Nylungsumi (1)

“Apa untungnya, Pak Ne?” Yuk Nah sedikit memberikan perhatian kepada suaminya. Soalnya, di tengah-tengah kesibukan batuknya yang tiada henti, suami satu-satunya itu malah mengikuti acara di Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK). Dalam cerita Kliwon sepulang acara di hari pertama, kegiatan YBK ternyata hanya loncat-loncatan saja. Tetapi Yuk Nah tak hendak menangkap batin loncatan.

Bagi Kliwon, loncat-loncatan itu memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Kliwon merasa semuanya sebagai proses nylungsumi. Sebuah proses untuk memudakan kembali kulit tubuh, daging-daging, urat syaraf dan tentu saja batinnya yang makin rapuh. Batin yang seringkali sudah terkontaminasi berbagai nilai. Bahkan mungkin sedah mengakik, menghitam keras.

Begitulah, mengikuti proses di YBK, Kliwon menganggapnya sebagai proses nylungsumi. Kliwon kembali ke titik nol, mencoba mencari-cari mengenai makna diri dan memaknai orang lain. Kliwon mencoba menemukan apa yang ada dalam dirinya, bagaimana miliknya bisa menjadi makna bagi orang lain, memberikan cerminan mengenai alam, mengenai lingkungan dan mengenai apa itu sebenarnya “keyakinan”.

Keyakinan, yang dimaknai oleh banyak orang sebagai energi untuk memaksa orang agar mengikutinya, bahkan dengan melakukan ancaman dan tindak kekerasan untuk mencapainya. Bagi Kliwon keyakinan merupakan pedoman diri, yang hanya akan bermakna bagi dirinya sendiri. Karena keyakinan lahir dari proses sebuah pemaknaan yang sangat individual terhadap sebuah realitas dalam dan realitas luar. Terkait dengan sejauh mana imajinasi setiap individu mampu menjangkau realitas yang tak terjangkau.

Keyakinan memang membutuhkan argumentasi, alasan-alasan, dan mungkin terkadang membutuhkan pengiyaan dari orang lain. Tetapi Kliwon menganggap argumentasi bagi keyakinan, hanyalah bermakna untuk menjadikan diri kita sesuai dengan apa yang kita yakini. Mengiramakan bisikan batin, mengkoordinasikan ucapan-ucapan, dan tentu saja menuntut tindakan-tindakan. Agar setiap individu merasa memiliki dirinya sendiri, bukan dimiliki oleh siapapun. Bahkan Tuhan sekalipun.

Dari sinilah Kliwon merasa tidak mungkin individu lain mengikuti keyakinan dan argumentasinya. Sebab, setiap individu memiliki kedalaman dan kemampuan yang berbeda dalam mengapresiasi realitas. Perbedaan dalam proses mengartikulasikan apa yang dipahamainya, berbeda pula dalam mengolahnya, memilin-milin dan menghaluskan dalam batin, dan akhirnya berbeda pula dalam menyampaikannya.

Ketika Kliwon melihat orang menunjukkan kemarahan, jangan hanya dilihat pada kemarahannya yang membuncak, pada “penghuni kebun binatang” yang berhamburan, tetapi lihatlah apa yang membuatnya kemarahan sebagai alat paling efektif untuk menunjukkan diri individu. Begitu juga sebaliknya, manakala melihat orang begitu sabar dalam menghadapi sebuah realitas.

Kemarahan, kesabaran, ketidakpedulian, hanyalah sebuah aktualisasi diri, eksternalisasi diri, dari sebuah proses apresiasi dan pemaknaan realitas untuk mencari ‘kebenaran’. Dengan begitu, bagi Kliwon, kebenaran akan terus mengalir dalam proses pencarian, kebaran tidak akan berhenti pada satu titik. “Kalau kebenaran berhenti pada satu titik, maka itu bukan lagi kebenaran,” kata Kliwon.

“Maksudnya…,” ujar Yuk Nah.

“Tidak ada maksud apa-apa, tidak usah dianalisis, tidak usah menganut ilmu sosial positivistik, yang segala sesuatunya harus dianalisis. Yang dibutuhkan hanyalah pemaknaan batin. Karena itu, perbedaan menjadi kodrat paling asasi dan tak perlu untuk ditakuti apalagi harus diberangus dari muka bumi.”[]

Dengan kaitkata , ,

4 thoughts on “Nylungsumi (1)

  1. feriawan mengatakan:

    Ganas, Mas refleksinya. Baru kali ini baca-baca tulisan sampeyan. Ternyata dalem, lebih dalem daripada nyetek….:))

  2. syahrul q mengatakan:

    Keren banget tulisannya hehehe…
    Jadi pengen ikut nyelungsumi kedua atau ketiga kali…
    Namun prosesnyelungsumi itu juga membutuhkan proses, agar kulit yang terkelupas tidak membebani luka yang justru menyakiti diri sendiri…

    thanks
    salam

  3. syahrul q mengatakan:

    oya, ditunggu Nylungsumi (2) nya oke

  4. mukhotib md mengatakan:

    hahahhaa, terimakasih atas silaturrahminya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: