Jurnalisme Warga: Menyoal Tanggung Jawab Hukum Penulis

Kompasiana, akhirnya memantapkan niatnya untuk mempublikasikan tulisan kompasianer yang dinilai memadai melalui klasika di edisi cetak Kompas. Tentu merupakan khabar yang sangat menggembirakan. Meskipun dalam tahap awal baru dikembangkan di tiga wilayah, Medan [termasuk Aceh], Palembang [yang bisa dikembangkan ke wilayah Sumbagsel, seperti tanggapan Kang Pepih Nugraha] dan Makassar.

Kita patut memberikan apresasi setinggi-tingginya terhadap keseriusan Kompasiana dalam mengembangkan tradisi berbagi informasi melalui mekanisme pengembangan jurnalisme warga dan jantraan ke depan mengenai pengembangan media informasi yang konvergen, tidak semata-mata multimedia. Hanya saja, ada satu pertanyaan krusial yang berkaitan dengan nalar jurnalisme warga manakala tulisannya dipublikasikan melalui media formal, seperti KOMPAS. Siapa yang akan bertanggung jawab manakala tulisan itu dipersoalkan secara hukum oleh pembaca ataupun oleh para pihak yang merasa dirugikan oleh sebuah tulisan itu?

Dalam berbagai diskusi mengenai jurnalisme warga selama ini, seluruh akibat yang ditumbulkan oleh laporan jurnalistik itu menjadi tanggung jawab penulisnya sendiri. Maka tidak mengherankan manakala kita menemukan informasi di beberapa negara, seorang blogger ditangkap dan menjalani interograsi dan penahanan karena harus bertanggung jawab atas tulisannya tersebut. Meski di Indonesia, kita belum memiliki pengalaman buruk seperti ini, kecuali tulisan terakhir yang dibuat oleh Prita, dan dianggap mencemarkan nama baik Rumah Sakit OMNI Internasional.

Persoalannya menjadi ’samar’ manakala laporan jurnalistik yang ditulis oleh seorang jurnalis warga lantas dipublikasikan dalam media cetak, misalnya, KOMPAS. Apakah jika timbul masalah karena tulisan itu tetap menjadi tanggung jawab sang jurnalis warga atau akan beralih menjadi tanggung jawab KOMPAS? Sebab tradisi yang ada selama ini, pemuatan tulisan yang dilakukan oleh media cetak mainstream bisanya dalam bentuk opini [baik artikel maupun resensi buku], dan karya sastra [cerpen atau pusi]. Kalau toh ada laporan perjalanan, biasanya hanya yang ditulis oleh penulis khusus, yang mungkin saja, ada mekanisme permohonan dari redaksi. Aturan mainnya, seluruh akibat dari tulisan diluar tanggung jawab media yang memuatnya, alias menjadi tanggung jawab sendiri, sang penulis.

Persoalan ini tampaknya perlu untuk diperbincangkan bersama, sebelum segala sesuatunya terlanjur tak terpikirkan. Kompasiana [Kang Pepih Nugraha (?)] sejak pagi-pagi mesti membuat kesepehaman dengan para kompasianer, misalnya, opsi pertama, manakala terjadi akibat hukum dari laporan jurnalistik yang dibuat kompasianer dan dipublikasikan melalui edisi cetak KOMPAS, tanggung jawab tetap berada di pihak penulis. Opsi kedua, tanggung jawab hukum akibat yang ditimbulkan dari laporan jurnalistik itu akan menjadi bagian dari tanggung jawab KOMPAS sebagai sebuah perusahaan penerbitan.

Berdasarkan dua opsi itu, jika saja kompasianer ditanya, tentu saja dan tampaknya akan memilih opsi kedua. Di satu sisi menggembirakan karena karyanya bisa dipublikasikan di KOMPAS edisi cetak, yang tentu saja bukan soal yang sederhana karena harus bersaing ketat dan panjangnya antrian tulisan [dan seorang kompasianer sudah bertanya tentang honor]. Di sisi yang lain, menjadi nyaman dalam melakukan reportase, dan tentu saja memiliki keberanian untuk juga memuat persoalan-persoalan yang sensitit.

Jika ini yang dipilih dan disepakati KOMPAS, akh, alangkah dahsyat kebijakan KOMPAS, karena akan menjadi pioner dalam pengembangan jurnalisme warga yang kritis, dan memiliki bobot lebih karena laporan kritis itu dipublikasikan oleh KOMPAS. Siapa sich, yang tidak khawatir, jika sebuah kritik dilontarkan melalui halaman KOMPAS. Tidak penting di halaman depan, tengah, atau belakang. Bravo untuk semuanya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: