Teori Cap “Sendal Jepit”

present1Agenda penanggulangan HIV dan AIDS sudah melampaui lebih dari dua dekade. Tetapi Kliwon selalu mbingungi. Pasalnya, triliunan dolar telah dikeluarkan untuk mencegah terjadinya penyebaran virus ini. Setiap pemerintah juga menunjukkan semangat dan komitmen yang sama. Meskipun, di tempat ‘macul’ Kliwon, Ngayogyokarto, sampai saat ini belum juga memiliki Peraturan Daerah (PERDA) yang mengatur secara spesifik agenda penanggulangan HIV dan AIDS.

Hanya saja, yang sedang menggelisahkan Kliwon bukan soal-soal itu. Ada yang lebih menggelitik pikirannya. Tentu sudah bisa ditebak, soal yang lebih kritis dan mengglobal. Kliwon memang kadang-kadang ‘nggaya’ tidak ketulungan. Bayangkan saja, manusia menjelang ‘lanjut usia itu’ masih suka bicara cas-cis-cus, mengalahkan mahasiswa-mahasiswa yang jurusannya Hubungan Internasional. Bagaimana tidak, beberapa bulan terakhir, Kliwon sedang memikirkan soal kemungkinan adanya relasi kuat antara HIV dan AIDS dengan kolonialisme internasional. Wealah, dalah. Tidak ‘ngaca’ khan. Apa modalnya Kliwon untuk bicara teori-teori yang berkaitan dengan kolinialisme, ralasi kuasa global, apalagi dalam gandeng rentengnya dengan HIV dan AIDS. Gundul-gundul.

“Saat ini, HIV dan AIDS sudah menjadi alat baru untuk menundukkan,” katanya.

“Maksudnya?” Tanya teman sebelahnya, mencoba nyambung akal-akalannya Kliwon. Sebenarnya, yang keterlaluan temannya Kliwon itu. Lah, orang nglanglang pikirannya seperti Kliwon, kok ya, dipikirin juga.

“Begini, duduk persoalannya,” kata Kliwon mencoba mendeder kaweruh.

“Dulu kita bicara soal kolinialisme hanya semata-mata dalam bidang ekonomi. Pandangan ini tentu saja menjadi rapuh, manakala wacana mengenai kolonialisme masuk dalam wilayah pemaknaan ‘penundukkan’. Kolonialisme sebagai bentuk dari penguasaan satu kelompok atas kelompok lain. Penundukkan terhadap kelompok yang lebih lemah oleh kelompok yang lebih kuat.”

“Itu sudah kuno teorinya,” kata teman sebelahnya.

“Sebentar, itu khan latar belakang berkembangnya wacana kolonialisme. Saya ingin menempatkan HIV dan AIDS sebagai salah satu alat kolonialisme baru di dunia ini,” kata Kliwon. Teman sebelahnya manggut-manggut. Tidak jelas benar makna anggukannya itu, apakah sebagai bentuk kesepedapatan atau sekedar penghormatan. Kliwon gaek, kalau tidak dihormati, bisa kena migrain selama tujuh hari.

“Kita perhatikan, saat ini, negara-negara dengan angka HIV dan AIDS yang tinggi, menjadi obyek seluruh gagasan dan agenda negara-negara yang memiliki angka HIV dan AIDS lebih rendah. Seakan-akan, apa yang dipikirkan oleh mereka mesti dikembangkan di negara-negara yang lebih tinggi angka HIV dan AIDS-nya.

Dengan demikian, sedang bekerja sebuah nalar kolonialisme di sana. Label negara-negara terbelakang, miskin, sedang berkembang, kini bertambah satu label lagi, angka HIV dan AIDS tinggi. Semua label ini, menyudutkan dan membangun posisi biner,” kata Kliwon panjang lebar.

“Saya sangat lemah pijakan teoritisnya,” kata teman sebelahnya.

“Nah, justru kita mesti membangun teori baru, untuk mengkritisi bagaimana setiap negara yang merasa dirinya memiliki angka lebih rendah, merasa memiliki kewenangan untuk mengatur apa saja yang harus terjadi dan harus dikembangkan di negara yang angka HIV dan AIDSnya tinggi.

Saat ini, agenda HIV dan AIDS harus dibaca dengan kritis, karena mulai menampak adanya praktek-praktek kolonial di sana. HIV dan AIDS, tidak lagi diposisikan sebagai agenda kemanusiaan, melainkan mulai ditumpangi dengan agenda ekonomi dan industri.

Dengan menggunakan nalar seperti ini, tak lemah sesungguhnya mengatakan HIV dan AIDS sebagai model menguatnya kolonialisme baru. Penundukkan baru. Penguasaan baru.”

Walah-walah. Kliwon, Kliwon. Itu to, teori yang hendak kau bangun. Ngaca dong, orang seperti dirimu, kok ya, ngoyo woro, membangun teori segala macam. Tunggu saja para ahli wacana dan para peneliti yang nanti akan membaca kecenderungannya. Jangan suka ‘nggege mongso, ora ilok.”[]

Dengan kaitkata ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: