Facebook: Besok Pagi saya Banyak Teman

Bertahun saya bertahan melawan budaya massal: memiliki account facebook. Bukan alasan macam-macam, seperti facebook  menggurangi produktivitas, facebook membuat candu, facebook wadah narsis. Bukan sama sekali. Saya hanya ingin melatih diri saya sendiri, bagaimana berada dalam serbuan dahsyat budaya massal, sementara saya tidak ada di dalamnya, tetapi berada di antara orang-orang yang setiap harinya meunjukkan status, baca informasinya di FB-ku. Buahnya, saya oleh kawan-kawan relawan pekerja sosial dicap: “tidak gaul”. Dan saya hanya tersenyum saja.

Saya sebenarnya sudah sangat bangga berhasil bertahan dan jejaring sosial ini. Meskipun saya sama sekali tidak ada apa-apanya, ketika berhadapan dengan Dr. Darwis Khudhori, orang Indonesia yang sekarang berkerja di salah satu Universitas terpercaya di Perancis. Kekalahan saya adalah, sang Doktor ternyata sampai saat ini, mampu bertahan dengan tidak memiliki telepon seluler. Masya Allah.

Saya sungguh tidak tahu apa yang melatar belakangi adanya Hari Bebas Facebook, yang katanya, juga sudah ditulis oleh sebagaian kompasianer, besok pagi: 31 Mei. Bagaimana semua orang akan diseru untuk tidak mengakses jejaring sosial ini. Saya hanya membayangkan, ini akan semacam seremonial moral tak bergigi, seperti juga bagaimana seruan nasional untuk satu hari tanpa televisi. Seruan “tanpa” yang tidak akan pernah bisa menandingi seruan tanpa aktivitas apapun, ketika hari Nyepi di Bali.

Saya justru sekarang sedang menduga-duga dengan rasa masygul, jangan-jangan seruan ini berkait dengan woro-woro mengenai pembuatan ilustrasi atau kartun atau apapun namanya mengenai Muhammad SAW, yang kita dengar beberapa waktu lalu. Jika dugaan saya ini benar, sungguh hari tanpa facebook merupakan hari duka bagi sebuah alat media komunikasi. Kebencian dan ketidaksukaan terhadap media, harus dilakukan dengan melawan atau melakukan pemberangusannya. Apapun alasannya, dengan memproklamirkan hari ‘tanpa’, berarti memiliki makna bingkai ‘perlawanan’ atau ‘permusuhan’. Hari Anti Rokok, berarti tindakan perlawanan terhadap rokok, hari anti kekerasan terhadap perempuan, berarti tindakan perlawanan terhadap kekerasan yang dialami perempuan, dan seterusnya.

Jika nalar ini terus dianut dan dikembangkan oleh para aktivis media, termasuk para kompasianer, sungguh amat sangat disesalkan. Pasalnya, nilai-nilai dan sikap semacam ini, akan mengajarkan kepada publik, manakala media massa di Indonesia ada yang melakukan kesalahan, maka tindakan yang akan dilakukan oleh masyarakat adalah memberangus, membakar dan menyetop penerbitan atau penayangan media massa tersebut. Jantraan ini mungkin bisa dikatakan keterlaluan, tetapi tanpa sadar semangat inilah yang sedang kita ajarkan kepada publik di negeri ini. Negeri yang masih selalu tidak sungguh-sungguh memberikan kebebasan terhadap dunia media massa kita, negeri yang hanya ingin disebut ’seakan-akan’ mengehargai kebebasan informasi. Misalnya, saja, belum lagi negara menjalankan UU KIP, pada saat yang negara sudah menyiapkan UU Kerahasiaan Negara.

Sekarang: saya memang bangga besok akan memiliki banyak teman, tetapi saya sedih jika latar anti terhadap facebook jika benar seperti yang saya sangkakan.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: