Tukang Cukur dan Editor

Hampir dapat dipastikan, kita semua mengenali apa yang dilakukan tukang cukur. Ia memangkas rambut agar menjadi rapi, menarik, dan tentu saja, enak dipandang. Perjalanannya menjadi seorang ahli cukur, jelas membutuhkan waktu lama. Selain itu, juga dilakukan secara terus menerus, mungkin juga setiap saat. Saya teringat kepada teman di pesantren dulu, ia sangat berkeinginan untuk bisa mencukur. Hampir setiap hari, ia meminta kepada teman-teman, agar bersedia dicukur. Selalu begitu.Perkembangan selanjutnya, pekerjaan mencukur tidak saja dengan obyek rambut, tetapi juga rumput, pohon-pohon perdu, kesemuanya agar menjadi indah. Pekerjaan yang juga tidak berbeda, hanya dengan obyek yang berbeda, “rangkain kata-kata”. Seseorang yang hendak menjadi editor, dengan demikian, berlatihlah mencukur kata-kata. Terus menerus, setiap hari. Jika perlu, tawarkan jasa kepada teman-teman, untuk mengedit tulisannya.

Perbedaan yang lain, perbekalan. Tukang cukur membutuhkan bekal ‘unduk’, gunting, sisir, pisau cukur, bedak, dan juga model tata rambut—ini diandaikan tukang cukur tradisional, lho. Sementara editor membutuhkan perbekalan yang berbeda, karena obyek yang berbeda pula. Pertama, seorang editor membutuhkan bekal pemahaman terhadap persoalan-persoalan di sekitar tulisan yang hendak dicukur. Perbekalan ini dimaksudkan agar seorang editor juga memahami dengan benar, arah dan keinginan dari tulisan itu. Sehingga tulisan memang sungguh-sungguh akan bertambah menarik.

Kedua, seorang editor membutuhkan kepastian pilihan bahasa yang hendak digunakan. Jika membaca media cetak, bisa koran, tabloid, majalah, jurnal dan juga buku, seorang editor pasti bisa merasakan perbedaan-perbedaan bahasa yang digunakan. Berbeda lagi, jika majalah—misalnya—yang diperuntukkan untuk orang dewasa, remaja, dan anak. Ini yang dimaksudkan dengan memiliki kepastian pilihan bahasa.

Ketiga, seorang editor membutuhkan pemahaan terhadap struktur kalimat. Secara sederhana, setidak-tidaknya memahami mana subyek, predikat dan obyek. Hal ini penting, karena dalam sebuah kalimat memang harus ada unsur, minimal subyek predikat, sehingga akan bisa dipahami. Pengembangannya tentu saja, tentang kata sifat atau kata keterangan waktu dan tempat.

Keempat, seorang editor membutuhkan kemampuan berkaitan dengan cara penulisan kata, termasuk kata baku dan tidak baku. Berkaitan dengan kemampuan ini, adalah penggunaan kata sambung. Meskipun, hal ini menjadi tidak begitu berguna, manakala pilihan gaya bahasa yang digunakan adalah bahasa gaul.

Kelima, seorang editor membutuhkan ketelatenan untuk membaca tulisan-tulisan yang sudah dimuat dalam sebuah media cetak. Karena tulisan-tulisan itu, seburuk apa pun sudah memasuki proses editing. Pembacaan tulisan orang lain ini akan berguna untuk memahami bagaimana editor lain melakukan pekerjaannya dengan baik.

Pada akhirnya, seorang editor, akan mengandalkan batinnya, apa yang disebut dengan ‘rasa bahasa’. Keterus-menerus-an melakukan editing, akan menumbuhkan sebuah sensitivitas terhadap bahasa.

Dengan kaitkata , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: