Pasangan Diberi Pemahaman Jender

Yogyakarta, Kompas – Menyikapi pro kontra kondom bagi kaum perempuan, salah satu jalan tengah adalah menanamkan penyadaran pada pasangan mengenai relasi jender, baru kemudian menempatkan kondom perempuan itu menjadi satu dari sekian pilihan alat kontrasepsi yang digunakan.

Pemahaman relasi jender dimaksudkan sebagai penjelasan akan posisi perempuan dan laki-laki berkaitan dengan berbagai keadaan dan perspektif sosial budaya, termasuk di dalamnya agar kaum laki-laki bisa melihat sisi pandang kaum perempuan terhadap alat kontrasepsi.

Demikian disampaikan oleh Mukhotib, Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DI Yogyakarta, di sela-sela acara Diskusi Panel Kondom Perempuan “Menyamakan Visi Merumuskan Strategi” pada Senin (18/6) di LPP Convention Hall, Yogyakarta.

“Aktivis perempuan akan kontra karena melihat hadirnya kondom ini makin menyudutkan posisi tawar perempuan dan membuat perempuan lagi yang malah ditekan. Sementara kaum laki-laki sekali lagi diposisikan untuk lebih enak dan tidak repot,” ujarnya. Lindungi perempuan

Pemerhati HIV/AIDS beranggapan kondom perempuan ini ialah alternatif untuk melindungi kaum perempuan. Ini tatkala sang laki- laki tidak mau tahu atau tidak mau memakai kondom. Padahal, bisa saja pada pasangan, laki-lakinya yang terjangkiti HIV.

“Pemerhati HIV/AIDS juga benar ketika berpendapat perempuan perlu diselamatkan apabila pasangannya sudah kena AIDS. Sebenarnya ini dilematis juga. Namun, daripada yang kena AIDS ada dua orang, kan lebih mendingan satu orang saja,” papar Mukhotib.

Beda pendapat tersebut tidak akan berujung, namun di sisi lain, beberapa saat lagi kondom untuk perempuan jelas akan beredar. Sekarang, di DIY, kondom tersebut memang belum beredar dan dijual di pasaran karena baru ada di sejumlah kalangan tertentu.

“Jalan tengahnya adalah sosialisasi intensif dan informasi tentang relasi jender diberikan. Kaum laki-laki perlu datang dan mengerti bahwa mereka juga tidak bisa memaksakan urusan pemakaian alat kontrasepsi pada kaum perempuan,” katanya.

Berkenaan dengan hal itu pula, PKBI DIY dalam pekan ini memberikan pelatihan terhadap 25 sukarelawan yang nantinya terjun untuk sosialisasi. Sukarelawan tersebut, antara lain, berasal dari unsur instansi, lembaga swadaya masyarakat, hingga masyarakat.

Budi Wahyuni, penggiat kesehatan reproduksi yang menjadi salah seorang pembicara dalam diskusi panel, mengemukakan, ia tidak menolak kondom karena memang perlu. Namun, ia mempertanyakan haruskah perempuan yang menggunakannya. (PRA)

Sumber: KOMPAS 

Dengan kaitkata , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: