Kliwon Menghayal tentang People Power (1)

present1Tidak seperti biasanya, Kliwon sangat serius nonton TV. Perubahan tabiat Kliwon tentu saja memancing seluruh anggota keluarganya. Yuk Nah, istri Kliwon menjadi sedikit khawatir, bisa jadi akan ada pekerjaan ekstra, bikin kopi. Setidaknya ada alasan bagi Kliwon untuk meminta tolong diseduhkan kopi, “tanggung, Bu Ne. Tolong, ya, kopi nylekithonya,” kata Kliwon seringkali.

Maksum, anak lanangnya, tentu saja lebih khawatir lagi. Karena bisa-bisa jatah nonton sinetronnya terampas. Apalagi memperhatikan bapaknya, yang tak juga meletakkan remote control tv ukuran 14 inchi itu. Lain lagi, dengan Ninda, anak bungsu Kliwon, kekhawatirannya berbeda. Kebiasaan buruk Kliwon, kalau sudah berpikir serius, seringkali menjadi kepentut-pentut. “Padahal, selama sebulan ini Kliwon sedang kampanye untuk mengembalikan ‘telo’ sebagai makanan pokok di RT-nya,” bisik Ninda, dengan membayangkan teror yang bakal diterimanya dan tenbtu sama sekali tidak menyedapkan rasa.

Apa gerangan yang begitu memukau Kliwon sehingga tak juga beranjak pergi? Kencing pun tidak, apalagi buang besar. Ninda penasaran, dibukanya tirai kumal yang menutupi pintu menuju ruang keluarga. Ach, sebenarnya tak tepat benar, ruang itu disebut ruang keluarga, karena memang hanya berisi dipan kayu putih, selembar karpet kusam dan pesawat tv di sudut ruangan. Tak ada vas bunga, tak ada aroma apapun dari jenis weangian. “Oh, rupanya Bapak sedang menonton laporan gonjang-ganjing korupsi di negeri ini. Alamak, Bapak-bapak apa pentingnya nonton itu,” kata Ninda.

“Mahasiswi kok tidak mengetahui hingar bingar di negeri ini. Malu saya mendengarnya. Apa dosa Bapakmu ini sehingga sampai anak perempuannya tak hendak tertarik dengan isu korupsi,” kata Kliwon panjang lebar.

Memang begitulah tradisinya. Satu kalimat dikomunikasikan ke Kliwon, maka bergulung-gulung kalimat akan meluncur begitu saja dari mulutnya. Tak akan pernah berhenti, kecuali memang hendak berhenti sendiri. Dengar saja, Kliwon masih memiliki lanjutan kalimat untuk membuat anak perempuan menjadi segera ingin ke kamar kecil, “bapakmu ini, zaman kuliah dulu, dikenal sebagai aktivis. Tidak sekedar membakar ban di tengah jalan, ruang rektorat pun pernah Bapak kuasai,” katanya.

“Tanyalah ke Bapakmu ini tentang hidup. Tentang ideologi, dan tentang idealisme,” ujarnya lagi berbuih-buih.

“Kenapa kamu sampai tidak tertarik menonton siaran langsung ini, hah? Kenapa?” Tanya Kliwon, sambil matanya tetap tak berkedip. Ada sinar merah dan biru berpendar-pendar di mata tuanya.

“Apa yang menarik dari tayangan itu? Tak ubahnya seperti sinetron, Pak,” kata Ninda. Yuk Nah buru-buru memeluk anak perempuannya. Seperti biasanya juga, membisikan kata pendek di telinga anak perempuannya itu, “sudahlah, lebih baik kita minum teh di dapur,” bisik Yuk Nah.

“Kita bisa mendapatkan berbagai inspirasi tentang situasi masyarakat kita. Tentang sikap dan perilaku masyarakat kita. Jangan lihat siapa yang menangis, dan jangan lihat pula siapa yang tenang berwibawa. Jangan lihat siapa yang bertanya dan siapa yang menjawab,” katanya.

“Tidak ada orang yang menonton televisi tentang korupsi yang sedang ingin membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita hanya ingin membuktikan bahwa masyarakat kita memang semuanya mengalir darah seni dalam tubuhnya. Tidak peduli seni adiluhung ataupun seni carangan,” kata Kliwon.

Hatinya terasa nyeri. Ribuan jarum seakan menusuk-tusuk gumpalan daging warna merah maron dalam dadanya. Ceramah ideologisnya dengan perspektif kebudayaan itu, ternyata tak ada yang mendengarkannya. Ninda entah sudah pergi ke mana, ke dapurkah atau sedang ke toilet. Sakit itu benar-benar di pendamnya. Kliwon bangkit meninggalkan layar kaca. Tidak usah ditebak hendak ke mana Kliwon pergi, orang sekampung pun pasti sudah tahu, ke sungai di belakang rumah dan buang air besar di sana. Meski sudah memiliki kamar mandi lengkap dengan wc duduknya, tetapi Kliwon tak pernah menggunakannya. Alasannya juga sangat berperspektif kebudayaan, tak bisa keluar kalau pantatnya tak sempurna berada dalam air sungai yang mengalir. Kliwon berjalan dalam gelap…, perlahan, namun tampak pasti.*** (Bersambung)

catatan: tulisan ini juga dipulbish di www.cicak.or.id

Dengan kaitkata ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: