Mengapa Koran Desa?

Harus diakui, kekecewaan yang menggumpal begitu dalam terhadap media massa, yang selalu saja tidak memberikan rasa keadilan dalam melakukan pelaporan fakta sosial berkaitan dengan penderitaan manusia. Hampir setiap hari, kita selalu saja menemukan media massa yang berwajah elitis, diskriminatif dan pengorbanan korban, terutama dalam wilayah liputan yang berkaitan dengan Kesehatan Reproduksi dan Seksual (HIV-AIDS di dalamnya), perempuan dan HAM. Kenyataan ini disebabkan tidak adanya kepekaan para pelaku media massa, yang ada justru kebebalan perasaan. Menumbuhkan kepekaan perasaan, bukanlah soal yang mudah, dan bisa begitu saja bisa diajarkan. Ia membutuhkan proses-proses panjang dan harus mengatasi berbagai rintangan berkaitan dengan industri media massa itu sendiri. Sebuah, dunia yang sudah sedikit sekali memberikan ruang terhadap substansi jurnalisme itu sendiri, bercerita tentang kenyataan hidup manusia.

Jurnalisme warga pada akhirnya akan diharapkan bisa meretas jalan baru dalam dunia jurnalisme yang bebal terhadap kehidupan manusia, penderitaan dan kepentingan-kepentingan rakyat kebanyakan. Media yang akan memberikan ruang untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan mereka yang dirugikan oleh sistem sosial, politik dan kebudayaan. Mengembangkan berbagai model liputan yang tidak saja menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran yang dipercaya dan diyakini oleh rakyat kebanyakan yang menjadi bagian dari jurnalisme warga, melainkan juga sebuah liputan yang mampu melahirkan empati untuk mendorong terjadi gerakan kolektif masyarakat dalam melakukan perubahan-perubahan sosial yang adil bagi semua orang. Dengan begitu, jurnalisme warga tidak cukup dipandang sebagai proses peliputan berita, penulisan berita dan penerbitan karya junalistik dan kemudian distribusinya. Jurnalisme warga menempati ruang penting dalam proses pendidikan kritis rakyat, memberikan kesadaran baru, mengenai siapa yang harus melakukan perubahan terhadap berbagai penderitaan sesamanya dan menumbuhkan kesadaran akar persoalan penderitaan yang dialami adalah karena kesalahan struktur sosial yang dibangun dan ditegakkan berdasarkan pada nilai-nilai yang sama sekali tidak adil jender, cengekeraman nalar yang berorientasi pada kepentingan-kepenetingan uang. Kekuatan jurnalisme warga semacam inilah, yang kemudian mampu mengubah pendirian Bill Kovach, seorang jurnalis Amerika yang sudah malang melintang melakuan liputan berbagai persoalan hak asasi manusia dan diikuti oleh berbagai jurnalis di dunia dalam model jurnalisme yang adil bagi semua, menambahkan salah satu elemen jurnalisme yang penting, menjadi elemen kesepuluh, yaitu memberi perhatian kepada media online dan media alternatif, termasuk jurnalis warga.

Koran Desa, merupakan bagian dari model jurnalisme warga, sejajar dengan radio komunitas, televisi komunitas dan media massa lain yang dikembangkan berbasis komunitas. Dengan demikian, penerbitan Koran Desa, sesungguhnya sedang mengemban tanggung jawab penting dalam keseluruhan proses kehidupan komunitasnya. Ia tidak sekedar berurusan dengan bagaimana melakukan wawancara, menuliskannya dan menerbitkannya. Melainkan sedang berurusan dengan bagaimana melakukan penyadaran publik berkaitan dengan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat kebanyakan, bagaimana menggerakkan kesadaran bersama untuk melakukan perubahan dan bagaimana menumbuhkan keberanian untuk melakukan tuntutan-tuntutan pemenuhan persoalan-persoalan kehidupan sosial.

Maka menjadi jelas, apa yang seharusnya menjadi ruang pelaporan bagi Koran Desa, persoalan kehidupan manusia. Manakala kita mencoba mengambil isu spesifik kesehatan reproduksi dan seksual–HIV dan AIDS, Perempuan dan HAM, setidaknya karena nalar yang kita anut berkaitan dengan tiga isu ini, menempatkannya sebagai persoalan sosial lain, yang berkelindan, bergandeng renteng, tidak bisa dipisahkan dari problem sosial yang dihadapi rakyat kebanyakan. Kita ambil contoh, soal Angka Kematian Ibu (AKI) akibat melahirkan yang masih sangat tinggi. Menurut catatan, di Bantul AKI pada tahun 2008 mencapai 111 per 100.000 kelahiran. Angka ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan Malaysia yang hanya 52 per 100.000 kelahiran dan Singapora 30 per 100.000 kelahiran. Tingginya AKI, tidak semata-mata persoalan perempuan yang tidak peduli terhadapa kesehatan dirinya, melainkan berakar pada persoalan kebijakan ekonomi negeri ini yang selalu saja melakukan pemiskinan, kebijakan politik yang justru melakukan privatisasi sektor kesehatan. Kemiskinan yang diderita rakyat kebanyakan tentu saja, merupakan pelanggaran hak ekonomi warga yang dijamin dalam kebijakan nasional maupun internasional. Kehidupan yang miskin mendorong berbagai akibat lain, yang bisa jadi memposisikan rakyat kebanyakan menjadi rentan terhadap transmisi HIV dan AIDS. Dalam situasi seperti ini, perempuan lantas menjadi korban paling dasar dan bertumpuk, karena sistem sosial kita yang masih bias jender.

Jika selama ini tiga isu tidak dianggap sebagai akar persoalan hidup manusia, karena cara pandang yang dikembangkan bersifat parsial. Kesehatan Reproduksi dan Seksual [termasuk HIV dan AIDS] hanya dipandang sebagai persoalan medis, ketidakadilan jender hanya dipandang sebagai persoalan perempuan dan HAM hanya dipandang sebagai persoalan pembunuhan manusia oleh tentara, penghukuman orang tanpa proses pengadilan yang benar-benar adil, dan penghilangan orang dengan semena-mena. Koran Desa, selain akan mengembangkan cara pandang baru dalam menghadapi tiga isu di atas, juga akan melakukan penghancuran tata nilai dan tata pikir lama, menuju tata pikir baru yang lebih kritis dan adil bagi semua.

Bagaimana Melakukan Peliputan?

Melakukan peliputan untuk Koran Desa memiliki kelebihan dibandingkan dengan reportase untuk media massa pada umumnya. Keperbedaan ini disebabkan visi dan nilai yang hendak diusung memang berbeda dengan media massa pada umumnya, menumbuhkan kesadaran kritis rakyat untuk melakukan perubahan. Dalam melakukan reporetase, kita mulai dengan membahas persoalan prinsip atau kaidah-kaidah dasar, alat yang digunakan sebagai dasar untuk menentukan sikap dan tindakan dalam merespons fakta-fakta sosial, membedah fakta, meneliti fakta dan menentukan ke mana arah tulisan yang akan dikembangkan selanjutnya. Dalam konteks pengembangan Koran Desa, kaidah-kaidah yang digunakan dalam membedah fakta, tentu saja ini masih dikembangkan lebih kompleks lagi, 1) adakah pembakuan ciri negatif gender; 2) adakah subordinasi; 3) adakah kekerasan; 4) adakah beban yang berlebihan; 5) adakah peminggiran; 6) adakah diskriminasi; 7) adakah penilaian yang tanpa dasar; 8) adakah pengabaian hak dasar; 9) adakah pengucilan sosial.

Teknik-teknik reportase yang akan sungguh-sungguh bisa membedah fakta dengan sembilan kaidah di atas, pertama, observasi partisipatoris. Teknik ini menuntut seorang jurnalis untuk hadir di tempat persitiwa terjadi, mengamati dan menganalisa persitiwa-peristiwa, dan membongkar persepsi lama yang berkembang. Kedua, studi alokasi waktu. Melalui teknik ini, jurnalis akan bisa membongkar penggunaan waktu oleh rakyat kebanyakan dan pelayanan kesehatan secara langsung. Ketiga, teknik penelitian partisipatif. Jurnalis akan bisa merasakan, menuliskan perasaan dan rasa tentang fakta, bisa merasa terlibat secara emosional dalam peristiwa yang terjadi dan akan mempengaruhi nantinya dalam proses penulisan beritanya. Keempat, wawancara mendalam. Melalui teknik ini jurnalis akan bisa membongkar seluruh kehendak dan kepentingan subyek berita.

Menggunakan teknik di atas, jurnalis pada akhhirnya tidak sedang semata-mata melakukan pengambilan data, tetapi bisa terlibat dalam proses konsultasi, mendorong tindakan perubahan dan bahkan turut terlibat dalam proses pemecahan masalahnya, perumusan langkah strategisnya dan melakukan pemetaan stakeholder. Dalam konteks ini pula, apa yang diimpikan sebagai jurnalisme investigatif akan benar-benar terwujud, sebuah model jurnalisme yang terlibat dalam pemecahan masalah warga.

Bagaimana Menuliskan Berita?

Menulis berita merupakan proses lanjutan, setelah jurnalis melakukan peliputan. Dalam proses ini, jurnalis akan menggunakan cara pandang yang dianutnya, kemampuan analisa yang dimilikinya dan ketajaman memilih titik fokus peristiwa yang akan dituliskannya. Sebuah berita tidak menjadi diskrminatif, stigmatis, dan bahkan mengorban kembali korban, akan dikonstruksi dalam proses penulisan berita ini. Sembilan kaidah dasar, akan sangat berfungsi dalam proses penulisan berita, termasuk pemilihan kata [hal ini akan dibahas dibagian lain dalam tulisan ini]. Cara pandang yang bisa jender, akan mengakibatkan tulisan yang muncul justru mengorbankan kembali korban, analisa yang terbatas akan mengakibatkan pembacaan akar masalah justru bisa kembali kepada personal dan tidak mengarah pada persoalan struktural, sedangkan pemilihan titik fokus yang tidak tepat akan mengakibatkan pengaburan persoalan utama dan menarik dalam peristiwa yang akan dituliskan.

Prinsip dasar dalam menulis pelaporan, biasanya mencakup pertimbangan kemenarikan peristiwa, waktu peristiwa, kedekatan peristiwa, keseimbangan narasumber dan fakta bukan opini. Kemudian, dalam unsur-unsrunya, harus memenuhi elemen apa, siapa, mengapa, kapan, di mana dan bagaimana peristiwa itu terjadinya. Dalam wacana jurnalisme mutakhir, harus memasukkan juga pertanyaan tindakan apa yang bisa dilakukan untuk mengubah sehingga peristiwa itu tidak terulang kembali.

Secara teknis, pada umunya jenis penulisan berita terdiri dari; 1) berita langsung. Jurnalis menuliskan fakta-fakta berdasarkan urutan peristiwa dan biasanya mementingkan kecepatan dalam pewartaannya. Karenanya, seringkali model penulisan ini akan diikuri oleh berita lanjutan esok harinya; 2) berita ringan. Jurnalis menuliskan sisi-sisi singkat dari seseorang yang menjadi subyek berita. Berita ini biasanya digunakan untuk menuliskan seseorang yang memiliki pengalaman unik, tetapi hanya satu pengalaman saja; 3) berita kisah [dalam ukuran tertentu disebut juga sketsa. Jurnalis melakukan penulisan peristiwa dengan panjang, biasanya digarap dengan melibatkan unsur sastra di dalamnya, sehingga menjadi lebih mendalam dan bisa menyangkut hampir seluruh faktor yang terlibat di dalamnya.

Bagaimana dengan Bahasa?

Bukan sedang memandang sepele terhadap bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi jangan sampai mengenalinya justru menjadi persoalan serius sehingga karya jurnalisme warga menjadi tidak terbit selama-lamanya. Sehingga, penggunaan bahasa jurnalistik sesungguhnya yang terpenting berkaitan dengan penggunaan kalimat aktif, mempertimbangkan efektifitas kalimat, dan pemilihan kata yang tepat. Kegagalan pada ketiga prinsip ini, setidak-tidaknya akan mempengaruhi penerimaan pembaca terhadap berita yang disajikan, pengaburan kejadian, dan bahkan bisa juga mengaburkan fakta itu sendiri. Sebagaimana dipahami bersama, banyak penulisan berita yang bertujuan untuk menjadikan penyajiannya lebih menarik dan lembut, tetapi mengakibatkan kenyataan yang terjadi menjadi kabur. Kita ambil contoh berita mengenai perkosaan yang dialami perempuan. Dengan menggunakan kata “digagahi”, “dinodai”, akan mengaburkan fakta kekerasan yang dialami oleh perempuan itu sendiri.

Bahasa pada akhirnya yang akan menentukan, berita dalam Koran Desa akan mampu membangkitkan semnagat untuk melakukan perubahan atau bahkan semakin memperburuk situasi bagi subyek berita. Sensitivitas jender dan pemahaman mengenai prinsip dasar hak asasi manusia, yang akan bisa menuntun jurnalis memilih kata yang akan digunakan pada seluruh proses penulisannya.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: