Isu-isu Jender dalam Islam

Melihat fikih perempuan, kita bisa melakukan klasifikasi isu-isu jender dalam Islam. Pertama, isu fikih personal, menyangkut penciptaan manusia, fitnah perempuan, anjuran khitan, anjuran aqiqah, anggapan perempuan kurang akal dan kurang agama, mengumandang­kan azan dan iqamah, salat jumat, dan imam salat jamaah. Kedua, isu fikih interpersonal, seperti memilih dan menentukan pasangan, melangsungkan akad nikah, monogami-poligami, mengurus keluarga, melakukan dan menikmati hubungan seksual, menentukan kehamilan, menceraikan pasangan, dan kewajiban suami istri. Ketiga, isu antarpersonal, misalnya kesaksian, kepemimpinan politik, pembagian warisan, larangan pergi keluar rumah, konsepsi mar’ah salihah, mahram perjalanan, aktivitas publik, sosial, politik  dan ekonomi.

Kesemua isu itu paling sering dilihat dalam pembicaraan fikih perempuan. Misalnya, ayat yang mengatakan, perempuan fitnah. Kalau tidak dikaitkan dengan realitas turunnya (asbab al Nuzul), akan sangat bermakna misogonis. Padahal fitnah yang dimaksud dalam ayat ini bukan hanya perempuan, ayat juga mengatakan, laki-laki fitnah, kekuasaan fitnah, harta fitnah. Karena perempuan dianggap fitnah, dalam fikih muncul banyak undang-undang bagi perempuan, misalnya, tidak boleh bersuara keras, bepergian sendiri, imam salat, pemimpin/khalifah, dan keluar rumah. Berkaitan dengan khitan perempuan, menurut fikih Sayid Sabiq, khitan bagi laki-laki karena harus bersih dan hubungan intimnya juga lebih nikmat. Sedangkan dalam khitan perempuan, yaitu klitoris, Nabi mengatakan hati-hatilah mengkhitan perempuan. Perempuan itu menjadi makramah kalau dikhitan. Mengapa perempuan harus dikhitan, agar nafsunya tidak tinggi, dan kenapa perempuan tidak boleh adzan, karena fitnah. Nabi tidak pernah menganjurkan itu, kecuali hanya anjuran fikih, karena membaca ayat, perempuan fitnah.

Contoh lain, ayat yang berkenaan dengan poligami, terutama Surah al Nisa’ ayat 129. Kata al Nisa’ dalam ayat ini dalam terjemahan Departemen Agama diartikan sebagai istri-istri. Bagi yang senang dengan poligami akan setuju dengan penerjemahan ini, dan bagi aktivis akan dikatakan sebagai ayat misoginis. Tetapi jika diterjemahkan dengan perempuan, ayat tersebut akan dikatakan tidak misoginis. Interpretasi tentang adil dalam ayat di atas, bagi orang-orang yang anti poligami, dengan mengatakan, ‘kalau tidak adil, maka tidak boleh poligami.’ Tetapi kalau mereka yang pro poligami, mengatakan, ‘kalau tidak bisa adil, maka tidak usah berbuat adil.’ Ini adalah problem bagaimana kita menghadapi sebuah teks Alquran.

Dari sisi hadits cukup banyak bisa disebutkan. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita mendialogkan dengan realitas. Nabi melakukan poligami, tetapi Nabi juga pernah sakit hati karena poligami, ketika Ali mau poligami. Fatimah mengadu pada Nabi kalau dia tidak rela, sakit hati karena Ali mau nikah lagi. Kemudian Nabi mengatakan, ‘barang siapa menyakiti putriku, maka sama dengan menyakitiku.’ Tetapi orang yang pro poligami menganggap sebagai hadits khususiyah. Artinya, hanya Nabi yang boleh berkata begitu, melakukan hal itu. Yang lain tidak boleh.

Contoh lain, ayat terpanjang dalam Alquran tentang hutang. Dalam ayat itu dijelaskan, kalau kalian melakukan hutang-piutang, maka faktubuhu, catatlah. Kalau melihat sighat-nya, bentuknya menjadi wajib. Tetapi karena bukan prinsip, maka jika tidak ada kepercayaan dalam hutang-piutang itu, maka menjadi wajib, tetapi jika ada kepercayaan maka menulis menjadi tidak wajib. Para ulama tidak ada yang berani mengatakan menulis dalam hutang-piutang wajib, karena bukan prinsip.

Dengan berbagai pandangan di atas, kita dituntut untuk berfikir dan melihat persoalan secara komprehensif. Ini adalah ruang pertarungan wacana bagi para pemikir. Kita harus punya argumentasi yang kuat. Dalam melihat fikih harus menggunakan banyak metode, harus masuk dari berbagai pintu agar pendekatan terhadap perempuan tidak sepihak. Kita harus menyatakan itu sebagai sebuah kebenaran dengan merujuk pada realitas. Dan kita juga harus memiliki keberanian untuk mengatakan dan menggugat.

 

*Diolah dari transkripsi ceramah Faqihuddin Abdul Kodir dalam Belajar Bersama ‘Islam dan Gerakan Perempuan’, tanggal 17-26 Juli 2003 di Wisma Sargede Yogyakarta, oleh Mukhotib MD

Dengan kaitkata , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: