Membebaskan Anak Dari Ambisi dan Arogansi

Mencermati perkembangan pendidikan anak usia dini saat ini sungguh amat mengkhawatirkan. Anak-anak berada dalam situasi tertekan yang luar biasa. Mereka menjadi korban dua lembaga pendidikan sekaligus yang mestinya mampu menjamin proses perkembangan dan pertumbuhannya sesuai dengan tahapan usia. Kenyataannya mereka dipaksa untuk memenuhi ambisi orang tua melalui lembaga pendidikan anak usia dini dan menghadapi arogansi sekolah dasar, sebagai lembaga pendidikan formal paling awal.

Ini memang sudah menjadi lingkaran setan yang susah sekali mengurai ujung-pangkalnya. Tetapi setidaknya, bisa kita mulai dari sekolah dasar yang pemicu utamanya. Sebagaimana luas diketahui, sekolah-sekolah dasar yang sudah memiliki posisi favorit di masyarakat, dalam penerimaan siswa baru selalu saja mereka melakukan seleksi, sesederhana apapun bentuk tesnya. Meskipun sudah ada surat edaran dari Menteri Kementarian Pendidikan Nasional, mengenai larangan melakukan seleksi penerimaan siswa baru di sekolah dasar, pada kenyataannya surat edaran itu hanya dipandang sebelah mata.

Tes seleksi masuk sekolah dasar, tidak dibenarkan karena pendidikan ini merupakan awal pendidikan bagi anak-anak. Sehingga siapa saja berhak untuk memilih sekolah dasar yang dikehendakinya. Artinya, masuk sekolah dasar harus berdasarkan pada urut kacang, siapa yang dahulu mendaftar maka kesempatan itu diberikan kepadanya, sampai daya tampung sekolah itu terpenuhi. Sehingga penolakan anak masuk ke sekolah dasar bukan berdasarkan hasil tes seleksi, melainkan karena daya tampung sekolahnya.

Akibat seleksi masuk sekolah dasar bagi anak-anak yang berusi 7 tahun atau sebagiannya kurang dari usia itu memiliki dampak sangat buruk. Anak-anak sudah dipaksa untuk mengalami kegagalan yang akan membekas sangat mendalam dalam diri mereka. Tidak mustahil, mereka akan tumbuhnya menjadi anak yang tidak berani mengambil keputusan atau perasaan rendah diri dalam pergaulannya. Orang tua akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan kenapa anak-anak mereka tidak jadi bersekolah di tempat yang dipilihnya.

Penerapan tes masuk sekolah dasar, pada akhirnya bisa diduga semata-mata sebagai bentuk arogansi sekolah, yang hanya mau menerima mereka yang sudah mampu membaca, menulis dan berhitung. Sehingga kalau sekolah mereka kemudian menghasilkan siswa-siswa yang bagus janganlah heran, karena semuanya itu bukan kepandaian para guru sekolah dasar untuk mendidik anak-anak di kelas satu dan dua dalam bidang baca-tulis-hitung. Sama sekali tidak menunjukkan kreativitas guru sekolah dasar.

Kebijakan tes masuk sekolah dasar akhirnya berimbas pada pemaksaan lembaga pendidikan anak usia dini untuk memaksa anak-anak belajar baca-tulis-hitung, dengan mengabaikan masa-masa sosialisasi yang seharusnya mereka jalani dengan rasa senang dan riang. Lembaga pendidikan anak usia dini terpaksa mengembangkan ambisinya, dengan kepentingan agar lulusan mereka sudah memiliki kemampuan baca-tulis-hitung, sehingga para orang tua berduyun-duyun memasukkan anak-anak mereka ke lembaga pendidikan yang dikelolanya.

Situasi berkelindan inilah yang pada akhirnya menjadikan anak menjadi korban ambisi orang tua dan lembaga pendidikan anak usia dini dan setelah selesai bermain sambil belajar di lembaga pendidikan usia dini, mereka akan menghadapi arogansi sekolah dasar melalui tes seleksinya.

Mungkin saja anak-anak memang benar-benar akan mampu menguasai ilmu baca-tulis-hitung, tetapi mereka akan miskin dari kreativitas, rasa sosial dan rasa seni. Yang ada hanyalah anak-anak yang individualis dan tidak memiliki rasa solidaritas karena potensinya tidak dikembangkan.

Mungkin asumsi yang dikembangkan ini berlebihan, tetapi penting untuk dipikirkan, bagaimana anak-anak yang polos, sedang belajar besosialisasi dengan pernuh rasa riang dan gembira harus menjadi korban arogansi dan ambisi. Inilah sebuah interupsi: memebasakan anak dari arogansi dan ambisi” orang-orang dewasa.***

2 thoughts on “Membebaskan Anak Dari Ambisi dan Arogansi

  1. Ayu mengatakan:

    terima kasih atas tulisan ini pak Muk, saya perlihatkan sama Mbak saya yang anaknya baru masuk SD. kebetulan ponakan saya berhasil diterima di SD favorit dan mulai bersikap arogan ala kanak2 kepada sepupunya.dan Mbak saya cukup tertegun membaca tulisan ini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: