Angka Gizi Buruk Masih Sangat Tinggi

Yogyakarta, Kompas – Sebuah penelitian mengungkapkan jumlah ibu hamil di Kabupaten Bantul meningkat dua kali lipat pascagempa. Kenaikan angka ibu hamil itu antara lain diperkirakan karena pasangan suami istri kesulitan memperoleh alat kontrasepsi.

“Pasangan suami istri sukar mencari alat kontrasepsi, seperti suntikan, pil, dan IUD, apalagi banyak puskesmas yang ikut roboh karena gempa,” kata Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta Mukhotib, Jumat (16/3), di Yogyakarta.

Sebelum gempa, rata-rata jumlah ibu hamil per tahun adalah 6.600 orang. Jumlah itu kemudian membengkak menjadi 13.000 orang dan sebagian di antaranya sudah melahirkan.

“Kami akan berusaha melacak dan meneliti apakah bayi-bayi tersebut mengidap kelainan tertentu. Penelitian belum selesai karena belum semua bayi lahir, sejauh ini sebagian bayi yang sudah lahir berukuran kecil,” ujar dosen Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Sunartini Hapsara yang melakukan penelitian itu di Bantul.

Sunartini menduga kenaikan jumlah ibu hamil juga disebabkan karena minimnya fasilitas hiburan pascagempa. Mayoritas ibu hamil berusia antara 20 hingga 35 tahun.

Dikatakan Mukhotib, sebagian masyarakat Bantul bahkan masih mengharamkan penggunaan alat kontrasepsi. Pembagian kondom yang banyak dilakukan oleh PKBI juga kurang efektif karena citra kondom di kalangan masyarakat tidak begitu bagus.

“Jika pakai kondom, mereka takut dicurigai sering main perempuan atau terkena AIDS. Padahal, kondom adalah salah satu bentuk tanggung jawab laki-laki atas kesehatan alat reproduksi perempuan,” ujar Mukhotib.

Selain itu, rendahnya perekonomian masyarakat membuat mereka tak lagi mampu membeli alat kontrasepsi. Hal ini semakin parah sejak pemerintah menggulirkan program KB Mandiri. Mukhotib menyarankan, pemerintah harus kembali melakukan subsidi KB bagi warga kurang mampu.

Kepala Dinas Kesehatan DIY Bondan Agus Suryanto mengaku khawatir terhadap kesehatan para ibu dan anaknya. “Ini semacam bom bayi pascagempa. Kami sangat takut bayi kurang gizi, anemia, dan sakit kulit,” tutur Sunartini.

Apalagi angka anemia dan gizi buruk pada ibu hamil masih sangat tinggi. Sebelum gempa, 60 persen dari ibu hamil di DIY mengidap anemia dan gizi buruk. “Kemungkinannya angka ini akan lebih banyak lagi,” ujar Bondan. Tak menduga

Bondan sama sekali tidak pernah menduga akan terjadi ledakan angka kehamilan. Hamil dalam situasi pascagempa yang belum sepenuhnya pulih, lanjut Bondan, akan memberi beban tambahan bagi kaum ibu.

Untuk itu, pengawasan kesehatan terhadap para ibu perlu digencarkan. Pemerintah, lanjut Sunartini, harus mengoptimalkan fungsi puskesmas dan posyandu untuk memantau kesehatan ibu dan anak.

Peningkatan kehamilan yang tinggi harus diimbangi kebijakan ekonomi yang berpihak pada masyarakat kecil. “Minimal harus memerhatikan perempuan hamil agar melahirkan generasi yang cerdas,” ucap Mukhotib.

Bondan berjanji akan memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi ibu hamil. Dinas Kesehatan DIY juga akan memberikan pelayanan pemeriksaan gratis bagi mereka yang tergolong tidak mampu. (AB9)

Sumber:

http://www.kompas.co.id/kompas%2Dcetak/0703/17/jogja/1035007.htm

Dengan kaitkata , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: