Kliwon Menghayal tentang People Power (3)

present1Kalau saja suasana gelap itu tiba-tiba menjadi terang benderang, kita bisa menyaksikan bagaimana wajah Kliwon ketika itu. Mata memerah yang tampak dipaksakan, bulir mata yang juga enggan untuk meninggalkan penamnpungannya dalam buluh-buluh kelopak mata. Tetapi untunglah, semua tidak terjadi. Perlahan Kliwon mengeluarkan tangannya dari sakunya. Telinganya menangkap baik-baik suara itu, mencoba mengenali, siapa di antara tetangganya yang memiliki cengkok, nada, lekuk suara seperti itu.

Usaha itu sia-sia. Tidak ada model suara milik tetangganya seperti yang baru saja didengarnya. Suara yang membawa tuduhan yang amat menyakitkan. Suara yang sungguh-sungguh sok tahu, mengatakan dirinya mengambil selembar uang. Kliwon benar-benar marah, muntup-muntup di otaknya.

Dalam gelap itu, Kliwon ingin bersumpah serapah, kalau dirinya sama sekali tidak mengambil uang, tidak menemukan uang. Dirinya hanya dalam gelap, tidak menegatahui apapun yang terjadi. Tangannya tak pernah diperintahkan untuk memasukkan lembaran uang dua ribuan baru ke sakunya. Badannya tak pernah diperintahkan untuk membungkuk dan mengantarkan jari jemari untuk menjangkau uang kertas itu di bawah telapak kaki. Kliwon juga yakin benar, kakinya tak pernah dikendalikan untuk menginjak lembaran uang dan mengatakan kepada dirinya, kertas ini uang, uang, uang.

Karenanya Kliwon menolak jika dirinya dituduh mengambil uang. Hatinya menolak keras untuk mencederai kesucian diri sebagai anak bangsa, hanya dengan sekadar menerima uang yang bukan haknya. Sama sekali dirinya tak menerimaapalagi meminta uang dari siapapun.

Tetapi Kliwon menghentikan niatnya untuk bersumpah. Suara-suara itu tak lagi terdengar, sampai gelembung air dalam gelap berbunyi lirih. Pantat Kliwon sudah terendam dalam air, dan ia kepentut-pentut. Tuhan, andaikan Engkau mendengarku, terimalah do’aku untuk segera saja memperbaiki perilaku makhluk-Mu, Kliwon, orang yang jika tertekan jiwanya, bukan menjadi gila, tetapi produksi kentutnya menjadi melebihi target produksi.

Kliwon mengerti benar dalam tradisi sumpah serapah itu. Konon, kata orang bijak dan ini menjadi ugeman dalam hidup Kliwon, sumpah itu hendaklah diminta orang lain. Jika sumpah itu keluar begitu saja dari orang yang bersumpah tanpa permintaan dari siapapun, beberapa kemungkinan bisa dilihat. Orang yang bersumpah tanpa di minta, sesungguhnya mereka yang sejak awal tidak memiliki kepercayaan diri jika dirinya akan dipercaya orang lain. Mereka sedang menunjukkan kebohongan yang senyata-nyatanya. “Saya tidak akan mengucapkan sumpah,” bisik Kliwon dengan sedikit menahan napas, disusul dengan gelembung udara bermunculan ke permukaan air suangai.

Malam itu, dengan kelihaiannya, Kliwon lolos dari tuduhan pengambilan uang. Kliwon juga lolos dari kehendak mengucapkan sumpah yang tanpa diminta itu. Kliwon merasa dirinya selamat, hingga ia keluar dari sungai. Melangkah kembali mengikuti jalan setapak menuju ke rumahnya. “Syukurlah, tidak terjadi apa-apa terhadap tubuh renta ini,” katanya kepada diri sendiri.

Kliwon memang sama sekali tidak pernah merasa menerima ataupun meminta uang. Semuanya berjalan begitu saja, bahkan yang terjadi dirinya tak kuasa untuk tidak menerima uang. Bayangkan saja, saat Kliwon nyantri dulu, dirinya sering menangis, karena ingin melakukan dusta seperti yang banyak dilakukan teman-temannya. Tetapi ia selalu gagal untuk berdusta, meski air mata sudah mengalir begitu banyaknya.

Wajar saja, manakala Kliwon sudah memiliki peluang, kewenangan, tidak akan pernah mau menerima apalagi meminta uang yang bukan haknya. Kalau tokh kemudian ada segepok uang yang ada di sakunya, semua bukanlah kehendaknya, bukanlah usahanya. Semua mengalir begitu saja, seperti sungai yang ada kampungnya itu. (Bersambung)

Tuilisan ini juga dipublish di www.cicak.or.id

Dengan kaitkata ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: