Kespro Remaja Kunci Turunkan AKI

YOGYA (KR) – Program desa siaga atau suami siaga yang dicanangkan pemerintah, telah bergeser dari substansi awalnya. Karena desa siaga atau suami siaga pada awal dicanangkan adalah untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) namun kini telah ‘mengemban’ tugas kesehatan pada umumnya termasuk siaga untuk DBD, malaria dan yang lain. Sehingga konsen siaga yang dimaksudkan untuk menurunkan AKI menjadi agak keteteran. Fakta ini menjadi tidak aneh, jika kondisi AKI di Indonesia masih tetap tinggi bahkan tertinggi di ASEAN. Ketua DPD PHD PKBI DIY, Budi Wahyuni MM MA mengemukakan hal tersebut dalam pertemuan sekaligus syawalan PKBI DIY di Wisma Sargede, Minggu (28/10).

Pertemuan membahas pelaksanaan program penguatan komunitas pasangan usia subur (PUS) dan remaja desa untuk advokasi peraturan desa pro-perempuan, penghapusan stigma dan diskriminasi 2007-2009. Menurut Budi Wahyuni, kehadiran program desa siaga dan suami siaga itupun sebenarnya sudah terlambat. “Karena kesiagaan yang mestinya disiapkan benar untuk menurunkan AKI dan meningkatkan kualitas SDM itu dilakukan sejak seseorang belum melakukan hubungan seks. Dengan demikian, intinya adalah kesehatan reproduksi (kespro) remaja menjadi sangat penting,” tambahnya. Pemahaman KRR inilah menurutnya menjadi kunci dari upaya menurunkan AKI di Indonesia.

Sedang Dirpelda PKBI DIY, Mukhotib dalam pengantar program mengingatkan bila gerakan pencegahan HIV/AIDS selama ini masih berdiri sendiri dengan gerakan perempuan. Fakta terakhir inilah yang ditunjukkan dengan munculnya program kondom perempuan yang justru di-launching Komite Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) yang notabene menjadi ujung tombak gerakan pencegahan HIV/AIDS. “Dalam hal ini integrasi antara gerakan pencegahan HIV/AIDS dan grakan perempuan adalah sbuah kerangka solusi strategis bagi pencegahan HIV/AIDS di Indonesia,” tandas Mukhotib.

Menurut Dirpelda PKBI DIY, gerakan pencegahan HIV/AIDS dan gerakan perempuan bagaikan dua sisi mata uang logam. Artinya, gerakan tersebut tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. “Pemisahan dan parsialitas gerakan hanya akan menghasilkan bertambahnya persoalan, peningkatan HIV/AIdS yang tak kunjung menurun, ketimpangan jender yang kian lebar dan posisi perempuan yang kian berisiko,” tambahnya. Dengan kerangka berpikir demikianlah kata Mukhotib, PKBI DIY merasa perlu melakukan proses eksperem,intasi programatik untuk mengintegrasikan pencegahan HIV/AIDS, gerakan perempuan dan HAM, dengan berbasis komunitas desa. Bersama komunitas desa khususnya pasangan usia subur (PUS) dan remaja inilah PKBI DIY ingin mencoba membangun sebuah sistem sosial budaya bagi tersemainya nilai keadilan, keseteraan jender, kewaspadaan terhadap HIV/AIDS, penghapusan stigma dan diskriminasi,” tambahnya. (Fsy)

Sumber:

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=139821&actmenu=36

Dengan kaitkata , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: