Yang Disayang, Yang Meninggalkan

Terguncang. Sebulan lalu, baru saja, saya dan Kang Dul–begitu saya biasa akrab memanggil Drs. H. Abdul Chori Arief–bercengkrama di tengah-tengah sebuah seminar soal hak anak dan pendidikan anak. Masih sama, yang dikeluhkannya, asam urat yang terus menggayutinya dan keinginan untuk tetap mengikuti kesukaannya, menikmati daging kambing. Kubaca berulang-ulang, pesan pendek yang masuk ke memory selulerku. “Kang Dul, meninggal dunia, pagi ini, pkl 7.”

Ada rasa tak percaya, tetapi pada akhirnya, memang tetap harus percaya. Kang Dul, telah meninggalkan kita semua. Mengenangkan pada senyumnya yang ramah dan penerimaan kepada siapapun yang datang di rumahnya. Sehingga, siapapun yang di depannya menjadi merasa besar dan berguna. Saya masih sangat dekat mengingat itu semua. Dan mungkin tak kan bisa dilupakan, meski dengan berbagai kehendak untuk menghancurkannya. Wajah Kang Dul, semangat Kang Dul, sudah terlalu dalam mengeram dalam memory di kepalaku. Ach, mungkin lebih tepat dalam hatiku.

Meski agak sedikit menyesali diri, karena tak bisa mengantarkannya pada perjalanan akhir menuju ke pemakaman. Bukan karena kesibukan apalagi rapat-rapat demonstrasi. Bukan karena dalam perjalanan dinas atau sedang menyebarkan virus tentang media massa yang tak lagi punya hati. Tetapi ini lebih besar dari semua itu. Saya harus berbagai waktu dengan pasanganku, Lina, yang juga hendak mengantarkan Kang Dul ke wilayah perbatasan antara dunia fana dan dunia kekal abadi nanti. Kata sepakat diambil, pasanganku yang hadir dalam pemakaman, aku menunggu dan bermain dengan anak-anak di rumah. Malamnya, baru aku hadir ke rumah Kang Dul (alm) untuk menyampaikan rasa duku sedalam-dalamnya, dambil mengikuti tahlilan.

Dendang doa dan pengharapan mengalun-ngalun, lebih dari 500 orang dalam perhitunganku. Berputar-putar, tak hanya membumbung ke atas, tetapi mungkin juga berputar-putar menyamping, membentuk lingkar horizonatl yang terus melebar, menyentuh setiap hati yang mengeja. Meyakinkan-yakin diri dan memastikan, Kang Dul Khusnul Khotimah. Situasi akhir yang selalu diharapkan oleh setiap muslim dalam kehidupannya.

Kang Dul, terus memberikan inspirasi kepada aktivis di Magelang. Tentang situasi yang juga belum hendak berubah, tentang kemungkinan tindak korupsi yang masih ada dengan modus operandi yang berbeda, tentang pengadaan buku di dinas pendidikan, pemuda dan olah raga yang belum jelas kabar akhirnya, juga tentang anggota parlemen baru, yang dipersolakan karena pelantikannya tidak mengundang ketua KPU.

Semuanya mengalir, begitu saja, tak ada yang bisa membendung. Wajah Kang Dul timbul tenggelam di antara suara tahlil, tasbih dan tahmid. Menyela di antara istighfar yang menggugat pengambunan. Melingar di antara persoalan sosial yang terus bergandeng renteng. “Yang meninggal, Pak Dhe, yang membelikan mobil-mobilan Farrel, Pak?” Tanya anak lanangku yang baru berusia 5,5 tahun.

3 thoughts on “Yang Disayang, Yang Meninggalkan

  1. joko mengatakan:

    innalillahi, semoga pemuda magelang tetap semnagat memerangi korupsi!!!

    btw ..Photone putrome endi pak Khotib??

    joko

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: