Mendekati Allah dengan Kepedihan Hati

Kliwon termangu-mangu. Bukannya sedang sedikit sombong, tetapi malah sedang bingung, saat membaca berita tentang berdirinya Klub Poligami Indonesia. Kebingungannya bukan keanehan orang mendirikan klub semacam itu, tetapi justru landasan berpikir yang digunakan untuk mendirikannya. Wealah, Kliwon ngomongin landasan berpikir segala macam, kerangka paradigmatik segala macam. Aduh, biyung, gaya banget. Semakin tua, tampaknya semakin tidak tahu diri. Semakin methakil.

Kalau soal mendirikan organisasi, menurut Kliwon, tidak ada masalah. Siapa saja bisa mendirikan organisasi, tanpa “catatan”, tanpa “asalkan tidak”. Dirikan saja, organisasi apa saja, itu menjadi hak setiap orang untuk berkumpul. Tetapi, patut dipertanyakan, manakala memiliki pikiran sedikit ‘saru’, mendekati Tuhan dengan cara menyiksa diri. Dengan memasukkan diri dalam sakit hati sepanjang hayat, untuk bisa mendapatkan cinta Allah. Caranya, biarkan diri dipoligami oleh laki-laki. Kesakitan, kecumburuan, dan penderitaan itu akan menjadi jalan mencapai cinta Allah.

Kliwon jadi teringat cerita ngawur, kalau mengutip tulisan teman seperjuangannya, gojeg kere, ‘orang yang bakal masuk surga duluan adalah sopir bus kota atau pengendara bajaj.’ Pasalnya, mereka-mereka itu orang-orang yang selalu menjadikan para penumpangnya taqorub kepada Allah, menyebut asma Allah, berulangkali bertasbih dan bertahmid sepanjang jalan, sejak mulai naik sampai menjelang turun, yang diakhiri dengan kata mendalam ‘alhamdulillah.

Kalau gojeg kere teman Kliwon ini benar, maka nalar Klub Poligami Indonesia, yang menurut pengakuan sang pendiri sudah mendapatkan simpati dari perempuan-perempuan korban poligami di berbagai kota di Indonesia dan bahkan hampir di berbagai negaraitu, baru bisa dibenarkan.

Tetapi nalar sehat kita tidak bisa menerimanya. Selama 13 tahun Kliwon ngaji di pesantren, tak sekalipun almarhum Kiai-nya dulu, menyarankan untuk mendekati dan mencapai cinta Allah dengan cara penyiksaan diri, memasukkan diri dalam sebuah kerusakan batin yang maha dahsyat. Paling banter dikatakan, kalau mau mendapatkan kekuatan batin, berpuasalah sembilan hari, tetapi tidak boleh ‘patigeni’. Biasa saja, karena ‘patigeni’ termasuk tindakan yang menyiksa lambung, dan itu mengabaikan hak perut.

Kliwon yakin benar, mendekati Allah dan mencapai cinta-Nya, mestinya dicapai dengan penuh kegembaraan, kesenangan, bukan penderitaan. Kalau seorang sufi, berzikir berjam-jam, jangan diartikan sebagai penyiksaan diri, mereka menikmati sebuah keindahan ritme kalimat-kalimat suci, bergumul dengan batin yang amat mencintai Allah dan karenanya menjadi sebuah kesenangan. Sekali lagi kesenangan, bukan penderitaan.

Makanya, Kliwon hanya berkomentar lirih, membaca pendirian Klub Poligami Indonesia, “ada-ada saja!!!”[]

Dengan kaitkata , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: