Perkuat Perspektif Jender dan HAM: Perlu Kesatuan Visi Tangani HIV-AIDS

SLEMAN, KOMPAS – Perspektif jender dan hak asasi manusia perlu lebih banyak dilibatkan dalam upaya-upaya penanganan HIV/AIDS di masyarakat. Melalui kedua perspektif ini, stigma-stigma negatif dari masyarakat yang masih melekat pada orang dengan HIV/AIDS atau ODHA perlahan- lahan dapat dikikis.

Wacana itu mengemuka dalam diskusi buku Jurnalis Memandang Perempuan di Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerbitan Yogyakarta (LP3Y), Sabtu (25/8), yang menghadirkan Direktur Pelaksana Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DI Yogyakarta Mukhotib sebagai pembicara.

“Perspektif jender dan HAM ini sangat penting untuk mengubah konstruksi berpikir masyarakat sehingga upaya penanganan HIV/AIDS bisa masuk lebih jauh pada pembentukan cara pandang yang dapat berperan menghapus stigma negatif pada orang dengan HIV/AIDS,” kata Mukhotib.

Pendekatan ini diperlukan karena penanganan HIV/AIDS tidak hanya menyangkut persoalan medis semata, namun juga persoalan kultural. Stigma-stigma negatif yang disandangkan masyarakat pada ODHA tidak akan hilang hanya dengan penyuluhan-penyuluhan ataupun penanganan medis pada penderita, tanpa adanya perubahan cara pandang dengan tetap menghargai aspek budaya di masyarakat. Sama visi

Dalam menjalankan strategi berperspektif jender dan HAM ini diperlukan kesamaan visi dari berbagai lembaga yang terlibat di dalamnya. Mukhotib mencontohkan, aktivis perempuan tidak dapat membatasi geraknya pada isu-isu feminis saja. Mereka juga harus peduli dengan isu-isu HAM lain, misalnya identitas gay.

“Kalau identitas seseorang sebagai gay tidak diterima, ini akan mengakibatkan keterasingan. Untuk menghindarinya, orang itu akan menikah dan mempunyai anak. Ketika hal itu terjadi, kekerasan seumur hidup akan dialami perempuan karena tidak ada cinta dalam pernikahannya,” paparnya.

Perspektif jender juga sangat diperlukan untuk membangun kesadaran masyarakat dalam melindungi perempuan yang sering menjadi korban seksual. Dari penelitian yang ia lakukan pada 15 pekerja seks yang mempromosikan diri melalui iklan di surat kabar, Mukhotib menemukan hanya lima di antaranya yang mensyaratkan pemakaian kondom ketika berhubungan seksual.

“Meski jumlahnya masih sedikit, ini sudah menunjukkan adanya upaya internal dari kelompok risiko tinggi untuk melindungi diri dari HIV/AIDS,” katanya. Di waktu mendatang ia juga melihat pentingnya memosisikan diri dalam memperlakukan ODHA. “Cara pandang ini penting untuk menentukan pendekatan penanganan. Germo, misalnya, ketika dilihat sebagai pelaku yang melacurkan perempuan merupakan musuh. Namun, ia bisa ditempatkan sebagai teman untuk memenuhi hak- hak pekerja seks dalam upaya melindungi diri dari HIV/AIDS,” ungkapnya. (DYA)

Sumber:

http://www.kompas.co.id/kompas%2Dcetak/0708/27/jogja/1041584.htm

Dengan kaitkata , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: