Cak Imin Jadi Menteri

blogkuPengumuman nama-nama Menteri Kabinet SBY Jilid II, mendapatkan perhatian khusus dari Kliwon. Maksum, Ninda dan Yuk Nah, semuanya diundang berkumpul. “Segera pada ke sini!” Kliwon berteriak-teriak, sambil sesekali mengucek matanya yang sudah agak rabun. Warna dasar putihnya, sudah mulai memudar dan menuju warna abu-abu. Mata yang sudah terlalu tua untuk nonton tv berlama-lama. Hanya karena, Cak Imin diumumkan jadi Menteri, Kliwon coba bertahan. Meski Kliwon bersumpah-sumpah mengaku kenal, sebenarnya belum tentu, Cak Imin sungguh-sungguh kenal. Tetapi, setidak-tidaknya, mengaku kenal menteri khan lumayan. Meningkat status sosial.

“Ada apa, to Pak?” Yuk Nah tergopoh-gopoh berlari dari peraduannya sambil cincing daster kumel. Di belakangnya Ninda dan disusul Maksum yang bergegas tuntas masuk ke ruang keluarga. Sebenarnya tidak tepat benar, ruangan itu disebut ruang keluarga, karena hanya berisi karpet merah pudar dan meja pendek untuk meletakkan pesawat tv. Itu, saja.

“Wealah, ini pengumuman para menteri yang diangkat Presiden SBY,” kata Kliwon, setelah yang pada dipanggil kumpul campur bingung. Tidak pernah dilakukan penjelasan mengenai visi, misi dan tujuan mereka diundang. Wajah-wajah mereka mulai mengendor, karena undangan itu ternyata hanya bertujuan untuk menyaksikan pengumuman para menteri.

“Para menteri saat ini, sangat berkualitas dan pilihan karena melalui proses audisi,” kata Kliwon lagi.

Ninda agak jengah, dikatakan para menteri berkualitas karena melalui audisi. Dalam pemahaman Ninda, kalau audisi itu yang diikuti banyak orang. Lha, audisi para menteri ini hanya satu nama untuk satu jabatan, je. “Masa, iya, Pak?” Tanya Ninda tanpa memberikan sapaan pandangan mata kepada bapaknya.

“Wealah, kok ya, nggak percaya to. Dengar, salah satu menteri yang terpilih itu, Cak Imin. Wech, bapakmu ini kenal baik sama dia. Mengerti sepak terjangnya jaman sekolah di Jogja dulu.” Kliwon protes. Nafasnya ngos-ngosan. Meskipun sering dirinya bicara demokrasi, tetapi kalau diprotes sama anaknya, masih sering Kliwon merasa nyeri di hati.

“Biyung-biyung. Cak Imin jadi menteri,” kata Kliwon seakan-akan berbisik kepada dirinya sendiri. Memang itu pilihan paling bijak yang diambilnya. Ninda, anak perempuannya itu sudah tidak bersatu pandang. Maksum meskipun tidak ngomong, tetapi juga tidak memberi dukungan. Yuk Nah, istri tercintanya, malah sudah cincing lebih tinggi, berlari kecil menuju WC. Pasti buang air kecil, karena denyut di kandung kemihnya.

Setelah para undangannya kembali ke peraduannya masing-masing, Kliwon mulai merenung kembali. “Cak Imin jadi menteri kok ya tenaga kerja dan transmigrasi, ya,” suara kecil itu bergelut dalam hatinya. Kenapa tidak Menteri Pendidikan atau Menteri Komunikasi dan Informasi. Lha, wong Cak Imin dulu itu jago benar kalau ngomong soal pendidikan untukĀ  wong kere. “Pinter juga dia berpidato,” katanya.

Tetapi Kliwon menyadarkan dirinya sendiri. Ngeneng-eneng atinya sendiri. Wong, memang pemilihan para Menteri itu, tidak semata-mata karena keahlian di bidangnya, je. Sebagian besarnya, karena hasil negosiasi politik dengan partai koalisi yang mendukung SBY jadi Presiden. Sisanya, baru dipilih karena pertimbangan profesi dan kompetensinya.[]

Dengan kaitkata , ,

One thought on “Cak Imin Jadi Menteri

  1. Peduli Pendidikan mengatakan:

    weleh weleh….lucu ya kalo tahu dasarnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: