Primadona Dagelan Itu, Bernama ‘NU’

MUNGKIN hampir tidak pernah terbayangkan oleh kalangan nahdliyin, organisasi mereka akan memiliki daya pikat yang luar biasa dalam proses Pemilu Presiden, 5 Juli 2004. Buktinya, dua tokoh puncak mereka—Hasyim Muzadi dan Sholahuddin Wahid, digandeng menjadi pendamping calon presiden dari dua partai besar pemenang Pemilu Legislatif awal bulan lalu. Jika Pemilu Presiden diibaratkan sebagai pementasan dagelan, NU hadir sebagai primadona menawan, yang diharapkan akan bisa menangguk suara kalangan nahdliyin sebanyak-banyaknya.

Tampilnya NU menjadi primadona dalam pentas dagelan ini, tentu saja bukan tanpa alasan. Sistem pemilihan presiden secara langsung, memaksa partai politik untuk memainkan moda penarikan suara langsung pada tingkat rakyat. Lobby politik dan tentu saja (sangat mungkin) dengan memainkan jurus jitu ‘money politic’ tidak cukup lagi hanya berkutat di gedung DPR. Meski mereka berasal dari proses pemilihan legislatif yang juga dilaksanakan secara langsung, tetapi tidak cukup keyakinan, mereka memiliki kekuatan untuk mendikte rakyat memilih ‘jago’ yang dielus-elusnya. Organisasi-organisasi sosial yang memiliki basis jelas dan loyal, menjadi pilihan utama untuk mendukung agenda-agenda politik pemenangan pemilu presiden.

Pertanyaan kritis yang layak diajukan dalam fenomena politik ini, mengapa partai-partai besar yang tampil sebagai pengumpul suara terbanyak dalam pemilu tersebut, berebut menggandeng ‘NU’? Jawabannya, NU sebagai gerbong sarat penumpang dan kental dengan budaya ‘patron-klien’ merupakan mesin pendulang suara yang efektif. Hanya saja, jawaban ini tentu sangat sederhana dan dangkal karena hanya berorientasi pada nalar pragmatisme. Melainkan ada agenda yang lebih strategis, ketimbang sekedar sebagai mesin pengumpulan suara dalam pelaksana pemilu presiden, karena Partai Golkar dan PDI-P sendiri, sudah terbukti sebagai mesin pendulang suara yang efektif dalam pemilu legislatif yang lalu.

Anti-militerisme

Bergulirnya wacana anti-militerisme, menjelang pelaksanaan pemilu presiden, secara politis sangatlah tidak menguntungkan bagi calon presiden dan wakil presiden yang memiliki latar belakang profesi sebagai militer ataupun yang dikenal memiliki kedekatan dengan militer dalam pengambilan kebijakan selama berkuasa. Berbagai tindakan represif militer dalam peta kekuasaan politik di Indonesia yang dikenal baik oleh rakyat, menjelmakan tentara sebagai simbol kekerasan. Imajinasi rakyat tentang militer identik dengan kekerasan akan muncul menjadi bumerang bagi capres dan cawapres berlatar belakang militer. Bahkan, kekhawatiran ini juga meluas kepada capres atau cawapres yang diduga oleh rakyat memiliki deal-deal politik dengan militer.

Bagi Wiranto, misalnya, gerakan anti-milter akan sangat serius memiliki dampak perolehan suara yang akan ditangguknya nanti. Terlebih, dirinya juga dibelit oleh berbagai persoalan yang berkait dengan pelanggaran HAM, seperti yang dituduhkan pengadilan Timor Timur beberapa waktu lalu, selain persoalan pelanggaran HAM yang lain di Indonesia. Bagi Megawati sendiri, bayangan kegagalan menyelesaikan persoalan-persoalan rakyat selama masa kekuasaannya, merupakan persoalan tersendiri, belum lagi banyaknya kader-kader di tingkat arus bawah yang merasa kecewa terhadap kepemimpinannya. Persoalan lain yang berkait dengan Megawati, misalnya, kedekatannya dengan militer akan mengancam perplehan suara dari luar partainya—walaupun dari partainya sendiri belum bisa dipastikan memilih secara keseluruhan. Masih segar dalam ingatan, bagaimana Megawati membuka kembali distrik militer di Aceh, setelah jalan yang ditempuh Abdurrahman Wahid—ketika menjadi presiden—menghapuskannya, untuk percepatan jalan damai konflik di Aceh.

Dalam konteks pemajuan HAM, Megawati juga menjadi sorotan serius karena dinilai tidak sungguh-sungguh dalam upaya penegakan HAM di Indonesia. Sorotan media yang paling kuat, manakala Megawati turut berbicara dalam forum refleksi kasus Semanggi, karena dirinya sama sekali tidak menyinggung soal tindakan hukum bagi para pelanggar HAM. Meskipun sebagai presiden yang berjenis kelamin perempuan, Megawati tampaknya juga akan sulit untuk mendapat dukungan suara dari gerakan perempuan di Indonesia. Karena selama masa kekuasaannya, hampir tidak ada prestasi yang signifikan untuk pemajuan Hak Asasi Perempuan. Upaya-upaya untuk meng-goal-kan RUU Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), misalnya, tidak serius ditunjukkan, sehingga sampai masa kekuasaannya, dapat diduga tidak akan kelar menjadi UU.

Mesin Pencuci

Gambaran persoalan yang dihadapi oleh Wiranto dan Megawati di atas, meyakinkan kita, penggandengan dua tokoh elite NU itu, tidaklah semata-mata mendulang suara. Lebih jauh dari itu, NU dijadikan sebagai mesin pencuci yang efektif untuk mendapatkan legitimasi dari kalangan nahdliyin, dalam upaya menepis berbagai persoalan yang mengadang Wiranto dan Megawati. Legitimasi moral (baca: dukungan) dari kiai-kiai NU akan sangat berarti bagi Wiranto dan Megawati untuk merebut kursi kepresidenan. Untuk sementara, Megawati tampaknya sudah menuai keuntungan dari strategi ini, dengan munculnya pernyataan 200 ulama Jawa Timur kepada pasangan Megawati-Hasyim Muzadi, merupakan prestasi yang tampaknya sudah awal-awal didapatkan Megawati. Pernyataan ini sangat strategis, karena dalam konteks NU Jawa Timur masih dianggap sebagai kiblat organisasi yang sedang bingung dengan konsep Khittah 1926-nya. Sebelumnya, sebuah hajatan juga telah dilakukan di Tasik Malaya—daerah asal KH Ilyas Ruchiyat mantan Rais ‘Am NU, yang juntrungnya juga mendukung pasangan Megawati-Hasyim Muzadi.

Jika NU benar-benar berfungsi sebagai mesin pencuci, yang kalangan nahdliyin melihatnya sebagai primadona dalam pentas dagelan ini, maka perjalanan Wiranto dan Megawati akan mulus-mulus saja. Pasalnya, suara-suara Islam di luar NU dalam posisi yang terberai, yang berkemungkinan terbagi untuk Amien Rais, Hamzah Haz dan Susilo Bambang Yudoyono. Tetapi, diakhir permainan, ternyata SBY-JK, yang memenangkannya. Saya yakin, NU meski demikian, tetap menjadi primadona permainan demokratis ini.***

Dengan kaitkata , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: