Hari Ini dan 100 Tahun Lalu

Tanggal 20 Mei 2008, menjadi dianggap istimewa karena seratus tahun lalu, sebuah momentum kebangsaan dicetuskan, sebuah gerakan bersifat nasional dikumandangkan. Kurun satu abad, bukanlah waktu yang pendek, untuk sebuah perjalanan suatu bangsa. Beragam-ragam problem sosial sudah dilalui, dimenangkan ataupun terkalahkan. Semua rasa pahit, getir, bangga dan suka, telah kenyam bersama dan dirasakan bersama.

Setelah seratus tahun, kita memang menemukan banyak perubahan-perubahan yang bisa dirasakan dalam berbagai lapangan kehidupan, rasa nasionalisme yang tak bisa diragukan lagi, kemajuan berbagai media massa di tanah air, dan juga perkembangan teknologi informasi yang cukup menggembirakan. Pertanyaannya, siapa sesungguhnya yang sungguh-sungguh diuntungkan dari seratus tahun perjalanan bangsa setelah gegap gempita kebangkitan Nasional 1908?

Titik nadir kehidupan bangsa ini yang segera akan kita temukan. Protes keras para anak bangsa yang akan kita saksikan. Bukan kebanggaan-kebanggaan atas berbagai kemajuan, melainkan ketidakterimaan atas berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap sangat merugikan rakyat yang semestinya dilayani. Bukan tidak mungkin, pemerintah kali ini akan membuka pintu awal kemungkinan terjungkalnya kekuasaan yang sedang diembannya. Pasalnya, kebijakan kenaikan BBM yang menusuk jantung kehidupan kaum miskin-papa-hina-dina. Pengabaian terhadap situasi yang menderita dan tak terobatkan. Ia akan menjadi pemicu berbagai kekecewaan yang sanat serius dan puncak.

Tanggal 21 Mei 2008, kita sudah mendengar bersama, berbagai aksi turun ke jalan akan digelar di berbagai kota. Momentum BBM akan menjadi perekat bagi seluruh elemen gerakan sosial. Hatta berbagai kelompok yang selama ini berhadap-hadapan, saling tuding dan menyalahkan, kali ini akan menemukan titik singgungnya. Kenaikan BBM. Obat pelipur lala yang didengungkan, dengan pencairan kembali dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) tak bisa membungkam lagi hati nurani.

kita hanya berharap, agar aparat keamanan tidak aksi berlebihan. Menghindarkan bentrokan fisik merupakan jalan terbaik bagi pemerintahan itu sendiri. Ini jika mereka hendak mempertahankan kekuasaannya, bukan sama sekali untuk mencoba mendengar keluhan rakyat yang memberi mandat kepada mereka. Tindak represif dan kekerasan fisik hanya akan melahirkan persoalan yang berkepanjangan, tak berkesudahan. Memicu kekerasan yang berantai dan tentu saja menjadi sama sekali tidak produktif.

Jujur, kita semua was-was. Apalagi ketika kita melihat, untuk hari-hari terakhir ini, kekerasan sudah seringkali tampil kembali untuk melakukan dominasi.

Ternyata, setelah 100 tahun, kita tetap menemukan hal yang sama, air mata rakyat yang menetes tak terkendali. Bedanya, tetes air mata itu, kini, akibat ulah bangsanya sendiri.[]

Dengan kaitkata

One thought on “Hari Ini dan 100 Tahun Lalu

  1. djunaedird mengatakan:

    100 tahun yang lalu, para terpelajar tergerak membentuk opini, berorganisasi, demi melihat kesengsaraan rakyatnya.
    100 tahun kemudian, kini, para terpelajar sibuk berpolitik, memanfaatkan nasib rakyat demi untuk diri dan kelompoknya saja.😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: