Mereka di Balik Wajah Femina

Pengantar

Saya sudah berniat menulis untuk 35 tahun majalah Femina, terutama dari cara pandang feminst-kritis. Sayang, saya tidak memiliki waktu cukup untuk membaca beberapa edisi majalah ini, karena keterbatasan waktu yang saya miliki. Tetapi, akhirnya, saya menemukan tulisan Mbak Ninuk (KOMPAS). Memang tidak seperti yang inginkan, hanya saja, dengan memuat tulisan ini, saya merasa sudah turut manghayobagyo.

Rabu tanggal 31 Oktober malam akan berlangsung pesta kebun untuk,merayakan 35 tahun keberadaan majalah “Femina”. Tempatnya di TamanPesona Monas, Jakarta Pusat.

Pilihan tepat tersebut tidak terlalu mengejutkan meskipun mungkin apat membuat penerima undangan ikut berharap semoga pada malam itu ujan tidak turun. Pakai pawang hujan…,” canda Petty S Fatimah, Pemimpin Redaksi Pemred) Femina, Kamis (25/10) siang.

Pilihan tempat seperti Taman Pesona menggambarkan majalah yang enyelenggarakan perhelatan ulang tahunnya di sana. Femina dapat ikatakan memelopori majalah perempuan dengan mottonya dari wanita, ntuk wanita, dan oleh wanita ketika lahir 18 September 1972.

Femina mampu bertahan meskipun berbagai majalah baru lahir, termasuk aat majalah waralaba dari luar negeri hadir di sini, televisi endominasi dunia media massa, dan kemudian disusul internet.

Ada empat sosok perempuan yang membentuk Femina hingga saat ini. Mirta artohadiprodjo dan Widarti Gunawan mendirikan majalah ini dan erturut-turut mereka bergantian menjadi pemred, masing-masing selama 10 tahun dan 17 tahun. Setelah itu Dewi Dewo mengemudikan Femina 1999-2002), disusul Petty dari 2002 hingga sekarang.

Ketika mengenang kembali kelahiran majalah ini, Mirta menyebut para pendirinya—satu- satunya pendiri yang tidak lagi ada di Femina adalah Tika Makarim—sama sekali bukan wartawan profesional ketika itu.

“Kalau diingat lagi, terbitan waktu itu jadi terasa primitif dibandingkan dengan sekarang. Saat itu tidak ada model, tidak ada cukup perancang yang bajunya bisa ditampilkan di rubrik mode,” kata Mirta di kantor Femina Group di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Kenekatan mereka lebih didorong kebutuhan akan bacaan yang memahami aspirasi perempuan muda kelompok menengah yang terdidik. Itulah kelompok sosial dari mana para pendiri Femina lahir.

Bacaan untuk perempuan yang ada saat itu adalah Waspada di Medan dan keluarga di Jakarta.

“Tetapi, konsepnya belum modern. Masih campur dari urusan anak sampai nenek dan cucu,” kata Widarti.

Wartawan salon

Bila sekarang Femina sebagai majalah mingguan bertiras 135.000 eksemplar berani menyebut dirinya sebagai majalah “gaya hidup masa ini”, Mirta dan Widarti mengatakan mereka sempat tidak berani keluar rumah ketika majalah mereka pertama kali terbit. Nyatanya Femina edisi pertama yang terbit 20.000 eksemplar itu mendapat sambutan cukup baik.

“Femina pertama greng di masyarakat karena cover-nya berwarna,” kata Mirta tentang majalah yang awalnya terbit bulanan itu.

“Saya terinspirasi gerakan women’s liberation di Amerika yang menginginkan kesetaraan. Tetapi, kami bukan yang bra burning,” kata Mirta. Kesetaraan itu diartikan sebagai memberi kesempatan yang sama kepada perempuan untuk berkarier dan punya penghasilan sendiri dan saling berbagi antara suami dan istri.

Membuat majalah itu terbit ajek dengan waktu terbit yang teratur ternyata perjuangan besar. Ketiadaan wartawan membuat artikel mereka saat itu banyak merupakan terjemahan. Penulis profesional pertama di majalah ini adalah Ana Massie yang bergabung sejak terbitan ketiga. Reporter pertama adalah Noesreini yang masih menjadi mahasiswa tingkat
terakhir di Universitas Padjadjaran.

Gambar sampul pertama Femina, yaitu seorang perempuan dengan 10 tangan yang menggambarkan multiperan perempuan di ruang domestik dan publik, menurut Mirta, terinspirasi majalah Ms. dari Amerika Serikat yang
banyak membahas isu kesetaraan.

Keempat Pemred Femina siang itu saling berbagi cerita, tentu saja pengalaman yang disampaikan Mirta dan Widarti mewarnai percakapan siang itu karena mereka memang mengemudikan sebagian besar perjalanan Femina.

Bukan hanya tidak ada wartawan, lingkungan pendukung untuk pengisi majalah pun belum tersedia. Maka, teman-teman pun menjadi pendukung yang diandalkan.

“Cari baju untuk mengisi halaman mode sulit, karena itu pinjam dari teman-teman. Kami datangi teman-teman yang pulang dari luar negeri dan kami pinjam baju yang mereka beli di sana,” kata Mirta. Yang jelas, Femina tumbuh bersama industri lain yang mendukungnya, yaitu bisnis mode dan kecantikan serta biro iklan.

Itu sebabnya Femina lalu mengadakan Lomba Perancang Mode untuk perancang muda. Lahirnya perancang muda yang dimaksudkan untuk mengisi lembar mode majalah itu ternyata menghasilkan perancang Indonesia, antara lain Chossy Latu, Itang Yunasz, dan Carmanita.

Salah satu yang masih dikenang Widarti adalah julukan wartawan salon. Mereka dianggap bukan wartawan betulan karena cantik, wangi, dan tidak ke “lapangan”.

“Waktu itu sangat sedikit wartawati. Itu pun tidak tertarik pada isu perempuan,” cetus Widarti. “Kami diketawa-ketawain oleh masyarakat dan para suami. Maklum, waktu itu membahas gaya hidup masih hal yang sangat baru. Pers saat itu kan masih pers perjuangan,” kata Widarti.

Meskipun pernah diberi label “salon”, nyatanya Widarti berhasil mewawancarai Aung San Suu Kyi yang menjadi tahanan rumah junta militer di Myanmar. Femina juga menurunkan serial tulisan mengenai tokoh Petisi 50 Ali Sadikin dan Xanana Gusmao yang ditahan di Jakarta ketika media lain tidak ada yang berani menulis. Beberapa wartawannya juga mendapat penghargaan Adinegoro dan penghargaan jurnalistik lainnya.

Berubah

Zaman berubah, kebutuhan pun berubah. “Yang dilakukan Femina adalah kesadaran pemberdayaan perempuan bahwa sesama perempuan bisa saling menguatkan,” kata Dewi Dewo.

Maka, Femina pun masuk ke isu-isu seperti bagaimana menghadapi kekerasan dalam rumah tangga, juga membahas isu poligami. “Kami anti terhadap poligami, tetapi terbuka terhadap pandangan yang berbeda. Pembaca akan ambil kesimpulan sendiri,” ujar Widarti.

Petty menyebut, kini kehidupan berarti kompetisi yang keras. “Sekarang yang dibutuhkan pembaca adalah mencari keseimbangan dalam hidup yang lebih mendalam. Itu artinya mereka ingin mengembangkan diri lebih jauh lagi, tetapi hal itu membawa konsekuensi lebih besar,” kata Petty.

Bila 35 tahun lalu perempuan masih bingung ketika mulai melangkah ke luar rumah, sekarang mereka ternyata ingin tahu lebih banyak mengenai isu perempuan dan isu nasional, mulai dari masalah politik, hukum, sampai pemanasan global dan dampaknya terhadap kehidupan anak-cucu.

“Salah satu yang menarik juga adalah kebutuhan yang tinggi tentang pengetahuan sebagai wirausaha. Banyak pembaca yang merasa sudah cukup berkarier di tempat kerja lalu ingin berusaha sendiri dari rumah. Mereka ingin menyeimbangkan antara karier (dari rumah) dengan mengurus keluarga,” tambah Petty.

Seksualitas pun kini dibicarakan dengan lebih terbuka. “Perempuan juga ingin tahu apa yang ada dalam pikiran laki-laki,” kata Petty.

Femina mungkin akan tetap dicari karena dia berangkat dari pengalaman dan sudut pandang perempuan Indonesia. Dan dia tetap akan mempertahankan posisinya sebagai majalah perempuan kelas menengah yang dapat diletakkan di ruang keluarga.

Oleh Ninuk Mardiana Pambudy, wartawan KOMPAS


http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0710/ 28/urban/ 3947135.htm

Dengan kaitkata , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: