Dari Ketimpangan Wacana sampai Diksi-diksi Kontradiktif

buku aids dan islamPergulatan wacana tentang respons Islam terhadap penyebaran HIV dan AIDS sesungguhnya bukanlah hal yang benar-benar baru. Berbagai dokumentasi tentang hal ini bisa ditemukan dengan mudah dalam berbagai media massa maupun catatan-catatan seminar dan pertemuan-pertemuan lainnya. Kesimpulan yang muncul selalu saja berada pada dua kubu: mereka yang mencoba membawa teks untuk menghukumi HIV dan AIDS dan mereka yang mencoba membawa realitas untuk melihat kembali teks.

Begitulah kira-kira skenario dasar pembingkaian buku ini. Karenanya, tanpa harus membaca sampai tuntas buku ini, sebagaimana juga buku-buku yang tersebar-sebar mengenai respons Islam terhadap realitas sosial,, tak pernah beranjak jauh. Tetap sama pembelahannya, mereka yang selalu menggunakan pendekatan moralitas dan menempatkan Islam sebagai sumber yang kaffah dengan dalih melindungi kesucian hukum-hukum Islam mewakili gerbong pertama dan mereka yang mencoba melakukan kreasi-kreasi baru sehingga Islam menjadi lebih akomodatif mewakili gerbong kedua.

Malik Badri, seorang dosen psikologi di Universitas Islam Internasional (IIU) dan ISTAC Malaysia, ditempatkan sebagai lokomotif gerbong pertama. Digambarkan sebagai orang yang memiliki kerangka berpikir normatif, pemikirannya tentu saja berkutat pada bagaimana Islam merupakan sumber dari seluruh sumber hukum dan akan mampu menjawab seluruh persoalan yang berkembang dalam kehidupan manusia sampai akhir zaman nanti. Moralitas menjadi pendekatan signifikan dalam neyelesaikan problem sosial. Dalam agenda besarnya, bagaimana melakukan islamisasi pengetahuan, yang kelak akan menjadi piranti penting bagi tegaknya hukum-hukum Islam. Jika memungkinkan akan membangun gerakan islamisasi seluruh negara-negara sebagai bentuk final dari simbol tegaknya Islam. Struktur teorinya, lantas dibangun dengan menggunakan asumsi pertikaian tiada akhir antara peradaban Islam dan perdaban Barat. Dalam wacana fundamentalisme, nalar-nalar kerja seperti inilah yang sesungguhnya menjadi titik pijak gerakannya.

Meskipun mendapatkan posisi minor dalam pembahasan buku ini, Malik Badri mendapatkan pujian karena menggunakan pendekatan toeri konspirasi dalam melihat problem penyebaran HIV dan AIDS, manakala memandang asal usul epidemi global ini (hal. 111). Sebuah teori yang dianggap cukup kritis untuk melihat hegemoni dalam bermaiannya relasi-relasi kuasa. Sayangnya, tidak ditunjukkan lebih jauh, penggunaan teori kritis dan seluruh piranti kuasa demokratis, pada saat ini tidaklah semata-mata monopoli gerakan kritis. Gerakan-gerakan fundamentalisme agama, juga mengadopsi piranti teori kritis untuk memperlancar agenda-agenda gerakannya.

Lokomotif gerbong kedua, ditempati Farid Esack, ulama dan pemikir besar dari Afrika Selatan. Farid Esack digambarkan sebagai ulama yang memiliki kerangka berpikir progresif, dengan mencoba mendasarkan pada konsep teologi pembebasan [perlu dicatat Farid Esack bukanlah pencetus konsep teologi ini]. Berbasis pada konsep inilah, Farid Esack mengembangkan strategi untuk mendekati HIV dan AIDS, dengan mencoba mengembangkan latar penyebaran HIV dan AIDS tidaklah monopoli soal moralitas semata-mata, tetapi bisa berkaitan dengan ketimpangan kekuasaan, kolonialisme, rasisme, imperialisme. (hal. 110). Tentu saja, akan merambah problem turunan yang lain, seperti ketidakadilan sosial, kemiskinan, dan keterbatasan akses informasi dan kesehatan.

Seluruh gagasan-gagasan yang dikembangkan Farid Esack tampak mendapatkan tempat yang positif dalam pembahasan buku ini. Tawaran-tawaran mengenai teologi pembebasan dengan semangat kasih sayang, merupakan bingkai yang mendorong seluruh gagasan Farid Esack, memang mewarnai ke arah mana buku ini hendak dimaksudkan. Label bagi Badri Malik sebagai mewkaili kelompok muslim puritan dan Farid Esack mewakili kelompok muslim moderat (dalam ketgorisasi tipologi Muslim) seperti yang dikembangkan Khalid Abou Al-Fadl. (hal. 113). Pengelompokkan keduanya dalam posisi binner ini tentu saja, merupakan garis turun langsung dari corak pemikiran Mali Badri sebagai lokomotif gerbong pertama dan Farid Esack sebagai lokomotif gerbong kedua.

Dalam pembacaan yang demikianlah, buku ini disebut memiliki ketimpangan wacana, karena mengabaikan konteks sosial, politik dan ekonomi, yang membesarkan Malik Badri dan Farid Esack itu sendiri. Sebagaimana dalam kajian-kajian antropologis dan etnografis, konteks sosial diyakini memiliki pengaruh besar terhadap pemahaman kebudayaan dan cara berpikir seseorang, yang kemudian akan memiliki pengaruh dalam respons mereka terhadap realitas di sekitarnya. Kita tidak bisa mengadili Malik Badri dengan pemikiran yang kemudian bercorak moralitas dan puritan dengan semena-mena, karena situasi sosial, politik dan ekonominya. Tidak juga menjadi terkagum-kagum dengan Farid Esack yang tumbuh dan besar dalam situasi ketertindasan berkepanjangan di Afrika Selatan, sehingga seluruh respons pemikiran dan tindakannya berada pada nalar kekuasaan, rasisme dan kolonialisme maupun imperialisme.

Ketimpangan wacana dalam buku ini, juga bisa kita lihat, manakala analisis terhadap respons muslim Indonesia dengan menyandarkan pada sumber yang memiliki perbedaan kualitas hukumnya di masing-masing subyek. Respons Islam terhadap HIV dan AIDS di Indonesia dari Nahdlatul Ulama diambil dan dikaji dari keputusan-keputusan Muktamar dan Musyawarah Nasional Alim Ulama NU, produk fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) diambil dari Mudzakarah Nasional Ulama tentang Penanggulangan HIV/AIDS, dan dari Muhammadiyah, diambil dari Buku Kumpulan Khutbah Jumat.

Respons yang diberikan NU dan Muhammadiyah, mungkin bisa disebut sebagai respons resmi dua lembaga besar, NU dengan basis massa yang cukup besar, dan MUI memiliki kebasahan secara nasional meskipun diakui juga sebagai lembaga Islam di bawah koordinasi negara (125). Tetapi, terlalu gegabah untuk mengatakan buku kumpulan Khutbah Jumat yang diterbitkan oleh Muhammadiyah itu sebagai respons resmi kelembagaan Muhammadiyah. Persoalan yang tersisa, kita tidak tahu pasti, apakah seluruh proses, nalar berpikir, sikap dan strategi yang termuat dalam 12 khutbah itu, sudah melalui proses persetujuan dalam Majlis Tarjih Muhammadiyah, setingkat dengan Munas Alim Ulama NU?. Bukan persoalan yang sederhana pula, manakala menjatuhkan penilaian masing-masing lembaga mengikuti alur berpikir Malik Badri ataupun Farid Esack. Karena kita tahu, dalam Muhammadiyah, NU maupun MUI terdapat pula orang-orang yang memiliki pemikiran-pemikiran seperti Malik Badri maupun Farid Esack. Sehingga mengkategorisasikan tiga organisasi ini harus sungguh-sungguh mendasarkan pada keputusan-keputusan resmi kelembagaan itu sendiri.

Dalam tahap seperti inilah, buku ini ada dalam kebimbangan atau bahkan ketidakjelasan mengenai definisi respons Islam itu sendiri, apakah layak disebut respons Islama manakala berbasis pada pemikiran seseorang saja, seperti dalam kasus Malik Badri dan Farid Esack, atau harus bersandarkan pada keputusan-keputusan formal organisasi Islam, seperti dalam kasus analisa respons Islam di Indoenesia. Persoalan ini harus serius didiskusikan, ketika tradisi intelektual dan akademis kita hendak menghindari klaim-klaim yang sembrono dan menghindari keterjebakan pada kecenderungan-kecenderungan berpikir yang parsial dan mungkin primordial dalam tradisi agama-agama.

Persoalan Diksi

Dalam berbagai pembahasan mengenai HIV dan AIDS, terutama dalam media massa, pilihan diksi yang digunakan mendapatkan perhatian serius. Pilihan diksi tidak semata-mata demi keindahan dan kelancaran menulis, melainkan menunjukkan mind set, positioning terhadap realitas sosial dan kedalaman seseorang dalam memahami persoalan yang ditulisnya. Pilihan diksi juga diyakini akan memberikan efek yang berbeda manakala pesan yang dikirim sampai ke pembacanya.

Mengikuti buku ini sejak awal, kita akan menemukan penggunaan-penggunaan diksi yang kontradiktif dan kontraproduktif dengan gerakan penanggulangan HIV dan AIDS itu sendiri. Sejak pagi-pagi, buku ini menggunakan diksi ‘penyakit’ untuk menyebut status AIDS. Penyebutan ‘penyakit’ sudah banyak dipersoalkan, karena AIDS memang bukan penyakit, melainkan dipahami sebagai syndrom (sekumpulan gejala penyakit), yang kemudian dikenali sebagai infeksi oportunis (IO). Karena menurunnya kekebalan tubuh, seseorang yang terinfeksi HIV, dalam kondisi tertentu menjadi sangat mudah terserang penyakit dan sangat sulit disembuhkan, seperti diare yang berkepanjangan dan TBC ataupun malaria. Persoalan ini menjadi penting diungkpankan karena salah satu bentuk kontraproduktif dari buku ini sendiri, yang mengkritik kelemagan Farid Esack karena tidak memasukkan persoalan serius dalam HIV adalah ‘aku tidak tahu’ (97), tetapi buku ini sendiri memberikan informasi yang bisa menjadi membingungkan.

Buku ini juga dengan mudah saja menggunakan diksi “berzina”, dalam menulis soal Waringin, “… Untunglah perceraian tidak sampai terjadi karena akhirnya diketahui bahwa Waringin memang beberapa kali berzina di tanah Arab.” (Hal. 38). Penggunaan diksi “berzina” menunjukkan bagaimana penulis buku ini sendiri berada dalam keterjarakan yang amat jauh dengan persoalan yang ditulisnya. Kalau saja memiliki kedekatan dengan is HIV dan AIDS, penulis pasti tidak akan menggunakan diksi “berzina”, melainkan menggunakan diksi “hubungan seks tidak aman”, karena akan memberikan efek berbeda terhadap pembacanya.

Ketidakdekatan penulis dengan persolan HIV dan AIDS, manakala merumuskan media penularan HIV dan AIDS secara serampangan. “Bisa disimpulkan di sini bahwa HIV hanya bisa menular melalui tiga media: hubungan seksual (yang tidak aman), kontak darah, dan penularan dari ibu ke bayinya. (Hal. 43). Sebuah penyimpulan yang sama sekali tidak benar dan bahkan menyesatkan, karena media transmisi HIV yang selama ini diinformasikan ke masyarakat adalah melalui cairan mani (laki-laki), cairan vagina (perempuan), darah, dan air susu ibu. Soal hubungan seks yang tidak aman hanyalah tindakan yang memungkinkan cairan mani, cairan vagina dan darah bisa menjadi kontak.

Penulis juga menggunakan diksi yang tampaknya tidak disadari persoalan di baliknya. Manakala menggunakan istilah PSK (Hal. 60), tidak disadari diksi mengandung berbagai konsekuensi serius dalam mkasyarakat, termasuknya perbenturan dengan mereka yang memilih sikap sebagai perempuan yang dilancurkan (Pedila) bukan permpuan pekerja seks. Penggunaan siksi “perempuan sundal dan wanita lispstik (Hal. 61), pelacur (Hal. 71), tidak disadari sebagai sebuah proses stigmatisasi yang memperkuat cara pandang moralitas, dan bertahun-tahun, kalangan aktivis HIV dan AIDS terutama yang bekerja dengan kalangan jurnalis untuk menghindari penggunaan diksi-diksi yang akan menjadi instrumen pelanggeng stigma dan diskriminasi.

Pada akhirnya, membaca buku ini, tidak akan mendapatkan apapun seperti yang dijanjikan. Kita hanya akan menemukan bagaimana pembahasan yang melelahkan mengenai HIV dan AIDS, pada akhirnya juga hanya akan menjadi media untuk mempertemukan pemikiran muslim puritan dan muslim moderat, melalui HIV dan AIDS sebagai wacananya (hal. 119). Hasil buku dengan demikian tidak juga beranjak jauh dari apa yang dihasilkan dari kritiknya penulis buku terhadap Malik Badri dan Farid Esack, “Kedua tokoh ini sama-sama melihat HIV dan AIDS sebagai gejala luar saja karena pergulatan mereka yang sebenarnya adalah tentang pemaknaan mereka tentang Islam itu sendiri” (Hal. 112). Dan saat ini, bertambah satu tokoh lagi, “sang penulis buku ini”, yang sedang dalam posisi yang sama, menggunakan HIV dan AIDS sebagai pengujian cara pandang dua kutub dalam Islam, muslim puritan dan muslim moderat. Untuk pencegahan HIV dan AIDS, baik dia krisis moral ataupun krisis kemanusiaan [yang tidak pernah terjawab dalam buku ini], bukanlah urusan buku ini.[]

Dengan kaitkata , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: