Kliwon Menghayal tentang People Power (4)

blogkuMalam itu tak terjadi suatu apapun atas diri Kliwon. Ia bisa tidur nyenyak. Suara dengkur mengembara ke mana-mana, menyesaki udara di rumahnya. Menurut Kliwon pada saat sarapan pagi, semalam sama sekali tidak mimpi. Hanya saja, saat bangun pagi, Kliwon blingsatan mencari lembar dua ribuan baru yang semalam ditemukan oleh telapak kakinya dan dimasukkan kie saku oleh jari tangannya.

Wah repot jadinya, nech Kliwon. Siapa yang akan disalahkannya, apakah telapak kaki, atau jari tangannya dalam peristiwa penemuan uang yang tidak jelas asal usulnya itu. Dua biji matanya tentu saja tidak hendak disalahkan, karena malam itu benar-benar gelap dan panca indera penglihatan itu sama sekali tidak berkerja. Lantas kalau ada pengadilan anggota tubuh tentu saja menjadi repot benar.

“Dari mana Bapak dapet uang itu?” Yuk Nah, girap-girap karena menemukan lembaran kertas itu di saku kliwon.

Tentu saja yang ditanya lebih girap-girap, karena persoalannya menjadi tidak sepele. Keluarganya sejak nenek moyangnya dulu, katanya terkenal anti mendapatkan uang dari nemu dan dari seluruh sumber-sumber yang tidak pernah diketahui asal usulnya. Kali ini, Kliwon telah mencederai tradisi itu. Kliwon menjadi lemas sendiri. Seluruh tubuhnya seakan tak lagi memiliki tulang belulang.

“Jawab, Pak,” kata Yuk Nah, setelah hampir lima menit tidak mendapatkan jawaban dari suami yang selama ini dibanggakan jujur dan lurus hati.

Menurut cerita yang selalu diumbar-umbar Yuk Nah, cintanya terhadap Kliwon semata-mata karena kejujuran hatinya. Kelurusan budi pekertinya. Selalu legowo untuk mengakui kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Tentu saja, semua orang mengamini cinta tulus dan suci Yuk Nah kepada Kliwon/ Bagaimana tidak, dari sisi tubuh, Kliwon memang tak ada satupun yang bisa dibanggakan, selain hitam gak jelas klasifikasinya, juga badannya penuh lukisan dari jamurnya yang ketika berkeringat akan berubah menjadi merah megah, seperti atol yang dikelilingi buih lautan. Wajahnya tak jelas bentuknya, matanya lumayan besar mbelalak, tetapi hidungnya sangat mengecewakan, pesek, ibarat jambu air dibelah dua. Rambutnya, acak-acakan tak jelas pula mesti disebutan apa, ikal tidak,kriting tidak, lurus juga tidak.

“Nah, Kliwon dapat dirimu yang berparas cantik itu sungguh anugerah, dirimu mendapatkan Kliwon sungguh-sungguh bencana,” kata Warti, teman akrab Yuk Nah waktu muda itu.

Yuk Nah hanya tersenyum dan merasa Kliwon merupakan pilihan sang Khaliq. Bagaimana tidak, Yuk Nah dulu memang tak pernah putus sesuwun kepada Gusti Allah, “jika Kliwon memang untukku, maka dekatlah, dan jika Kliwon bukan untukku maka jauhkanlah ia.” Dan celakanya,Kliwon memang pernah mendengar Yuk Nah berdoa seperti itu. Peluang inilah yang dimanfaatkan Kliwon untuk terus dekat tanpa batas. Beruntunglah Kliwon, karena Yuk Nah menganggap Tuhan mendekatkan Kliwon kepadanya.

Tetapi kini, hatinya begitu kecewa. Kliwon berdusta tentang asal usul uang yang ada di sakunya. Betapa ngungun batinnya, jika selama ini uang yang didapat Kliwon semuanya tak jelas juntrungnya. “Akh, bagaimana nasib keluarga di alam baka nanti,” kata Yuk Nah lirih.

Darah, daging, tulang belulang, sumsum, ternyata berbaur-baur dengan makanan yang dibeli dari uang yang tidak jelas juntrungnya. Yuk Nah ngguguk. Petir tiba-tiba menyambar-sambar. Membelah langit, membentuk garis lurus merah membujur ke arah timur laut.

Kliwon megap-megap tetap tidak bisa menjawab. Terbayang keindahan yang begitu memuncak ketika menikahi istri yang sangat dicintainya itu. Perempuan lincah, pandai dan sederhana. Tidak banyak menuntut, kecuali hanya meminta cinta-kasih yang tak terbatas. Tetapi, kini aku melukai perasaannya. Lembaran 2 ribuan itu benar-benar celaka. Dari mana datangnya, siapa yang bikin gara-gara? Kliwon menyingkir, meninggalkan istri terkasihnya yang masih tetap menuntut jawab. (Bersambung)

Tulisan ini juga dipublish di www.cicak.or.id

Dengan kaitkata ,

2 thoughts on “Kliwon Menghayal tentang People Power (4)

  1. Agus Suhanto mengatakan:

    hmmm saya suka tulisan ini🙂, salam kenal…
    Agus Suhanto

  2. jokoa mengatakan:

    sementara yang masih ngetrend dan terbukti, bukan people power, tapi koin power (koin prita), mungkin people power sudah dirumuskan oleh TAn Malaka dalam “de masa actie” sekitar 1930-an, tapi entah bagemana saya juga belum pernah abca itu buku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: