Nylungsumi (2)

Kliwon bangun pagi dengan rasa tubuh pegal-pegal. Masih berbalut sarung–tidak usah ditanyakan apakah mengenakan celana dalam atau tidak–yang digunakannya untuk kemul semalam. Semalam memang Kliwon tidak bisa tidur, pikirannya mengembara ke mana-mana. Puncaknya, manakala dirinya mempertanyakan tentang dirinya sendiri, tentang apa yang selalu dipikirkan, tentang apa yang selalu diomongkan, dan tentang apa yang selalu dilakukan. Kliwon merasa bukan siapa-siapa pagi ini. Secangkir teh hangat buatannya sendiri, dan sebatang rokok kreteknya, terasa mentertawakan dirinya, yang bukan siapa-siapa.

Kliwon merasa teramat sakit di seluruh telapak kaki, betis dan pahanya. Kulitnya benar-benar mulai mengelupas sedikit-demi sedikit. “Akh, saya benar-benar tidak tahu,” bisik Kliwon.

“Pak, kenapa kakinya,” tanya Ninda. Tidak seperti biasanya, anak perempuannya memberikan perhatian sebegitu dalam kepada dirinya. Tidak biasanya, Ninda mempertanyakan mengenai perubahan pada tubuhnya. Bertahun-tahun, panu menebal, sehingga umpama tatto tiga dimensi di punggungnya, tak pernah juga dipertanyakan.

“Entahlah, ini terjadi begitu saja, tiba-tiba, orang Jawa menyebutnya, mak bedunduk,” kata Kliwon.

“Cobalah ingat, Pak. Mungkin Bapak salah makan atau salah suntik waktu periksa bronchitisnya kemarin,” kata Ninda.

Salah makan, salah suntik? Ada-ada saja komentar Ninda ini. Seperti tidak tahu saja, lambung besar Kliwon kebal dengan berbagai macam jenis makanan. Baja saja, bisa meleleh terkena asam lambung Kliwon, apalagi sekedar singkong ataupun cumi-cumi.

Salah suntik, tidak mungkin. Dalam dunia kedokteran saat ini, karena makin mahalnya jarum suntik, sedapat mungkin dihindari penggunaannya. Datang ke dokter, ditanyakan apa yang dirasakan, lalu ditempeli stetoskop, dokter pun sudah tahu langsung apa yang mesti diberikan obatnya. Tak ada suntik, tak ada apa-apa.

“Bapakmu sedang nylungsumi,” kata Yuk Nah dengan suara keras dari dapur. Suaranya sebegitu entengnya, seperti tidak memperdulikan rasa sakit yang begitu hebat dirasakan Kliwon.

“Kok seperti ular saja,” kata Ninda menimpali suara Ibunya.

Kliwon tidak perduli, ia begitu dalam masuk dalam dirinya sendiri. Sibuk mencoba menjawab setiap pertanyaan yang timbul tenggelam dalam benaknya sendiri. Suara-suara dari luar tak terdengarnya lagi, kecuali suara batinnya sendiri. Menghantam-hantam, mencabik-cabik. Betapa tolol dirinya selama ini, yang selalu memandang segala sesuatunya secara matematis. Kliwon tidak pernah menyadari, betapa realitas itu selalu memiliki wajah beribu-ribu rupa. Kini ia dihadapkan pada ribuan realitas dengan beribu-ribu wajah.

Realitas tentang waria, yang selalu dipersalahkan karena pilihan-pilihannya. Karena keterpenjaraan jiwa yang salah penempatannya. Bukan kehendak diri mereka sendiri untuk menjadi waria, tetapi jiwanya yang menuntunnya. Jiwa anugerah Tuhan, dan tak mungkin Tuhan melakukan kesalahan dalam penciptaanNya. Tetapi kenapa penciptaan Tuhan dipersoalkan, diharam-haramkan? Kliwon bergidik mengingatnya, menelaahnya.

“Sudah melamunnya, katanya mau loncat-loncat lagi,” kata Yuk Nah mengingatkan suaminya yang masih terpekur–aha, terpekur tidak tepat untuk Kliwon di pagi itu, yang lebih pas sedang nglamun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: