berdebatlah dengan cara-cara yang baik, syuro bainahum, musyawarahkan lah di antara kamu sekalian.

Nah, kalau kita sudah mengajak seseorang untuk berbuat baik dan menjauh kemungkaran, lantas orang atau kelompok lain memiliki cara pandang yang berbeda, maka sudah bukan menjadi urusan para pengajur kebaikan. Semuanya dikembalikan kepada sang Pencipta. Dalam tradisi Islam, ada satu kisah mengenai putra Nuh, yang ketika banjir bandang menenggelamkan kampung mereka, putra Nuh tetap tidak hendak beriman terhadap ajakan ayahnya, Tuhan hanya memperingatkan Nuh agar tidak usah menjadi mnerana, sebab tugasnya hanyakah menganjurkan orang beriman, bukan menjadikan seseorag menjadi beriman.

Itu jika kita menggunakan perspektif pilihan orientasi homoseksual merupakan tindakan salah dan dosa. Jika tidak, maka urusannya menjadi berbeda. Pemaknaannya, adalah pemaksaan cara pandang dalam konteks keimanan untuk orang lain, atau bahkan untuk orang yang berada di luar keimanan mererka sendiri. Dengan begitu, amar ma’ruf nahi mungkar justru bisa berubah menjadi aniaya terhadap rasa iman kelompok lain.

Kedua, tindakan penyerangan itu dilakukan oleh orang yang merasa harus mendapatkan surga, jannah al na’im, tempat yang penuh kenikmatan. Kehendak ini tentu saja tidak bisa disalah-salahkan, meskipun kadang menjadi lalai, karena ibadah yang dilakukan justru demi mendapat surga dan menghindari neraka, bukan karena Allah sang Pencipta. Yang dipersoalkan, caranya untuk mendapatkan surga, karena harus mengajar-hajar, meniadakan kelompok lain yang berbeda pandangan. Memenderitakan orang lain. Seharusnya, capailah, kejarlah surga, dengan cara menggembirakan orang lain, menyenangkan kelompok lain. Itu saja.***

Tulisan ini juga bisa diakses di www.kompasiana.com

Dengan kaitkata , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: