Kliwon Menghayal Tentang People Power (2)

present1Malam benar-benar gelap. Tidak ada korek api apalagi sentolop di tangannya. Hanya karena sudah beribu-ribu kali kaki tua itu melangkah, menelusuri jalan setap menuju sungai itu saja, membuat Kliwon seperti tak merasa kehilangan jejak. Alur jalan itu tampak begitu mudah diikuti, dilalui. Karena kebiasaanya itu saja, Kliwon seperti bergerak sendiri, meski akal sehatnya menolak berulangkali, tetapi kaki itu seakan melangkah sendiri. Kaki Kliwon bukanlah sepasang kaki yang mampu seperti itu.

Setiap pasang kaki di desa Bluwang, hampir semuanya memiliki pengalaman yang sama. Melangkah dalam gelap, membawa barang apa saja yang ada di jalan dan dilaluinya. Setiap yang bernilai menjadi peluang untuk mendapatkan keuntungan. Semua bisa dijadikan sumber keuntungan, meski dalam gelap yang menyelimuti. “Ah, apa gerangan yang tersentuh kaki ini,” bisik Kliwon dalam hati.

Kaki kirinya terasa menyentuh kertas di tengah jalan setapak menuju sungai. Mata tak lagi berfungsi. Pekat gekap, hitam menghalangi kemampuan mata menangkap benda. Seperti kita tahu, mata hanya bisa bekerja dengan dibantu cahaya yang menerpa benda-benda. Karenanya, mata tak juga mampu melihat jin dan setan, karena kebendaan itu tak mampu disentuh cahaya. Tetapi tapak kaki telanjang kaki melampaui kemampuan mata. “Ini bukan kertas. Ini selembar uang dua ribuan baru,” bisiknya lagi.

Dalam gelap itu, Kliwon membungkukkan tubuh. Tangannya menjulur, menggapai selembar kertas di bawah tapak kakinya yang telanjang. Ah, memang di desa Bluwang orang-orang tak terbiasa beralas kaki. Tak tahu juga rupanya tentang kesehatan. Tentang telur-telur cacing yang bisa meresap ke dalam pori kaki, dan terus merambat ke dalam jaring-jaring dinding pencernaan. Lalu, tentu saja menjadi cacingan. Cacing kremi tak juga terlalu mengkhawatirkan, paling hanya akan keluar dalam waktu tertentu terbawa kotoran atau berkerumun dan bercengkerama di sekitar lobang anus.

Cacing pita yang ditakutkan. Miliaran rupiah dikeluarkan hanya untuk memberantas jenis cacing ini. Soalnya, menurut cerita bidan Surti, cacing ini membujurkan diri sepanjang pencernaan menuju tenggorokan. Setiap makanan yang masuk, sari patinya langsung diserapnya melalui pembuluh-pembuluh lembuh yang mengembang di mulutnya. Tubuh kita tak lagi kebagian, cacing pita yang kegemukan.

Begitulah Kliwon dan para tetangganya di desa Bluwang. Tak peduli tentang alas kaki, tak peduli tentang cacing kremi dan cacing pita. Seringkali mereka hanya memahami setiap makhluk memang meski hidup. Soal dari mana untuk bisa menghidupinya, semua yang ditempuh masing-masing tak perlu dipedulikan.

Tangan Kliwon segera memasukkan selembar kertas ke dalam saku celana komprangnya. Kakinya melangkah lagi menuju sungai. Kali ini harus dipercepat, desakan-desakan dari lambungnya sudah terasa begitu kuat. Sungai tak jauh lagi di hadapannya, mungkin hanya tinggal 3 meter lagi.

“Mana uangku?”

Kliwon terkejut mendengar suara menggema itu di tengah gelap. Bahkan rambat suara itu, terdengar terulang-ulang, seakan memenuhi setiap arus air yang menjulur panjang dalam tubuh sungai. Desakan dan denyut dalam lambungnya seakan berhenti tiba-tiba. Tenggorokannya seakan tercekat, tak mampu mengeluarkan suara.

Tangannya masih dalam saku celana, suara itu menjadikannya berhenti dan seakan terekat erat di dalamnya. Siapa yang menanyakan soal uang itu, bagaimana dia tahu kalau dirinya baru saja menemukan uang dan mengambilnya? Kliwon hendak menangis dalam gelap itu. Siapa tahu air mata dan isaknya, mampu mengalihkan tuduhan dari orang yang baru saja menanyakan tentang uang yang kini ada di sakunya.*** (Bersambung)

Tulisan juga dipublish di www.cicak.or.id

Dengan kaitkata ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: