Diperlukan Transparansi dan Kejujuran

Ada pertanyaan yang menggelitik dalam obrolan dengan beberapa teman, “apakah pengelolaan dana bank syariah yang terkumpulkan sebelum dipinjamkan ke nasabah disimpan di bank konvesional atau dimainkan dalam pasar modal?” Pertanyaan ini sesungguynya cukup mendasar, karena jika benar disimpan di bank konvensional atau dimainkan di pasar modal, kita menemukan sebuah inkonsistensi gagasan dan ideologis.

Sampai saat ini, yang berkembang di masyarakat, konsep pengembangan bank syariah setidaknya memiliki tujuan agar praktek ekonomi di Indonesia sesuai dengan doktrin Islam, yang membebaskan manusia dari keharaman riba. Karenanya, produk-produk yang ditawarkan juga menggunakan istilah-istilah fikih yang berkaitan dengan muamalah, ada mudharabah, musyarakah dan sebagainya. Keseluruhan prosesnya mengikuti akad-akad fikiyah, termasuk dalam pembagian hasil atau keuntungan dari transaski pinjamannya.

Karenanya, untuk menjamin seluruh matarantai ekonomi syariah ini berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, secara ideal, tentu saja pengelola bank syariah harus menghindarkan diri dari praktek-praktek ekonomi kapitalis yang menghisap, seperti masuk dalam permainan pasar modal, pasar uang, atau pembelian saham yang di dalamnya sangat berisiko tinggi dan karena itu masuk dalam unsur ‘judi’ yang diharamkan dalam Islam. Dengan demikian, bank syariah yang dikembangkan sungguh-sungguh substansial, tidak hanya dengan menyediakan para karyawan yang menggunakan busana muslim dan muslimah, menyambut nasabah dengan ucapan salam dan mengucapkan astaghfirullah manakala terjadi kesalahan pencatatan.

Tantangan

Keragu-raguan sebagian kalangan Islam kritis terhadap pengembangan bank syariah, terletak pada posisi kritis pengelolaan dana yang terkumpul dalam bank syariah ini. Sebuah tantangan serius bagi pengelola bank syariah jika hendak menarik sebanyak mungkin nasabah, termasuk dari kalangan Islam kritis, tidak saja dari kalangan yang sungguh-sungguh membutuhkan pinjaman dana, atau mereka yang mudah terkelabui dengan istilah ’syariah’.

Apa yang mesti dilakukan untuk menerima tantangan ini, pengelola bank syariah harus berani melakukan transparansi dan memberikan kejujuran dengan mempresentasikan dengan sebenar-benarnya, manakala dana yang terkumpul memang tidak disimpan di bank konvensional atau pun dimainkan dalam pasar modal. Mereka harus menunjukkan kepada publik, dana yang terkumpul juga dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, sehingga benar-benar mencerminkan watak ekonomi Islam.

Dengan melakukan tindakan ini, maka pengelola bank syariah akan terhindar dari sifat-sifat munafik, seperti jika dipercaya mengkhianati (idza tu’mina khona), dan jika berbicara berdusta (idza hadatsa kadzaba).[]

Dengan kaitkata , ,

One thought on “Diperlukan Transparansi dan Kejujuran

  1. mumetzwae mengatakan:

    kalau dana yang disimpan di bank konvensional semacam BI adalah suatu keharusan….karena belum ada BI syariah,,,lantas menurut saya UU itu terus perlu diperbaiki…
    disini perlu peran aktif wakil rakyat, pengusaha muslim, ulama dalam menelurkan ide2..
    kendala bank syariah itu ada dua, internal dan eksternal…yang pada intinya belum memenuhinya idealisme komunitas dimana bank syarariah bisa berkembang…
    bank syariah itu secara konsep sangat bagus, tapi ibarat tanaman padi yang berbibit unggul kalau ditanam di lahan yang kurang subur juga hasilnya ga maksimal…
    kalau menilai bank syarariah itu mesti ada beberapa fase :
    1, fase bank konvensional
    2. fase bank nol bunga
    3. fase bank syariah bagi hasil dan intrumen syariah
    4. fase sistem ekonomi syariah sebagai sistem tunggal atau paling
    menjadi mayoritas…

    fase yg kita jalani baru ke tiga itu hanya perangkat hukum perundangan2 belum mendukung sepenuhnya..

    masalah transparansi hal ini jg menjadi PR sendiri, transparansi harus didukung dengan sistem, semisal sistem audit syariah….sementara ini sistem audit yang ada baru menginjak pada sisi analisa keuangan belum mencapai audit dari segi kesesuaian dengan syariah…
    kalau saya yakin perkembangan bank syariah adalah mengikuti dinamika umat Islam….kalau umat Islam masih nanggung2 saja dalam berekonomi ya wujud bank syariah adalah sama nanggungnya, kan suatu sistem adalah ibarat cermin yang memantul
    contoh riil, berapa market share dari bank syariah?

    baru sekian persen dan sangat kecil….
    berapa juga prosentase dari pasar mengambang, ini juga masih kecil…
    berapa persen pasar loyalis syariah? sangat kecil…
    btw alhamdulillah, pergerakan bank syariah semakin bagus, bisa berkembang dengan cepat, asalkan ada dukungan penuh dari ulama, pemerintah, umat Islam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: