Islam yang Penad Zaman

present1.jpgStagnasi Islam dan ketidakmampuannya menjawab tantangan-tantangan zaman bersumber dari cara pandang terhadap Islam sebagai agama yang final. Kita mengakui Alquran sebagai sumber ajaran utama dan sekaligus sebagai teks, memang sudah final, tetapi cara berpikir di dalam merespons teks itu sendiri yang seharusnya diletakkan dalam sebuah proses yang terus menerus dan tak akan pernah berhenti. Dengan pemahaman seperti ini, Islam akan tampil kembali sebagai agama yang revolusioner dan progresif sebagaimana ditunjukkan pada saat kelahirannya.

Kesadaran semacam ini tampaknya mulai bergulir dan didiskusikan secara hangat dalam sebuah forum pelatihan advokasi untuk pendamping korban kekerasan terhadap perempuan dan anak yang diikuti oleh generasi muda NU. Ekplorasi dilakukan secara kritis terhadap proses kontruksi sosial yang berjalan, sehingga melahirkan dehumanisasi terhadap perempuan maupun laki-laki. Selama ini seringkali dirasa membingungkan walaupun akrab terdengar, bagaimana sesungguhnya proses konstruksi itu berjalan dan melahirkan ketundukkan yang luar biasa. Sehingga peluang untuk melawan hampir-hampir tak pernah tampak dan bisa diharapkan.

Agama, sesungguhnya merupakan instrumen konstruksi yang luar biasa, karena hampir tidak memberikan pilihan lain, sambil disertai dengan seperangkat ancaman untuk menuntut ketundukkan dan kepatuhan masyarakat yang ada dalam lingkar kekuasaan wacananya. Situasi semacama inilah yang menjadikan agama menjadi salah pengkontruksi paling ampuh, di antara alat-alat konstruksi sosial lain.

Persoalannya kemudian, bangunan yang menjadi berdasarkan konstruksi agama, seringkali menjadi rentan dan tampak tidak berdaya, manakala harus menghadapi berbagai perubahan akibat tekanan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak hal yang sulit terjawab, jika hanya menyadarakan pada pengalaman islam pada masa Nabi dan para sahabat. Stagnasi yang demikian, sesungguhnya yang memaksa para pemeluk Islam untuk menjawab tantangan kebudayaan baru, dengan memasukkan dalam kategorisasi ‘haram’, hanya karena belum terdapat pengalaman pada masa pembentukan Islam awal.

Akan tetapi kita melihat, proses adaptasi teks tampanya menjadi lebih mudah manakala tidak berkaitan dengan persoalan-persoalan perempuan. Lihat saja, misalnya, gagasan yang berkaitan dengan demokrasi politik, berbagai kelompok dalam Islam hampir semuanya mengamini–kecuali mereka yang masih bercita-cita mewujudkan negara Islam–menerimanya, termasuk juga soal HAM di dalamnya. Problem baru akan muncul dan seakan-akan jauh lebih berbahaya ketimbang gagasan demokrasi formal dan konstitusional, ketika pembahasannya bersinggungan dengan hadir perempuan dalam gagasan itu. Islam tiba-tiba lahir kembali menjadi sangat tidak berwajah kasih sayang, kehilangan ruh rahman dan rahimnya.

Hal ini sesungguhnya tidaklah sulit dipahami, jika problem terbesar dalam pembahasan norma-norma Islam justru ketika mendiskusikan mengenai eksistensi perempuan itu sendiri. Perubahan-perubahan fundamental yang diusung pada awal pembentukan Islam memang kebangkitan kaum perempuan itu sendiri. Lihat saja, berbagai problem yang disebutkan oleh kaum muda NU ini, sangat terkait dengan isu-isu perempuan. Progresivitas Islam dalam memberikan hak mendapatkan waris, yang sebelumnya, tidak saja tidak mendapatkan waris, tetapi bisa menjadi harta waris itu sendiri dan hak untuk bisa menjadi diterima kesaksiannya.

Agenda yang mesti sekarang didialogkan dengan seluruh kebesaran berpikir, adalah bagaimana kita memahami konsep gradual (tadrij) yang sudah dikembangkan pada masa awal Islam, bisa terus berkembang dan diterapkan di zaman kekinian, sehingga Islam tetap tampil sebagai pengkonstruksi wacana dan sosial, tetapi dengan memperkuat berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: